Jumat, 29 Maret 2013

FF: Suara Aneh di Wisma 13 (Hasan Asyhari)


            Malam yang sunyi di salah satu pondok tempat tinggal pelajar khusus putera yang berada di tepi pantai kota Padang. Wisma 13 namanya. Wisma yang selalu ramai dengan hiruk pikuk suara para pelajar di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Padang. Malam itu seperti tak berpenghuni padahal masih ada tiga orang siswa yang masih belum pulang kampung sebab mengikuti pergi study tour ke Medan. Wisma itu adalah rumah kontrakan yang dikontrak oleh ketiga belas orang remaja asal Nias. Ketika warga wisma berkurang 10 orang, hampir setiap malam suasana wisma terasa asing daripada biasanya.
             Romi, Beni dan Rizal. Ketiga remaja itu biasanya selalu rajin, namun pada malam hari itu ketiganya seolah-olah berbeda 190 derajat dari biasanya. Tiba-tiba ada yang aneh dari ketiga sikap remaja itu. Romi yang biasa rajin membersihkan kamar atas wisma, malahan tidak mau membersihkannya. Beni juga biasa mencuci piring di sumur belakang wisma, terusik rasa ngeri tidak mau menyuci piring kotor dan perlengkapan makan lainnya. Dan Rizal, sang juru keamanan wisma juga tak mau mondar-mandir lagi ke lantai atas dan belakang wisma. Entah apa gerangan yang menyebabkan kemalasan dan ketakutan mereka masing-masing di malam jum’at kliwon nan sunyi di wisma 13.
            Malam ini menunjukkan pukul 00.13 WIB, ketiganya hendak tidur di sebuah kamar depan lantai bawah. Ditutupinya semua pintu dan beberapa gorden pintu sebelum mereka menutupi tubuh dengan helaian selimut tipis. Pintu kamar saat itu masih belum terkunci, ia kunci pintu kamar dengan tangan agak menggigil. Beberapa menit setelah itu, listrik di wisma padam. Tak ada satupun senter dan HP (Handphone) yang bisa dimanfaatkan penghalau gelapnya malam. Namun, tak terlalu diabaikan. Dibiarkannya listrik mati tanpa mencari sebabnya.
***
            Setengah jam kemudian mereka sudah tidur pulas kecuali Rizal, Rizal yang masih separuh tidur tiba-tiba mendengar suara dari balik pintu kamarnya.
            “Aaaaahhhhhh,,,” bunyi suara dari arah balik pintu kamar.
            “Aaaaaaaaaahhhhhhh,,,” suara itu makin bertambah panjang bunyinya.
            Suara itupun bertambah lama bertambah panjang bunyinya. Melirik Rizal yang masih belum tidur pulas hendak mencoba pintu kamar. Lalu dibukanya pintu kamar, ternyata bunyi suara itu tak terdengar lagi. Rizal yang juga pernah mendengar suara serupa ternyata memiliki kemampuan melihat makhluk ghoib. Tak puas sampai di luar kamar saja, ia pun memberanikan diri ke tangga lantai atas wisma. Suara aneh itu muncul kembali, akhirnya saat membuk pintu ketiga dekat kamar mandi. Ia melihat tiga orang anak kecil bermuka hancur. Ternyata itu adalah tiga orang anak Jin yang menyerupai anak kecil yang hendak mengganggu warga wisma. Betapa terkejutnya Rizal saat itu.
            Akhirnya, Rizal juga diberi kesempatan untuk berbicara dengan ketiga jin yang menyerupai anak kecil bermuka hancur itu.
            “Hei, siapa kamu?” tanya Rizal dengan nada agak tinggi.
             “Aku punya rumah ini,” balas salah satu jin dengan suara sangat halus.
            “Kenapa kalian mengganggu kami?” tanya Rizal.
            “Kita cuma bermain-main saja,” jawabnya.
            “Kalau begitu jangan janggu kami,” terang Rizal.
            “Iya,” jawab jin itu seperti bersiap-siap hendak  pergi.
            Akhirnya, Rizal pergi ke lantai bawah.
***
            Di malam berikutnya, tepat pukul 22.30 WIB. Tak ada bunyi suara apapun yang diperdengarkan. Romi yang sedang mengetik sebuah tulisan sederhana sedang berada di kamar dengan kondisi pintu terbuka lebar. Tiba-tiba pintu kamar yang dibuka lebar-lebar tertutup dengan sendirinya. Tak ada langkah yang dilihat, tak ada bayangan bahkan tak ada suara terdengar yang melewati depan kamarnya. Tak terlalu berpikir panjang Romi saat itu. “Ya, biar saja. Gak usah dihiraukan,” ucap Romi dalam hati.
            Ketiga pelajar SMA asal Nias itu sudah merasakan hal-hal aneh di wisma 13. Sungguh mencekam malam demi malam datang ketika wisma lagi sepi. Segelumit kisah malam demi malam di wisma 13 menjadi sebuah cakrawala keyakinan ketiga pelajar itu. Barangkali jimat yang selalu dipakai Rizal membuat para jin senang mengganggunya dengan kedua orang teman.
            Lalu Rizal menghubungi keluarga yang ada di Nias dan menceritakan kejadian yang ia dan teman-temannya alami. Ia juga menyangkut pautkan kejadian-kejadian tersebut dengan jimat berkalung angka 13 yang selalu terpasang rapi di lehernya. Jimat yang ia maksud agar terhindar dari penjahat tidak selamanya berbuah manis. Akhirnya, orangtuanya yang masih minim akan pengetahuan agama segera menyuruh Rizal membuka kalung itu dari lehernya lalu dibuang ke laut belakang wisma 13 itu.
***
Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Tulisannya sudah ada yang dibukukan dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar”  kedua-duanya terbitan FAM Publishing, 2012. Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar