Jumat, 29 Maret 2013

FF: Cinta Yang Bernoda (Hasan Asyhari)


            “Tania, mari kita jalan!” Ajak Haikal sambil memegang kunci mobilnya.
            Tania sosok gadis yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Medan. Dan Haikal juga seorang mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang berbeda dengan Tania. Malam ini adalah malam minggu. Mereka hendak pergi ke mall terbesar di Medan. Bak sejoli yang masih selalu menginginkan kesetiaan. Berdua-dua adalah paling asyik bagi dunia mereka. Di sana ia bermain game-game menarik pelepas lelah hampir setiap harinya diisi dengan kesibukan kuliah dan organisasi kampus. Tania dan Haikal sudah berpacaran sejak kuliah sama-sama semester 2.
            “Kal, aku besok sudah pergi ke Pekanbaru untuk magang selama satu bulan. Bolehkan?” Izin Tania pada Haikal bak pasangan suami istri.
            “Tentu boleh Nia,” balasnya senang.
            Suasana siang itu agak asing. Ada hawa keanehan saat percakapan mereka.  Seharusnya sebagai sesosok cowok sejati. Ia merasa sedikit khawatir Tania akan diganggu cowok-cowok lain di sana. Malah, ia sangat senang. Matapun berbinar keriangan bak menari-nari di atas permadani.
            Akhirnya, dua hari setelah itu. Tania berangkat bersama rombongan teman-teman kuliahnya dan beberapa orang dosen. Keberangkatannya tak dilepas sang kekasih hati yang waktu itu sedang kuliah.
            Ayah Tania sebelumnya sudah merestui hubungan Tania dengan Haikal. Beberapa hari pasca kepergian Tania. Penglihatannya diwarnai dengan tingkah aneh dari Haikal. Meskipun Tania tidak ada di rumah ia sering berkunjung ke rumah orangtua Tania.
            Suatu hari Haikal datang bersama seorang laki-laki. Lumayan tampan dan badannya pun berotot. Laki-laki itu sebelumnya tak pernah ia ajak ke rumah Tania.
***
            “Assalamu’alaikum...” Ucapnya santai.
            “Wa’alaikum salam,” jawab Ibu Tania yang keluar dari kebun belakang rumah. Ibu Tania seorang ibu rumah tangga yang senang berkebun tanaman hias. Banyak tanaman hias yang berjejer di depan rumahnya. Ayah Tania seorang manager di salah satu perusahaan asing.
            “Apa kabar nak Ikal,” sapa Ibu Tania. Ikal sapaan akrab Haikal oleh keluarga Tania.
            “Alhamdulillah, sehat bu. Ibu bagaimana?” balasnya tanya balik.
            “Alhamdulillah sepert inilah nak Ikal, he he,” jawabnya sambil tawa.
            “Oh ya, bapak ke mana buk?” Tanyanya penasaran.
            “Bapak lagi di atas,” terang Ibu Tania.
            “Oo, iya gak apa-apa buk,” jawabnya ragu. Rudi teman Haikal yang ia bawa tadi belum sempat ia perkenalkan sama Ibu Tania sampai-sampai Ibu Tania menanyakan tentang Rudi.
            “Oh iya, siapa nama teman Ikal?” Tanya Ibu Tania pada Rudi.
            “Rudi bu, saya teman kuliah Ikal,” terang Rudi langsung. Rudi orangnya cukup pendiam apa yang ditanya itu saja yang ia jawab. Lebih banyak senyum daripada bicara. Kesopanan dan lesung pipi yang merona di wajahnya membuat Ibu Tania senang padanya.
            “Sebentar ya Ikal dan Rudi, Ibu ke belakang sebentar,” ucapnya senyum. Ibu Tania ke belakang mengambil sepiring risoles yang masih tertutup renggang di dapur.
            Tiba-tiba, ayah Tania turun dari kamar atas. Ia melihat Haikal dan Rudi sedang berpelukan. Bak menghampiri istri yang lagi kesedihan. Bunyi rentakan kakipun mengaduh suasana saat itu. Terpucat wajah Haikal dan Rudi kala itu. Suasanapun berubah sesaat. Namun ayah Tania tidak menanya langsung. Karena ia melihat dari tangga pertama turun dari lantai atas barangkali matanya yang sudah mulai buram di ambang usia. Seorang Bapak yang tidak menginginkan suatu yang janggal nantinya. Ia pun berusaha mencari data yang pasti siapa sebenarnya Haikal ini. Yang ia tahu, bahwa Haikal seorang anak pengusaha di negeri jiran Malaysia.
            “Apa kabar Haikal?” Sambut bapak berkaca mata itu. Sengaja tidak diutarakannya apa yang baru dilihatnya barusan. Merekapun bincang-bincang seperti tak ada masalah satupun. Padahal di pikiran ayah Tania sudah terlinang sedikit luka.  Akhirnya tak beberapa lama setelah itu Haikal dan Rudipun hendak ingin keluar dari rumah nan cukup besar itu karena mereka ada kegiatan lain juga.
***
           
            Malam ini pukul 20.30 WIB Haikal dan Rudi berencana pergi ke tempat fitness. Rudi baru dikenal Haikal sewaktu Rudi membantu Haikal menambal ban mobilnya di sebuah bengkel tempat Rudi bekerja. Kebetulan Rudi bekerja di bengkel mobil dan juga hampir setiap kamis malam ia bertemu dengan Rudi di tempat fitness yang sama. Kemudian Haikal menjemput Rudi di sebelah bengkel mobil yang merupakan tempat kost Rudi.
            “Halo Rudi. Yuk, kita pergi lagi!” Ajaknya cepat.
            “Ayuk Kal,” ucap Rudi balik.
            Malam itu juga ayah Tania kebetulan di telepon oleh temannya yang berada di tempat fitness Haikal. Pak Roni namanya, ia menelepon ayah Tania karena urusan kantor yang harus ia bicarakan juga di sana. Pak Roni sering fitness di sana. Namun, karena ada yang mau dibicarakannya dengan ayah Tania. Terpaksa ayah Tania datang ke tempat itu. Tempat yang direncanakan sebagai tempat pertemuan ayah Tania dengan Pak Roni rekan kerjanya. Akhirnya memancing sebuah masalah yang tak diduga. Ia melihat Haikal seperti berciuman dengan seorang lelaki di sudut kafe tempat fitness yang cukup lengang waktu itu. Ayah Tania kebetulan membawa camera dygital yang ia simpan di dalam tas kecil yang ia selalu ia sandang kemana pergi. Ia agak mendekat menuju meja nomor 6. Dipakainya topi coklat bak anak muda. Kemudian diambil kamera digital itu lalu ia foto ekspresi yang mereka lakukan berdua. Bertambah yakin ayah tania bahwa pacar anaknya itu pecinta sejenis.
            Tania yang sangat setia dengan Haikal. Komunikasinya tetap terjalin meskipun lewat telepon dan akun jejaring sosial yang mereka miliki. Tania sering menghubungi Haikal lewat telepon genggamnya begitu juga Haikal. Percintaan mahasiswa beda perguruan tinggi itu tanpa disadari percintaannya sudah ternodai akan tingkah Haikal yang tak sewajarnya sebagai seorang lelaki. Tak diduga sebelumnya ia sudah menyalurkan nafsu kepada sesosok lelaki yang barumur tiga puluhan. Belum jadi pacar sebenarnya ia sudah melakukan perilaku menyimpang itu. Haikal ternyata korban pelecehan seksual oleh teman ayahnya waktu ia masih SMP di Jakarta. Sehingga Haikal menjadi candu berbuat seperti itu. Tak hanya dengan Rudi beberapa teman cowok juga pernah ia jadikan pacar. Namun, karena sudah kuliah ini ia sudah melupakan hal itu. Saat kepergian Tania ke Pekanbaru cinta sesama jenis itu kembali membara. Tak tahu apa penyebabnya. Apakah tak tahan ditinggal Tania atau bagaimana.
***
            Hampir sebulan Tania magang di Pekanbaru dan hendak pulang ke Medan. Dengan wajah rindu ia menginjaki kaki di kota samosir itu. Di teleponnya Haikal untuk menjemputnya di kampus.
            “Halo, sayang jemput aku ya di kampus!” Suruh Tania.
            “Ya sayangku!” Jawabnya romantis.
            Tak berapa lama datanglah Tania dan Haikal ke rumah. Orangtua Tania juga menunggu kedatangan anak satu-satunya keluarga itu.
            “Assalamu’alaikum ayah, ibu.” Dipeluk Tania kedua orangtuanya yang sedang berada di ruang tamu. Haikal sedang membawa barang Tania dari garasi mobil. Ia pun terkejut saat ayah Tania tiba-tiba melarang mendekati anak perempuannya itu.
            “Jangat dekat kau!” Larang ayah Tania dengan nada kasar.
            “Kenapa ayah seperti itu?” Tanya Tania cemas.
            Ayah Tania pun memperlihatkan foto-foto Haikal sedang menciumi seorang cowok.
            “Apa-apan ini Kal?” Tanya Tania marah.
            “Ini..ini..bukan aku,” jawab terbata-bata.
            “Ini, ini apaan. Sudah...Kau benar-benar berengsek. Pergi kau dari sini!” Usir ayah Tania. Tania pun sangat sedih melihat foto-foto itu. Tak terbayang sebelumnya bahwa cowok yang sangat ia cintai berperilaku seperti itu.
            “Haikal, kau sudah menodai kesucian cinta kita. Aku benci kamu Ikal.” Kesal Tania pada Haikal.
            “Ya, ma’afkan aku Tania!” Ucap Haikal langsung keluar dari rumah Tania.
            Betapa pedihnya perasaan Tania saat itu. Telepon dan sms yang berderingpun tak ia angkat. Ayah Tania pun melarang keras hubungan Tania dan Haikal malah minta diputusin dan dilarang berhubung lagi. Si ibu yang pengertian tak menyalahkan Tania. Ia Cuma memberi nasihat kepada anak semata wayangnya itu. Agar berhat-hati dalam memilih pengisi hati. Akhirnya Tania pun menyadari bahwa ia salah memilih kekasih hati yang selama ini ia sayangi.
***

Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa jurusan Sosiologi FIS UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Bakat menulisnya muncul sejak ia berumur 19 tahun. Tulisan pertamanya pernah dimuat di koran Singgalang Minggu (koran lokal SUMBAR). Selain itu ia juga sudah menghasilkan tulisan yang dibukukan seperti buku Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar”  keduanya terbitan FAM Publishing, 2012. Sebentar lagi buku Antologi Puisi “Bukittinggi, Ambo Ado Disiko” akan segera terbit. Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar