“Tania,
mari kita jalan!” Ajak Haikal sambil memegang kunci mobilnya.
Tania sosok gadis yang masih kuliah
di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Medan. Dan Haikal juga seorang
mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang berbeda dengan Tania. Malam ini
adalah malam minggu. Mereka hendak pergi ke mall
terbesar di Medan. Bak sejoli yang masih selalu menginginkan kesetiaan. Berdua-dua
adalah paling asyik bagi dunia mereka. Di sana ia bermain game-game menarik
pelepas lelah hampir setiap harinya diisi dengan kesibukan kuliah dan
organisasi kampus. Tania dan Haikal sudah berpacaran sejak kuliah sama-sama semester
2.
“Kal,
aku besok sudah pergi ke Pekanbaru untuk magang selama satu bulan. Bolehkan?” Izin
Tania pada Haikal bak pasangan suami istri.
“Tentu
boleh Nia,” balasnya senang.
Suasana
siang itu agak asing. Ada hawa keanehan saat percakapan mereka. Seharusnya sebagai sesosok cowok sejati. Ia
merasa sedikit khawatir Tania akan diganggu cowok-cowok lain di sana. Malah, ia
sangat senang. Matapun berbinar keriangan bak menari-nari di atas permadani.
Akhirnya,
dua hari setelah itu. Tania berangkat bersama rombongan teman-teman kuliahnya dan
beberapa orang dosen. Keberangkatannya tak dilepas sang kekasih hati yang waktu
itu sedang kuliah.
Ayah
Tania sebelumnya sudah merestui hubungan Tania dengan Haikal. Beberapa hari
pasca kepergian Tania. Penglihatannya diwarnai dengan tingkah aneh dari Haikal.
Meskipun Tania tidak ada di rumah ia sering berkunjung ke rumah orangtua Tania.
Suatu
hari Haikal datang bersama seorang laki-laki. Lumayan tampan dan badannya pun berotot.
Laki-laki itu sebelumnya tak pernah ia ajak ke rumah Tania.
***
“Assalamu’alaikum...”
Ucapnya santai.
“Wa’alaikum
salam,” jawab Ibu Tania yang keluar dari kebun belakang rumah. Ibu Tania
seorang ibu rumah tangga yang senang berkebun tanaman hias. Banyak tanaman hias
yang berjejer di depan rumahnya. Ayah Tania seorang manager di salah satu
perusahaan asing.
“Apa
kabar nak Ikal,” sapa Ibu Tania. Ikal sapaan akrab Haikal oleh keluarga Tania.
“Alhamdulillah,
sehat bu. Ibu bagaimana?” balasnya tanya balik.
“Alhamdulillah
sepert inilah nak Ikal, he he,” jawabnya sambil tawa.
“Oh
ya, bapak ke mana buk?” Tanyanya penasaran.
“Bapak
lagi di atas,” terang Ibu Tania.
“Oo,
iya gak apa-apa buk,” jawabnya ragu. Rudi teman Haikal yang ia bawa tadi belum
sempat ia perkenalkan sama Ibu Tania sampai-sampai Ibu Tania menanyakan tentang
Rudi.
“Oh
iya, siapa nama teman Ikal?” Tanya Ibu Tania pada Rudi.
“Rudi
bu, saya teman kuliah Ikal,” terang Rudi langsung. Rudi orangnya cukup pendiam
apa yang ditanya itu saja yang ia jawab. Lebih banyak senyum daripada bicara. Kesopanan
dan lesung pipi yang merona di wajahnya membuat Ibu Tania senang padanya.
“Sebentar
ya Ikal dan Rudi, Ibu ke belakang sebentar,” ucapnya senyum. Ibu Tania ke
belakang mengambil sepiring risoles yang masih tertutup renggang di dapur.
Tiba-tiba,
ayah Tania turun dari kamar atas. Ia melihat Haikal dan Rudi sedang berpelukan.
Bak menghampiri istri yang lagi kesedihan. Bunyi rentakan kakipun mengaduh
suasana saat itu. Terpucat wajah Haikal dan Rudi kala itu. Suasanapun berubah
sesaat. Namun ayah Tania tidak menanya langsung. Karena ia melihat dari tangga
pertama turun dari lantai atas barangkali matanya yang sudah mulai buram di
ambang usia. Seorang Bapak yang tidak menginginkan suatu yang janggal nantinya.
Ia pun berusaha mencari data yang pasti siapa sebenarnya Haikal ini. Yang ia
tahu, bahwa Haikal seorang anak pengusaha di negeri jiran Malaysia.
“Apa
kabar Haikal?” Sambut bapak berkaca mata itu. Sengaja tidak diutarakannya apa
yang baru dilihatnya barusan. Merekapun bincang-bincang seperti tak ada masalah
satupun. Padahal di pikiran ayah Tania sudah terlinang sedikit luka. Akhirnya tak beberapa lama setelah itu Haikal
dan Rudipun hendak ingin keluar dari rumah nan cukup besar itu karena mereka
ada kegiatan lain juga.
***
Malam
ini pukul 20.30 WIB Haikal dan Rudi berencana pergi ke tempat fitness. Rudi baru dikenal Haikal
sewaktu Rudi membantu Haikal menambal ban mobilnya di sebuah bengkel tempat
Rudi bekerja. Kebetulan Rudi bekerja di bengkel mobil dan juga hampir setiap
kamis malam ia bertemu dengan Rudi di tempat fitness yang sama. Kemudian Haikal menjemput Rudi di sebelah
bengkel mobil yang merupakan tempat kost Rudi.
“Halo
Rudi. Yuk, kita pergi lagi!” Ajaknya cepat.
“Ayuk
Kal,” ucap Rudi balik.
Malam
itu juga ayah Tania kebetulan di telepon oleh temannya yang berada di tempat fitness Haikal. Pak Roni namanya, ia
menelepon ayah Tania karena urusan kantor yang harus ia bicarakan juga di sana.
Pak Roni sering fitness di sana.
Namun, karena ada yang mau dibicarakannya dengan ayah Tania. Terpaksa ayah
Tania datang ke tempat itu. Tempat yang direncanakan sebagai tempat pertemuan
ayah Tania dengan Pak Roni rekan kerjanya. Akhirnya memancing sebuah masalah
yang tak diduga. Ia melihat Haikal seperti berciuman dengan seorang lelaki di
sudut kafe tempat fitness yang cukup lengang waktu itu. Ayah Tania kebetulan
membawa camera dygital yang ia simpan
di dalam tas kecil yang ia selalu ia sandang kemana pergi. Ia agak mendekat
menuju meja nomor 6. Dipakainya topi coklat bak anak muda. Kemudian diambil
kamera digital itu lalu ia foto ekspresi yang mereka lakukan berdua. Bertambah
yakin ayah tania bahwa pacar anaknya itu pecinta sejenis.
Tania
yang sangat setia dengan Haikal. Komunikasinya tetap terjalin meskipun lewat
telepon dan akun jejaring sosial yang mereka miliki. Tania sering menghubungi
Haikal lewat telepon genggamnya begitu juga Haikal. Percintaan mahasiswa beda
perguruan tinggi itu tanpa disadari percintaannya sudah ternodai akan tingkah
Haikal yang tak sewajarnya sebagai seorang lelaki. Tak diduga sebelumnya ia
sudah menyalurkan nafsu kepada sesosok lelaki yang barumur tiga puluhan. Belum
jadi pacar sebenarnya ia sudah melakukan perilaku menyimpang itu. Haikal ternyata
korban pelecehan seksual oleh teman ayahnya waktu ia masih SMP di Jakarta.
Sehingga Haikal menjadi candu berbuat seperti itu. Tak hanya dengan Rudi
beberapa teman cowok juga pernah ia jadikan pacar. Namun, karena sudah kuliah ini
ia sudah melupakan hal itu. Saat kepergian Tania ke Pekanbaru cinta sesama
jenis itu kembali membara. Tak tahu apa penyebabnya. Apakah tak tahan ditinggal
Tania atau bagaimana.
***
Hampir
sebulan Tania magang di Pekanbaru dan hendak pulang ke Medan. Dengan wajah
rindu ia menginjaki kaki di kota samosir itu. Di teleponnya Haikal untuk
menjemputnya di kampus.
“Halo,
sayang jemput aku ya di kampus!” Suruh Tania.
“Ya
sayangku!” Jawabnya romantis.
Tak
berapa lama datanglah Tania dan Haikal ke rumah. Orangtua Tania juga menunggu
kedatangan anak satu-satunya keluarga itu.
“Assalamu’alaikum
ayah, ibu.” Dipeluk Tania kedua orangtuanya yang sedang berada di ruang tamu.
Haikal sedang membawa barang Tania dari garasi mobil. Ia pun terkejut saat ayah
Tania tiba-tiba melarang mendekati anak perempuannya itu.
“Jangat
dekat kau!” Larang ayah Tania dengan nada kasar.
“Kenapa
ayah seperti itu?” Tanya Tania cemas.
Ayah
Tania pun memperlihatkan foto-foto Haikal sedang menciumi seorang cowok.
“Apa-apan
ini Kal?” Tanya Tania marah.
“Ini..ini..bukan
aku,” jawab terbata-bata.
“Ini,
ini apaan. Sudah...Kau benar-benar berengsek. Pergi kau dari sini!” Usir ayah
Tania. Tania pun sangat sedih melihat foto-foto itu. Tak terbayang sebelumnya
bahwa cowok yang sangat ia cintai berperilaku seperti itu.
“Haikal,
kau sudah menodai kesucian cinta kita. Aku benci kamu Ikal.” Kesal Tania pada
Haikal.
“Ya,
ma’afkan aku Tania!” Ucap Haikal langsung keluar dari rumah Tania.
Betapa pedihnya perasaan Tania saat
itu. Telepon dan sms yang berderingpun tak ia angkat. Ayah Tania pun melarang
keras hubungan Tania dan Haikal malah minta diputusin dan dilarang berhubung
lagi. Si ibu yang pengertian tak menyalahkan Tania. Ia Cuma memberi nasihat
kepada anak semata wayangnya itu. Agar berhat-hati dalam memilih pengisi hati.
Akhirnya Tania pun menyadari bahwa ia salah memilih kekasih hati yang selama
ini ia sayangi.
***
Biodata:
Penulis
bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa jurusan Sosiologi FIS UNP ini
lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Bakat menulisnya muncul sejak ia
berumur 19 tahun. Tulisan pertamanya pernah dimuat di koran Singgalang Minggu
(koran lokal SUMBAR). Selain itu ia juga sudah menghasilkan tulisan yang
dibukukan seperti buku Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora
Yang Setia Berpijar” keduanya terbitan
FAM Publishing, 2012. Sebentar lagi buku Antologi Puisi “Bukittinggi, Ambo Ado
Disiko” akan segera terbit. Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan
Email: asyhari_hasan@yahoo.com.
Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang,
SUMBAR 27112.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar