Malam ini penuh kerisauan. Raihan mulai mabuk-mabukkan lagi di tempat kostnya. Entah apa gerangan yang membuatnya mengulangi perangai lama itu.
“Han,
han...Sudah!! Jangan kau mabuk lagi. Ingat ibumu di kampung!” Larang Bagus.
“Diam
Gus!” Marah Raihan padanya.
Botol
vodca yang masih tinggal setengah
botol langsung disimpan Bagus tanpa minta izin dulu pada Raihan. Bagus sangat
baik pada Raihan. Ia takut jika tiba-tiba polisi datang ke kostnya. Ia tak
menginginkan Raihan terjebak lagi akan sikap bodoh sahabatnya itu. Mereka
sama-sama satu fakultas di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Lampung. Sejak
awal kuliah hingga sekarang mereka akrab berteman bahkan sekarang masih tetap
satu kost. Namun, Raihan sangat mudah terpengaruh dengan teman-teman kuliahnya
yang hobi minum minuman keras itu. Ia tak menyadari bahwa ia berasal dari
keluarga menengah ke bawah. Teman-temannya kebanyakan anak orang berada. Tentu mereka
bisa berperilaku seenaknya saja. Menghambur-hamburkan uang dan malas kuliah itulah
kerjaan mereka. Mereka tak terlalu memikirkan bagaimana orangtua mereka mencari
uang di kampung. Berbeda dengan Raihan berasal dari keluarga yang sangat
sederhana.
***
Hampir
tiap malam Raihan ugal-ugalan dengan teman-temannya. Kadang ke kafe, main kartu
dan batu domino di kedai sebelah kost bersama teman-temannya. Mereka adalah
mahasiswa yang hampir serupa perilakunya dengan Raihan. Kuliahpun mulai
berantakan. Ia terbawa kesenangan dunia. Pernah suatu hari ia tak mengerjakan
tugas kuliah diusir keluar oleh dosennya.
“Raihan,
mana tugasmu?” Tanya Pak Anto tegas. Pak Anto yang dikenal kiler di mata
mahasiswa sering membuat mahasiswa menggigil. Sekali tidak membuat tugas ia langsung
mengasih nilai E alias gagal di lembar hasil studi tiap semester.
“Tinggggaaallll...Pak.”
Ucapnya cemas. Terlihat aura pucat di wajah Raihan saat itu.
Pak
Anto pun naik pitan kala itu sehingga sampai mengusir Raihan. Minggu sebelumnya
ia juga tidak mengerjakan tugas. Padahal mata kuliah itu adalah mata kuliah
yang akan menunjang keterampilan pada jurusan yang ia pilih.
“Keluar
saudara! Saya tidak suka dengan mahasiswa yang pemalas.” Usir Bapak berkaca
mata itu. Bersimpuh malu Raihan di hadapan teman-temannya. Ia pun keluar tanpa
pamitan. Menghibur hati yang sedang galau ia pergi ke kantin belakang kampus.
Di
kantin itu ia bertemu dengan teman-teman yang juga sering mengajaknya main
judi, minum bir dan sebagainya.
“Woi
bro!! Kenapa lu?” Tanya Moldy teman bermain Raihan yang juga satu fakultas
dengannya.
“Ahhh,
gak apa-apa bro.” Jawabnya pura-pura.
“Hahai....”
Sanggahnya. Meminum teh susu panas mencekik suasana yang semula galau menjadi
agak riang. Moldy dan Toni yang berada di depannya hendak mengajak Raihan nanti
malam ke sebuah diskotik. Namun, mereka tidak mau menyebutkan ke mana ia akan
diajak nanti malam.
“Bro,
ntar malam jalan yuk!” Ajaknya.
“Kemana?”
Balasnya heran.
“Tunggu aja nanti malam bro..” Yakinnya.
“Ok dah bro.” Katanya setuju.
***
Malam
pun tiba, kemudian mereka menjemput Raihan ke kost. Waktu itu Bagus sedang
mencuci pakaian. Raihan yang kelihatan mau pergi keluar. Sempat mengundang
pertanyaan Bagus.
“Kemana
Han?” Tanyanya sambil mencuci pakaian di kamar mandi.
“Aku
keluar bentar Gus. Mungkin pulangnya agak kemalaman.” Balasnya santai.
“Iya
Han, hati-hati aja.” Pesannya.
“Ya
Gus, thank you.”
Raihan
dan Bagus dua orang teman yang sangat akrab. Namun, sejak semester dua ia mudah
diajak oleh teman-temannya. Ditambah lagi kebiasaan buruknya yang pernah minum
minuman keras sejak Sekolah Teknik Mesin (STM) beberapa tahun yang lalu yang
akan memperparah dirinya. Ia memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan
teman-temanya itu. Terkadang Bagus juga sering mengajaknya ke luar. Namun, ia
lebih memilih teman-temannya itu. Uraian sedih yang Bagus rasakan di saat ia
tak mau menerima ajakannya.
“Tit,
tit, titt...” Bunyi klakson dua sepeda motor yang menghampiri kost Raihan. Merekapun
pergi ke sebuah tempat. “Kemana kita sekarang bro?” Tanyanya. “Lihat aja
nanti.” Jawab Moldy. Mereka pergi bertiga. Raihan kebetulan bergoncengan dengan
Moldy. Sedangkan Toni sendirian. Mereka sering keliuran keluar malam. Tak hanya
mabuk-mabukan. Judi sering melakukan. Batu domino menjadi saksi bisu tingkah
mereka.
Tibalah
mereka di sebuah tempat penuh kegerlapan. Diskotik Guide 56 namanya. Banyak pemuda dan pemudi yang berpakaian tak
senonoh berada di sana. Terlihat susunan botol-botol miras dengan macam-macam
merek terpajang rapi di bar itu.
“Kamu
minum apa?” Tanya Toni.
“Aku minum jus lemon aja.” Pintanya.
Sebenarnya
untuk ke diskotik baru sekarang ia datangi. Biasanya ia tak pernah ke tempat
itu. Minuman keraspun kadang ia beli dengan patungan bersama temannya.
Mereka
duduk sambil bercerita-cerita di sana. Di tengah pembicaraan berdering handphone nya. “Siapa ini? ganggu orang
aja.” Ucapnya dalam hati. Dilihatnya, ternyata sang ibu hendak meneleponnya.
Merasa terganggu ia matikan segera deringan telepon itu. Itulah Raihan seperti
tak memiliki hati lagi. Candu senang sudah menghantarinya pada gerbang
kedurhakaan.
Secara
diam-diam Moldy memegang kotak rokok. “Yuk, hisap bro.” Ajak Moldy sambil
meletakkan kotak rokok itu di atas meja. Mereka hisap bersama. Raihan sempat
menolak. Namun, mereka tetap juga maksa. Akhirnya ia menghisap rokok itu.
Raihan merasakan suatu agak berbeda daripada rokok yang biasa ia hisap. Baru
satu hisap aja ia gak betah. Sedikit mual. Itulah alasannya ia membuang rokok
itu di bawah sudut meja. Nah, tak disangka itu adalah ganja kering yang dikemas
dalam bentuk rokok. Sengaja mereka mengajak Raihan ke diskotik. Mereka
menganggap Raihan mudah untuk diajak melakukan berbagai hal terlarang itu.
***
Tak
disangka tiba-tiba, datang polisi bergerombolan membawa beberapa senapan api.
Diskotik Guide 56 sudah lama
diincar-incar polisi. Karena pernah dapat sogokan dari pengusaha diskotik itu
akhirnya kedatangan mereka sempat tertunda. Diskotik itu penuh dengan minuman
keras dan pasangan muda-mudi yang mencari hiburan di kegemerlapan malam. Mereka
yang datang ke sana kebanyakan orang yang sudah bekerja dan ada juga mahasiswa.
“Angkat
tangan! Jangan ada yang keluar.” Ucap salah seorang polisi bertubuh tinggi itu.
Suasana
yang tadi brisik berubah sunyi. Diperiksanya satu persatu pengunjung diskotik
itu. Ternyata ada beberapa orang yang kedapatan menyimpan sabu dalam tasnya.
Selanjutnya giliran Raihan, Moldy dan Toni. Diantara mereka Toni yang duluan
diperiksa. Polisi menemui beberapa batang rokok ganja kering di saku celana jeans nya. Selanjutnya, giliran Moldy yang
kedapatan satu batang ganja kering di selip sandalnya. Raihan yang paling
terakhir polisi tidak menemui barang haram itu di seluruh pakaian yang
terpasang di tubuhnya. Semua
tersangka dan barang bukti dibawa ke kantor polisi. Meskipun polisi tak menemui barang haram itu. Raihan masih belum
bisa tenang. Polisi akan menguji urin semua tersangka termasuk Raihan. Sembari
menunggu hasil tes urin. Semua tersangka diinapkan di sel tahanan sementara.
Besok
paginya sekitar jam 9 tiap tersangka dipanggil satu persatu. Polisi hendak
memberitahu pada setiap tersangka. Alhasil Raihan negatif. Ini pertanda polisi
tak menemui Raihan mengkonsumsi barang haram itu. Mungkin kesaksian saja yang
diminta polisi padanya. Ini sebuah keajaiban pada Raihan. Biasanya orang yang menghisap
ganja sedikit saja sudah positif kena. Namun hal ini berbeda yang dialami
Raihan. hasil tes tak membuktikan itu. Ini benar-benar aneh. Sungguh Tuhan
sangat mencintainya. Tak ada yang tak bisa oleh-Nya. Jika Tuhan sudah
berkehendak tak ada yang dapat melarang-Nya.
Subhanallah AlhamdulillahSyukur pada Allah yang menciptakan kita
Seluas lautan
Yang tidak pernah ada tepinya
Itulah nikmat kurnia-Nya selama ini
Sesekali diri diuji
Hingga tak berdaya langkahku
Itu sebenarnya
Nikmat kasih sayang dari-Mu padaku
Di dalam hati yang keresahan
Kau datang menemani
Memberi sinar penuh harapan
Di dalam hati yang kekosongan
Kau isikan kasih-Mu
Agar jadi panduan menerus kehidupan
Doa ikhlas silih berganti
Di hati
Subhanallah Alhamdulilah
Syukur pada Allah yang menciptakan
Terima dengan syukur
Segala pemberian-Nya
Pasti ada kemanisan yang tersembunyi
(Syukur
Pada-Mu by. Hijjaz)
Raihan
pun cukup bahagia itu. Ia sengaja tak menelepon Bagus karena takut Bagus akan shock
jika mendengar kabar buruk itu.
Raihan yang dijebak dalam perkara itu baru bisa pulang ke kost sore harinya.
Kesaksian masih diminta polisi sewaktu-waktu menjelang pengadilan memutuskan
sanksi atas perkara itu. “Terima kasih Tuhan atas pertolonganmu, maafkan daku
yang banyak dosa-dosa ini,” do’anya dalam hati waktu selesai melaksanakan
shalat maghrib.
***
Judul
Lagu : Syukur
Pada-Mu
Penyanyi : Hijjaz
Biodata:
Penulis
bernama Hasan Asyhari. Nama penanya Hasan Al-Faritsi. Ia adalah mahasiswa
jurusan sosiologi FIS UNP. Ia lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Ia
juga aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tulisannya
sering muncul di media cetak dan media online. Selain itu ia juga pernah
menerbitkan buku dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona
Odapus” (2012), Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (2013) keduanya
terbitan FAM Publishing. Ia memiliki
akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com.
Serta akun twitter dengan nama @HasanAsyhari27. Ia beralamat di Desa Baru No.23
RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.