Jumat, 29 Maret 2013

Cerpen: Desiran Saluang di Ibukota (Hasan Asyhari)


            Sang surya pagi itu agak malu menampakkan rupanya. Bunyi saluang terus mendesir kencang mengiringi kicau burung gereja di sudut nagari Batipuah Baruah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sebuah rumah kecil menjadi pojok perhatian warga. Daun singkong menghiasi rumah itu. Di depannya berdiri sebuah kedai gorengan yang selalu ramai tiap paginya. Keramaian pagi itu dipenuhi dengan lalu lalang ibu-ibu yang hendak bertanam benih padi menuju hamparan sawah. Bunyi desiran saluang tadi terus menuju hamparan sawah hendak melirik petani yang akan memulai pekerjaan pagi itu.
            “Nek, Alung ingin ke Jakarta nek!” Ucap Alung sembari memberikan secerek air putih dari rumah. Sang nenek pun penasaran. 
            “Ngapain ke sana Lung?” Tanya nenek yang sering sakit-sakitan itu.
            “Ke Jakarta nek. Alung di ajak sama om Robi berjualan pakaian anak-anak di sana.” Balasnya yakin.
            “Ya, nanti kita diskusikan di rumah ya nak!” Tangkas nenek Rainah.
            Alung adalah satu-satunya cucu nenek Rainah. Ia tak tamat sekolah menengah atas. Kedua orangtuanya sudah meninggal dunia sejak ditimpa longsor satu tahun yang lalu. Almarhum ayahnya jago main saluang. Bakat inilah yang membuat Alung menyenangi saluang. Ke mana pergi selalu di bawanya. Apalagi mendiang ayahnya pernah berpesan agar saluang ini senantiasa ia perkenalkan dengan para perantau minang yang sudah mulai lupa dengan warisan budayanya sendiri.
***
            Malam pun tiba, nenek Rainah sudah berada di rumah. Pembicaraan tadi pagi hendak mereka lanjutkan.  
            “Nek, melanjuti pembicaraan saat di sawah tadi nek. Apakah Alung boleh ke Jakarta nek? Alung ingin membantu nenek. Tak ingin melihat tubuh nenek yang sudah mulai kurus ini bertambah kurus lagi. Izinkan Alung ya nek!” Pinta Ali.
            “Ya, nenek tergantung dengan Alung saja. Mana yang terbaik untuk Alung silahkan dilakukan. Namun, jangan sampai terpengaruh dengan pergaulan bebas di sana ya nak.” Izin nenek Rainah sambil melipat helai demi helai selendang yang baru siap dijemurnya pagi tadi.
            “Insya Allah nek,” balas Alung senang. Alung adalah anak yang patuh. Tak pernah terlontar kata kasar dimulutnya. Ia seorang anak yang tahu diri. Nenek Rainah sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Namun, dibalik itu nenek Rainah tak mengetahui bahwa Alung memiliki niat tersembunyi. Ia ingin memperkenalkan saluang ini di ibu kota terutama ke perantau minang. Sungguh niat mulia. Tak semua pemuda yang seperti dirinya. Ia ingin memperkenalkan kebudayaan minang yang sudah mulai dilupakan para perantau minang di ibu kota.
***
            Keesokan harinya, Alung, om-nya Robi dan Robi bersiap-siap menuju terminal bus. Sebelum pergi tak lupa do’a restu dari sang nenek ia minta.
            “Nek, do’ain Alung di Jakarta ya nek.” Pintanya haru.
            “Iya, tentu Alung. Do’a nenek menyertaimu nak.” Balas nenek Rainah sambil memeluk cucunya.
            Setelah itu, merekapun pergi ke terminal. Terkais-kais kaki mereka menuju tempat yang penuh gemercak sepoian tingkah manusia itu. Saatnya mereka berangkat ke ibu kota. Jakarta menjadi tempat peraduan Alung. Serta menjadi tempat ia memperjuangkan saluang dengan cara memperkenalkan kembali alat musik tradisional minang yang sudah mulai dilupakan anak muda perantau minang.   
            Di atas bus itu penuh akan penumpang yang bakal mengadu nasib ke ibu kota. Suasana demikian mengingatkannya pada masa ketika ia diajak mendiang ayahnya ke Medan waktu masih bersekolah dulu. Tapi, apa daya semua tinggal kenangan.
             Alhamdulillah beberapa hari di atas mobil, akhirnya sampai juga ia di Jakarta. Bau keringat selama berkendaraan sempat memperkeruh suasana hati. Sempat ia marah, gara-gara saluang yang di sandangnya dibilang kuno oleh seorang preman saat ia berjalan menuju rumah paman Robi.
***
            Bunyi desiran saluang terdengar indah. Kali ini Alung memainkan saluang di teras depan rumah om-nya Robi. Bak suasana desa yang damai. Menyejukkan suasana hati. Bunyi desiran saluang itu berasal dari tiap lobang saluang yang sempat memukau perhatian ibu-ibu yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba seorang ibu hendak mendekati rumah paman Robi.
            “Wah, indah sekali bunyi suara itu.”  Pujinya dalam hati.
            “Terima kasih buk,“ balasnya senang,
            “Kalau boleh tahu, apa namanya alat musik itu dik?” Tanyanya cepat.
            “Ini namanya saluang buk, ini adalah alat musik tiup tradisional minang buk,” ujarnya memberi tahu.
            “Oh, adik dari Padang ya?” Tanya sang ibu yang bertubuh gemuk itu.
            “Iya buk. Saya baru dua hari di sini. Mau bekerja dengan om Mursal.” Jawabnya santai.
            “Wah, baguslah dik. Banyak orang Padang merantau di sini. Namun, ibu tak pernah  jumpa pemuda yang seperti kamu. Tak sungkan memainkan alat musik tradisional budayanya sendiri. Ibu salut sama kamu dik!” Puji buk Gina nama akrabnya dipanggil tetangga.
            “Terima kasih buk.” Balas Alung memperlihatkan lesung pipinya yang begitu menawan di mata.
            Tak lama setelah itu, sang ibu pergi. Alung pun lanjut mendesirkan saluang tadi.
***
            “Baju kaos, baju kemeja, celana pendek...” Soraknya di depan pengunjung pasar yang selalu ramai di sudut kota Jakarta. Pagi menjelang siang ini adalah hari pertama ia kerja bersama Robi dan om-nya Robi. Logat bahasa Padang-nya masih menyita perhatian para pengunjung pasar yang lalu lalang setiap saat.
            “Buk, ayuk ke sini?” Bisik seorang ibu berkerudung pendek dengan teman sebayanya.
            “Ada apa Rat? “ Tanya temannya itu.
            “Adik itu lucu ya?” Tangkasnya tanya balik.
            “He he ia, masih kental bahasa Padang nya.” Jawab Leli cepat. Seperti sudah paham dengan vokal yang diucapkan Alung.
            Tak menyangka ternyata Robi sempat melirik ibu-ibu itu seperti membisikan Alung.
            “Eh Lung, sepertinya ibu-ibu itu memperhatikan kamu deh dari tadi.”
            “Ya, biar aja lah Bi...” Balas Alung. Ia tak suka mempermasalahkan sesuatu.           Azan zuhur pun berkumandang merdu di sudut pasar. Alung dan Robi pun pergi shalat ke sebuah mushalla kecil. Kedai kaki lima itu mereka tinggal sejenak demi memenuhi seruan yang Maha Kuasa.
            Setelah shalat zuhur. Alung dan Robi istirahat siang. Kemudian Alung membunyikan saluang yang selalu ia bawa. Siang nan panas melerai emosi yang semula rusuh menjadi damai. Tiap orang yang medengarkan itu terpukau. Mereka  hendak mendekati bunyi desiran saluang tadi.
            “Wah, indah sekali bunyinya dik.” Ujar seorang bapak berkaca mata hitam. Kemudian datang seorang pemuda dengan pakaian serba sempit, bertato, telinga dan hidung bertindik serta rambut berdiri bak habis di sambar petir. Alex namanya. Ia boleh dikatakan sebagai preman pasar. Hampir tiap hari ia merampas para pembeli di pasar. Tak bisa dihitung lagi jumlah penangkapannya oleh polisi pamong praja.
            “Woi, cemen... musik apaan itu lu bro??” Cercanya kasar.
            “Ini alat musik tradisional dari Padang kawan.” Balas Alung santai.
            “Haaaa......haaaa......masih kuno lu bro....cemen buat lho!” Cercanya lagi.
            “Biar saja kuno. Saya akan buktikan alat musik ini tak akan pernah tinggal akan zaman.” Ungkapnya yakin.
            “Ha, Ha.. cemen banget lu bro. Masak alat segede ituan masih dipelihara.” Sindirnya membuat batin Alung terusik.
            “Diam kau!!” Tangkas Alung marah. Jarang-jarang ia marah pada orang lain. Apalagi orang itu tidak pernah ia kenal sama sekali.
            Sempat terjadi perang mulut antara mereka. Namun, Alung masih tetap yakin. Saluang itu akan ia pertahankan. Sesuai dengan niatnya ke ibu kota itu. Ia akan memperkenalkan dan mengajarkan saluang terkhusus pada remaja-remaji perantau asal minang.
***
            Beberapa hari kemudian. Alung berjumpa dengan seorang bapak bertubuh pendek sembari membawa macam bentuk sandal dan sepatu. Benda-benda itu berada di sebuah kotak lumayan besar. Sepeda motor yang sudah agak ketinggalan zaman mewarnai penglihatan Alung.
            Kemudian mereka pun berbincang sejenak melepas kepenatan berjalan seusai kerja. Bapak yang sudah hampir tiga puluh tahun lalang buana di kota Jakarta. Ia mengetahui seluruh tempat-tempat bermukim kebanyakan tiap suku bangsa. Terutama suku bangsa minang. Penduduknya ulet berdagang. Itu yang membuatnya tertarik dengan penduduk negeri rendang ini. Kemudian, bapak itu menemani Alung ke tempat yang ingin ia tuju itu.
            Keesokan harinya, bertemankan sebatang saluang bambu ia melangkahkan kaki ke kawasan itu. Lalu ia tiup saluang itu. Desiran saluang itu melirik para masyarakat ke luar dari rumah. Bak orang menjual obat. Badannya yang kurus dan bertubuh tinggi menjadi objek penglihatan orang-orang di sana.
            “Wah, ado saluang di siko. Wah, Ada seruling di sini.” Ucap seorang bapak tua. Kemudian berbondongan orang keluar rumah saat itu. Tiap orang ada yang tahu dengan saluang yang dibunyikan Alung. Namun, ada pula yang tercengang. Tak tahu sama sekali.
            “Wah, ayah itu alat musik apa yah?” Tanya sang anak.
            “Ayah gak tahu nak.” Jawab sang ayah senyum malu.
            Kemudian Alung memperkenalkan saluang itu. Lalu ia ajarkan pada mereka cara meniup saluang itu. Kebanyakan di sana perantau yang berpuluh-puluh tahun di Jakarta dan adapula yang cuma keturunan minang saja. Begitulah cara Alung memperjuangkan saluang pada perantau minang di ibu kota. Meskipun ada yang menerima dan ada yang menolak.
***
                                                                                    Padangpanjang-Padang, Februari 2013
Istilah  :
Saluang: seruling. Alat musik tradisional tiup minangkabau.

BIODATA
Hasan Asyhari namanya. Cowok yang lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992 ini merupakan anak pasangan dari Sudirman, BA dan Dra.Yasmaida. Kedua orangtuanya adalah   guru di dua podok pesantren modern terkemuka di kota Padangpanjang. Ia merupakan mahasiswa jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial UNP tahun masuk 2010. Selain kuliah ia aktif di Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) UNP  dan IMAPABASKO (Ikatan Mahasiswa Padangpanjang, Batipuah, X Koto) sebagai Wakil Ketua Umum. Hasan sapaan akrabnya merupakan salah satu Cerpenis Muda Indonesia dalam buku Antologi Cerpen Cinta Bernilai Dakwah terbitan FAM Publishing, Kediri, Jatim. Berbagai iven kepenulisan sering ia ikuti.  Hasan yang memiliki motto,”Kesuksesan Besar berawal dari Kesuksesan Kecil”. Untuk mengenal lebih akrab dengannya bisa menghubungi nomor HP 085272985628 dan fb HASHAN ASYHARI. Dan alamat rumahnya di Desa Baru No.23 RT.14 Kel. Tanah Hitam, Kec.Padangpanjang Barat, Kota Padangpanjang, Sumbar 27112. (HASAN ASYHARI, FAM944M, Padangpanjang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar