Malam yang sunyi di salah satu
pondok tempat tinggal pelajar khusus putera yang berada di tepi pantai kota Padang.
Wisma 13 namanya. Wisma yang selalu ramai dengan hiruk pikuk suara para pelajar
di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Padang. Malam itu
seperti tak berpenghuni padahal masih ada tiga orang siswa yang masih belum
pulang kampung sebab mengikuti pergi study
tour ke Medan. Wisma itu adalah rumah kontrakan yang dikontrak oleh ketiga
belas orang remaja asal Nias. Ketika warga wisma berkurang 10 orang, hampir
setiap malam suasana wisma terasa asing daripada biasanya.
Romi, Beni dan Rizal. Ketiga remaja itu
biasanya selalu rajin, namun pada malam hari itu ketiganya seolah-olah berbeda
190 derajat dari biasanya. Tiba-tiba ada yang aneh dari ketiga sikap remaja
itu. Romi yang biasa rajin membersihkan kamar atas wisma, malahan tidak mau
membersihkannya. Beni juga biasa mencuci piring di sumur belakang wisma,
terusik rasa ngeri tidak mau menyuci piring kotor dan perlengkapan makan
lainnya. Dan Rizal, sang juru keamanan wisma juga tak mau mondar-mandir lagi ke
lantai atas dan belakang wisma. Entah apa gerangan yang menyebabkan kemalasan
dan ketakutan mereka masing-masing di malam jum’at kliwon nan sunyi di wisma
13.
Malam ini menunjukkan pukul 00.13
WIB, ketiganya hendak tidur di sebuah kamar depan lantai bawah. Ditutupinya
semua pintu dan beberapa gorden pintu sebelum mereka menutupi tubuh dengan
helaian selimut tipis. Pintu kamar saat itu masih belum terkunci, ia kunci
pintu kamar dengan tangan agak menggigil. Beberapa menit setelah itu, listrik
di wisma padam. Tak ada satupun senter dan HP (Handphone) yang bisa dimanfaatkan penghalau gelapnya malam. Namun,
tak terlalu diabaikan. Dibiarkannya listrik mati tanpa mencari sebabnya.
***
Setengah jam kemudian mereka sudah
tidur pulas kecuali Rizal, Rizal yang masih separuh tidur tiba-tiba mendengar
suara dari balik pintu kamarnya.
“Aaaaahhhhhh,,,” bunyi suara dari
arah balik pintu kamar.
“Aaaaaaaaaahhhhhhh,,,” suara itu
makin bertambah panjang bunyinya.
Suara itupun bertambah lama
bertambah panjang bunyinya. Melirik Rizal yang masih belum tidur pulas hendak
mencoba pintu kamar. Lalu dibukanya pintu kamar, ternyata bunyi suara itu tak
terdengar lagi. Rizal yang juga pernah mendengar suara serupa ternyata memiliki
kemampuan melihat makhluk ghoib. Tak puas sampai di luar kamar saja, ia pun
memberanikan diri ke tangga lantai atas wisma. Suara aneh itu muncul kembali,
akhirnya saat membuk pintu ketiga dekat kamar mandi. Ia melihat tiga orang anak
kecil bermuka hancur. Ternyata itu adalah tiga orang anak Jin yang menyerupai
anak kecil yang hendak mengganggu warga wisma. Betapa terkejutnya Rizal saat
itu.
Akhirnya, Rizal juga diberi
kesempatan untuk berbicara dengan ketiga jin yang menyerupai anak kecil bermuka
hancur itu.
“Hei, siapa kamu?” tanya Rizal
dengan nada agak tinggi.
“Aku punya rumah ini,” balas salah satu jin
dengan suara sangat halus.
“Kenapa kalian mengganggu kami?”
tanya Rizal.
“Kita cuma bermain-main saja,”
jawabnya.
“Kalau begitu jangan janggu kami,”
terang Rizal.
“Iya,” jawab jin itu seperti
bersiap-siap hendak pergi.
Akhirnya, Rizal pergi ke lantai
bawah.
***
Di malam berikutnya, tepat pukul
22.30 WIB. Tak ada bunyi suara apapun yang diperdengarkan. Romi yang sedang
mengetik sebuah tulisan sederhana sedang berada di kamar dengan kondisi pintu
terbuka lebar. Tiba-tiba pintu kamar yang dibuka lebar-lebar tertutup dengan
sendirinya. Tak ada langkah yang dilihat, tak ada bayangan bahkan tak ada suara
terdengar yang melewati depan kamarnya. Tak terlalu berpikir panjang Romi saat
itu. “Ya, biar saja. Gak usah dihiraukan,” ucap Romi dalam hati.
Ketiga pelajar SMA asal Nias itu
sudah merasakan hal-hal aneh di wisma 13. Sungguh mencekam malam demi malam
datang ketika wisma lagi sepi. Segelumit kisah malam demi malam di wisma 13
menjadi sebuah cakrawala keyakinan ketiga pelajar itu. Barangkali jimat yang
selalu dipakai Rizal membuat para jin senang mengganggunya dengan kedua orang
teman.
Lalu Rizal menghubungi keluarga yang
ada di Nias dan menceritakan kejadian yang ia dan teman-temannya alami. Ia juga
menyangkut pautkan kejadian-kejadian tersebut dengan jimat berkalung angka 13
yang selalu terpasang rapi di lehernya. Jimat yang ia maksud agar terhindar
dari penjahat tidak selamanya berbuah manis. Akhirnya, orangtuanya yang masih
minim akan pengetahuan agama segera menyuruh Rizal membuka kalung itu dari
lehernya lalu dibuang ke laut belakang wisma 13 itu.
***
Biodata:
Penulis
bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa UNP ini lahir di kota
Padangpanjang, 27 Februari 1992. Tulisannya sudah ada yang dibukukan dalam
berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi
“Kejora Yang Setia Berpijar”
kedua-duanya terbitan FAM Publishing, 2012. Ia memiliki akun Fb dengan
nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com.
Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang,
SUMBAR 27112.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar