Rintihan
sakit pada pipi kiriku menentang tangan yang masih kaku berupaya memencet satu
per-satu tombol key pad yang melekat
erat di handphone-ku. Berusaha meminta
sang amak (ibu) meneleponi-ku yang cukup jauh dari kota Malin Kundang itu.
Bersandar di sudut ruang kamar wisma at-takhwin
(penginapan mahasiswa) sembari meredam sakitnya bengkak yang muncul di pipi
kiri-ku. Tak sadar sang surya sebentar lagi akan bangun dari gelapnya hari.
“Mak,
pipiku bengkak, bibir-ku pencong,” ucapku sedih kala itu.
“Kenapa
sampai seperti itu nak? Tanya sang amak haru.
“Gak,
tau mak! Tadi malam Ayi tidur gelisah. Miring ke kiri pipi ini amat terasa
sakit.” Ucapku cemas.
“Kalau
tak sanggup rasanya, pulanglah ke kampung nak! Naik travel saja, jam delapan
nanti.” Suruh amak.
“Ya
mak, nanti Ayi pulang kampung sekitar jam delapan-an.” Balasku terus merintih kesakitan.
Belok
kanan belok kiri. Seringkali aku melototi cermin yang terpajang di pintu ruang tengah
wisma. Dari bilik ke bilik kusoroti wajah ini. Menghadap cemas pada warga wisma
yang sudah kembali berbaring di atas kasur. Mengharap sedikit solusi malah
celotehan yang ada. Namun, ada pula yang memberi solusi yang masuk akan
logika-ku.
“Kenapa
bibirmu pencong San? Panggilan akrabku di wisma.
“Gak
tau, tiba-tiba bibir ini pencong? Kemarin sudah ada gejalanya, tapi gak ada pencong.”
Tangkasku cemas.
“Ada
di tampar orang gak?” Sampar Helmi memegang netbook
barunya.
“Gak
ada bg..” Balasku melototi netbook
yang hendak ia hidupkan.
Aku
kembali ke kamar. Tiba-tiba Aziz datang dari kamar sebelah.
“Kalau
gitu, biar aku temanin sampai tempat penungguan travel ke Padangpanjang san.” Ajak
Aziz.
“Iya,
aku beres-beres dulu ziz...” Balasku.
Saat
itu, hampir semua warga wisma yang cukup cemas dengan keadaan wajahku bagian
kiri. Membengkak seperti ditampar orang. Bibir-pun pencong bak orang diserang
penyakit stroke. Arfan, sang adik
wisma juga cemas akan hal itu. Saking cemasnya. Ia dan Aziz menemaniku
nyeberang dua sisi jalan raya yang ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermesin.
Pas betul saat satu jalan hendak dilalui kami langsung jumpa mobil travel yang
masih kosong akan penumpang.
***
“Tit,
tit, tit..” Bunyi klakson dengan gas pelan menyapaku.
“Ke
Padangpanjang Da??” Tanyaku sambil menutup bibirku yang pencong.
“Ya
dek!” Balasnya.
Aku
salami Aziz dan menghadap ke arah Arfan. Aku khawatir Pak Sopir melototi
wajahku yang mencemaskan itu. Kunaiki mobil duduk di depan berdampingi dengan
sang sopir. Tak ada percakapan lirik mata dengannya. Ia yang sibuk mencari
penumpang tak terlalu memperhatikan sikap anehku menutup bibir. Sekali-kali aku
jawab pertanyaannya tanpa menoreh padanya. Hingga akhirnya tibalah aku di
Padangpanjang.
Akupun
turun di depan BRI sembari memandangi sang adik yang hendak menyeberang
menjemputku.
“Sana
aja Ihsan. Jangan kemari!” Bahasa tubuhku melarangnya biar gak nyeberang ke
tempat pemberhentianku. Saat itu juga kusempati mampir ke ATM. Batas transfer
biaya penerbitan buku kumpulan Surat pilihan dari sayembara salah satu penerbit
harus kutransfer hari ini juga.
“Kenapa
bibir abang Ayi?” Tanya Ihsan memperlihatkan wajah cemas.
“Gak,
tahu. Tiba-tiba tadi pagi udah pencong aja.” Kataku.
***
Setiba
di rumah. Icha, adik perempuanku juga terkejut dengan wajah pucat bercampur
bengkak dan pencong di bibirku. Di ambilnya botol obat yang berisi air liur
lebah yang sering digunakan anggota keluargaku di kala sakit. Adik-adikku yang
lain pada khawatir akan keadaanku saat itu. Kemudian, amak yang sedang mengajar
di salah satu pondok pesantren meneleponiku. “Jam 2-an amak pulang ya Ayi!”
katanya. Tak lama kemudian, amakpun pulang ke rumah.
“Assalamu’alaikum...”
Bunyi suara amak dari pintu belakang rumah.
“Wa’alaikumussalam...”
Ucap Aku, Icha, Ihsan dan Fhira yang lagi libur akhir pekan.
Amak
menatapi wajahku yang sebelumnya kurus kerontang berubah sekejap menjadi
bengkak. Menangis amak melihatku. Aku ceritakan apa yang terjadi sebelumnya.
Akhirnya, esok hari aku disuruh periksa ke puskesmas. Ku ambil karcis dan duduk
rapi dengan menghela dikit demi dikit jaket almamater organisasi yang terpasang
di badanku. Ku segan membiarkan wajah ini dilihat banyak orang. Nomor antrianpun
terpanggil. Lalu aku disuruh ke ruang poli umum. Beberapa helai kertas tebal mesti
ku tenteng dan kasihkan ke perawat di ruangan poli umum itu. Sembari menunggu
panggilan namaku. Ku tutup mulut yang berbungkah bibir pencong menghiasi
tingkahku saat itu.
“Bapak
Hasan Asyhari,” namaku dipanggil. Sapaan Bapak amat mengena di jiwaku. Tekanan
darah pun langsung diukur sang perawat. Kemudian aku disuruh menunggu di
luar. Setelah namaku dipanggil, aku
langsung ditanya oleh ibu dokter. Ia pun mendiagnosaku kena gangguan syaraf. Ia
berikan surat rujukan ke dokter spesialis syaraf RSUD Padangpanjang. Haripun
berputar gelap hingga berubah menjadi terang kembali. Aku dan amak hendak pergi
ke RSUD.
***
Menaiki
dua ojek yang berbeda sopir. Penuh rasa cemas dan dinginnya hari melirik akan
rasa kala itu. Setiba di sana. Kamipun menuju tempat Askes sebelum menuju rekam
medis. Setelah itu aku disuruh masuk ke ruang spesialis syaraf. Ku serahkan
berkas yang dikasih petugas rekam medis untuk dikasihkan ke ruangan spesialis
syaraf. Perawat yang sudah cukup dimakan umur memeriksa tekanan darahku.
“Dek,
dokter masuk jam satu nanti. Jadi datang saja jam satu nanti ya!” Ucap sang
perawat. Tak ingin tubuh ini menggigil kedinginan melihat awan hitam yang mulai
menangis. Amak mengajakku makan lontong di sebelah rumah sakit. Setelah itu,
aku dan amak langsung pulang menaiki ojek yang berada di simpang rumah sakit
bertaraf internasional itu. Waktu menunjukkan pukul dua kurang seperempat.
Ihsan yang baru pulang dari sekolah dan paman yang masih istirahat kerja
mengantarkanku ke RSUD kembali. Takut terlambat, ternyata dokternya sudah
datang.
Menunggu
panggilan. Aku, amak dan pasien lainnya duduk rapi di kursi besi depan ruangan
yang bertuliskan syaraf dan neurologi itu. Saat diperiksa sang dokter, aku ternyata
tidak ada masalah pada syaraf. Dokter di puskesmas salah mendiagnosa penyakitku.
Lalu sang dokter syaraf menyuruhku konsultasi ke spesialis gigi esok harinya.
Tak mau berbelit-belit. Aku datangi puskesmas kembali dan hendak konsultasi
pada poli gigi di puskesmas. Di sana, ia nyatakan ada akar yang belum mati di
gigi dekat gusiku. Itulah yang menyebabkan pipi bengkak dan bibir pencong. Ia sarankan
meminum obat yang dikasihnya selama tiga hari dulu. Jika juga tidak ada
kesembuhan maka baru akan diberi surat rujukan ke RSUD.
Rinai
siang-pun mewarnai kota hujan itu. Tiba-tiba Aziz meng-sms ku. Teman-teman di
kampus akan datang ke rumah menjengukku sekitar jam dua-an. Karena masih
mencari motor maka keberangkatan mereka di-pending
jadi jam empat-an. Hujan yang cukup lebat membuat khawatir akan keadaan
teman-teman. Alhamdulillah setelah ditunggu juga jam delapan-an mereka sampai
di rumah dengan selamat. Amak sengaja masak nasi lebih banyak daripada biasa. Ia
begitu mengenal keadaan anak-anak. Apalagi teman-temanku yang umumnya kost.
Tentu belum makan. Kita-pun makan bersama. Setelah makan, amak dan abak (ayah)
bercengkrama dengannya. Sesekali kuucapkan kata yang terbesik dibenakku mesti
sempat tergaduh akan bibir pencongku. Malam yang penuh kasih sayang. Kala itu,
Chandra memimpin do’a untuk kesembuhanku. Terima kasih Tuhan, amak, abak dan
teman-teman semua!.
***
Februari 2013, di Rumah
Kasih Sayang
Biodata:

Penulis bernama Hasan Asyhari. Mahasiswa
UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Beberapa karyanya sudah
dibukukan dalam Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi
Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (FAM Publishing, 2012). Dan terakhir buku
Antologi FF dan Puisi “My Love Dreams” (Soegha Publishing, 2013). Ia memiliki
akun Fb dengan nama Hashan Asyharii dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com.
Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang,
SUMBAR 27112.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar