Jumat, 22 Februari 2013

Cerpen: Syukur Pada-Mu (Hasan Asyhari)


              Malam ini penuh kerisauan. Raihan mulai mabuk-mabukkan lagi di tempat kostnya. Entah apa gerangan yang membuatnya mengulangi perangai lama itu.
            “Han, han...Sudah!! Jangan kau mabuk lagi. Ingat ibumu di kampung!” Larang Bagus.
            “Diam Gus!” Marah Raihan padanya.
            Botol vodca yang masih tinggal setengah botol langsung disimpan Bagus tanpa minta izin dulu pada Raihan. Bagus sangat baik pada Raihan. Ia takut jika tiba-tiba polisi datang ke kostnya. Ia tak menginginkan Raihan terjebak lagi akan sikap bodoh sahabatnya itu. Mereka sama-sama satu fakultas di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Lampung. Sejak awal kuliah hingga sekarang mereka akrab berteman bahkan sekarang masih tetap satu kost. Namun, Raihan sangat mudah terpengaruh dengan teman-teman kuliahnya yang hobi minum minuman keras itu. Ia tak menyadari bahwa ia berasal dari keluarga menengah ke bawah. Teman-temannya kebanyakan anak orang berada. Tentu mereka bisa berperilaku seenaknya saja. Menghambur-hamburkan uang dan malas kuliah itulah kerjaan mereka. Mereka tak terlalu memikirkan bagaimana orangtua mereka mencari uang di kampung. Berbeda dengan Raihan berasal dari keluarga yang sangat sederhana.
***
            Hampir tiap malam Raihan ugal-ugalan dengan teman-temannya. Kadang ke kafe, main kartu dan batu domino di kedai sebelah kost bersama teman-temannya. Mereka adalah mahasiswa yang hampir serupa perilakunya dengan Raihan. Kuliahpun mulai berantakan. Ia terbawa kesenangan dunia. Pernah suatu hari ia tak mengerjakan tugas kuliah diusir keluar oleh dosennya.
            “Raihan, mana tugasmu?” Tanya Pak Anto tegas. Pak Anto yang dikenal kiler di mata mahasiswa sering membuat mahasiswa menggigil. Sekali tidak membuat tugas ia langsung mengasih nilai E alias gagal di lembar hasil studi tiap semester.
            “Tinggggaaallll...Pak.” Ucapnya cemas. Terlihat aura pucat di wajah Raihan saat itu.
            Pak Anto pun naik pitan kala itu sehingga sampai mengusir Raihan. Minggu sebelumnya ia juga tidak mengerjakan tugas. Padahal mata kuliah itu adalah mata kuliah yang akan menunjang keterampilan pada jurusan yang ia pilih.
            “Keluar saudara! Saya tidak suka dengan mahasiswa yang pemalas.” Usir Bapak berkaca mata itu. Bersimpuh malu Raihan di hadapan teman-temannya. Ia pun keluar tanpa pamitan. Menghibur hati yang sedang galau ia pergi ke kantin belakang kampus.
            Di kantin itu ia bertemu dengan teman-teman yang juga sering mengajaknya main judi, minum bir dan sebagainya.
            “Woi bro!! Kenapa lu?” Tanya Moldy teman bermain Raihan yang juga satu fakultas dengannya.
            “Ahhh, gak apa-apa bro.” Jawabnya pura-pura.
            “Hahai....” Sanggahnya. Meminum teh susu panas mencekik suasana yang semula galau menjadi agak riang. Moldy dan Toni yang berada di depannya hendak mengajak Raihan nanti malam ke sebuah diskotik. Namun, mereka tidak mau menyebutkan ke mana ia akan diajak nanti malam.
            “Bro, ntar malam jalan yuk!” Ajaknya.
            “Kemana?” Balasnya heran.
             “Tunggu aja nanti malam bro..” Yakinnya.
             “Ok dah bro.” Katanya setuju.
***
            Malam pun tiba, kemudian mereka menjemput Raihan ke kost. Waktu itu Bagus sedang mencuci pakaian. Raihan yang kelihatan mau pergi keluar. Sempat mengundang pertanyaan Bagus.
            “Kemana Han?” Tanyanya sambil mencuci pakaian di kamar mandi.
            “Aku keluar bentar Gus. Mungkin pulangnya agak kemalaman.” Balasnya santai.
            “Iya Han, hati-hati aja.” Pesannya.
            “Ya Gus, thank you.”
            Raihan dan Bagus dua orang teman yang sangat akrab. Namun, sejak semester dua ia mudah diajak oleh teman-temannya. Ditambah lagi kebiasaan buruknya yang pernah minum minuman keras sejak Sekolah Teknik Mesin (STM) beberapa tahun yang lalu yang akan memperparah dirinya. Ia memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanya itu. Terkadang Bagus juga sering mengajaknya ke luar. Namun, ia lebih memilih teman-temannya itu. Uraian sedih yang Bagus rasakan di saat ia tak mau menerima ajakannya.
            “Tit, tit, titt...” Bunyi klakson dua sepeda motor yang menghampiri kost Raihan. Merekapun pergi ke sebuah tempat. “Kemana kita sekarang bro?” Tanyanya. “Lihat aja nanti.” Jawab Moldy. Mereka pergi bertiga. Raihan kebetulan bergoncengan dengan Moldy. Sedangkan Toni sendirian. Mereka sering keliuran keluar malam. Tak hanya mabuk-mabukan. Judi sering melakukan. Batu domino menjadi saksi bisu tingkah mereka.
            Tibalah mereka di sebuah tempat penuh kegerlapan. Diskotik Guide 56 namanya. Banyak pemuda dan pemudi yang berpakaian tak senonoh berada di sana. Terlihat susunan botol-botol miras dengan macam-macam merek terpajang rapi di bar itu.
            “Kamu minum apa?” Tanya Toni.
             “Aku minum jus lemon aja.” Pintanya.
            Sebenarnya untuk ke diskotik baru sekarang ia datangi. Biasanya ia tak pernah ke tempat itu. Minuman keraspun kadang ia beli dengan patungan bersama temannya.
            Mereka duduk sambil bercerita-cerita di sana. Di tengah pembicaraan berdering handphone nya. “Siapa ini? ganggu orang aja.” Ucapnya dalam hati. Dilihatnya, ternyata sang ibu hendak meneleponnya. Merasa terganggu ia matikan segera deringan telepon itu. Itulah Raihan seperti tak memiliki hati lagi. Candu senang sudah menghantarinya pada gerbang kedurhakaan.
            Secara diam-diam Moldy memegang kotak rokok. “Yuk, hisap bro.” Ajak Moldy sambil meletakkan kotak rokok itu di atas meja. Mereka hisap bersama. Raihan sempat menolak. Namun, mereka tetap juga maksa. Akhirnya ia menghisap rokok itu. Raihan merasakan suatu agak berbeda daripada rokok yang biasa ia hisap. Baru satu hisap aja ia gak betah. Sedikit mual. Itulah alasannya ia membuang rokok itu di bawah sudut meja. Nah, tak disangka itu adalah ganja kering yang dikemas dalam bentuk rokok. Sengaja mereka mengajak Raihan ke diskotik. Mereka menganggap Raihan mudah untuk diajak melakukan berbagai hal terlarang itu.
***
            Tak disangka tiba-tiba, datang polisi bergerombolan membawa beberapa senapan api. Diskotik Guide 56 sudah lama diincar-incar polisi. Karena pernah dapat sogokan dari pengusaha diskotik itu akhirnya kedatangan mereka sempat tertunda. Diskotik itu penuh dengan minuman keras dan pasangan muda-mudi yang mencari hiburan di kegemerlapan malam. Mereka yang datang ke sana kebanyakan orang yang sudah bekerja dan ada juga mahasiswa.
            “Angkat tangan! Jangan ada yang keluar.” Ucap salah seorang polisi bertubuh tinggi itu.
            Suasana yang tadi brisik berubah sunyi. Diperiksanya satu persatu pengunjung diskotik itu. Ternyata ada beberapa orang yang kedapatan menyimpan sabu dalam tasnya. Selanjutnya giliran Raihan, Moldy dan Toni. Diantara mereka Toni yang duluan diperiksa. Polisi menemui beberapa batang rokok ganja kering di saku celana jeans nya. Selanjutnya, giliran Moldy yang kedapatan satu batang ganja kering di selip sandalnya. Raihan yang paling terakhir polisi tidak menemui barang haram itu di seluruh pakaian yang terpasang di tubuhnya. Semua tersangka dan barang bukti dibawa ke kantor polisi. Meskipun polisi tak  menemui barang haram itu. Raihan masih belum bisa tenang. Polisi akan menguji urin semua tersangka termasuk Raihan. Sembari menunggu hasil tes urin. Semua tersangka diinapkan di sel tahanan sementara.
            Besok paginya sekitar jam 9 tiap tersangka dipanggil satu persatu. Polisi hendak memberitahu pada setiap tersangka. Alhasil Raihan negatif. Ini pertanda polisi tak menemui Raihan mengkonsumsi barang haram itu. Mungkin kesaksian saja yang diminta polisi padanya. Ini sebuah keajaiban pada Raihan. Biasanya orang yang menghisap ganja sedikit saja sudah positif kena. Namun hal ini berbeda yang dialami Raihan. hasil tes tak membuktikan itu. Ini benar-benar aneh. Sungguh Tuhan sangat mencintainya. Tak ada yang tak bisa oleh-Nya. Jika Tuhan sudah berkehendak tak ada yang dapat melarang-Nya.
Subhanallah Alhamdulillah
Syukur pada Allah yang menciptakan kita

Seluas lautan
Yang tidak pernah ada tepinya
Itulah nikmat kurnia-Nya selama ini

Sesekali diri diuji
Hingga tak berdaya langkahku
Itu sebenarnya
Nikmat kasih sayang dari-Mu padaku

Di dalam hati yang keresahan
Kau datang menemani
Memberi sinar penuh harapan

Di dalam hati yang kekosongan
Kau isikan kasih-Mu
Agar jadi panduan menerus kehidupan

Doa ikhlas silih berganti
Di hati

Subhanallah Alhamdulilah
Syukur pada Allah yang menciptakan

Terima dengan syukur
Segala pemberian-Nya
Pasti ada kemanisan yang tersembunyi
(Syukur Pada-Mu by. Hijjaz)

            Raihan pun cukup bahagia itu. Ia sengaja tak menelepon Bagus karena takut Bagus  akan shock  jika mendengar kabar buruk itu. Raihan yang dijebak dalam perkara itu baru bisa pulang ke kost sore harinya. Kesaksian masih diminta polisi sewaktu-waktu menjelang pengadilan memutuskan sanksi atas perkara itu. “Terima kasih Tuhan atas pertolonganmu, maafkan daku yang banyak dosa-dosa ini,” do’anya dalam hati waktu selesai melaksanakan shalat maghrib.
***

Judul Lagu    : Syukur Pada-Mu
Penyanyi        : Hijjaz           

Biodata:         
Penulis bernama Hasan Asyhari. Nama penanya Hasan Al-Faritsi. Ia adalah mahasiswa jurusan sosiologi FIS UNP. Ia lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Ia juga aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tulisannya sering muncul di media cetak dan media online. Selain itu ia juga pernah menerbitkan buku dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus” (2012), Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (2013) keduanya terbitan FAM Publishing.  Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Serta akun twitter dengan nama @HasanAsyhari27. Ia beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar