“Farid, dari mana kamu rid?” Tanya Daus dari depan toko karpet milik orangtuanya di pasar Padangpanjang.
“Dari Padang Us. Baru
siap ujian tengah semester” jawabnya santai. Sembari menyandang tas laptop acer-nya.
“Sini dulu duduk, jangan
buru pulang Rid!” Larang Daus bertubuh kurus itu.
“Hmm, gimana ya Us. Aku
harus merapikan buku-buku yang ada di rumah.” Jawab Farid ragu.
“Hah, jangan sok rajin
Rid,” bantah Daus tertawa.
“Ya, ya.. Tapi sebentar
ya!” Balas Farid ragu-ragu.
Siang menjelang sore
itu merekapun berbincang-bincang mengenai kuliah Farid. Maklum, Daus sangat
penasaran dengan dunia kampus. Sejak lulus SMA ia tidak nyambung kuliah. Karena
ingin meneruskan usaha orangtuanya berdagang karpet permadani.
Farid, seorang
mahasiswa semester enam di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang.
Ia sangat anti berpacaran. Terlebih sejak ia mulai aktif di Forum Studi Islam
yang ada di kampusnya. Selama itu pula ia memahami kebaikan dan keburukan
berpacaran. Memang, banyak yang naksir padanya. Tubuhnya tinggi, berbadan,
wajah bersih putih dan rambut lurus sempat membuatnya menjadi gilaan para
perempuan. Sempat suatu hari seorang mahasiswi yang berlain jurusan dengannya
meminta Farid menjadi cowoknya. Farid sebagai lelaki normal tentu juga
merasakan sentuhan dari kata-kata perempuan yang cukup merobohi imannya. Tapi
bagaimanapun ia tetap menolaknya. Semampunya Farid memberikan pemahaman pada
mahasiswi yang cantik dan berhijab itu.
“Rid, gimana
kuliahnya?” Tanya Daus sambil menghisap sebatang rokok.
“Alhamdulillah
aman-aman saja!” Jawabnya singkat.
“Oow… syukurlah kalau
begitu,” Ucap Daus tawa kecil.
Semakin tertawa,
semakin tampak oleh Farid kemunculan gigi coklatnya. Daus termasuk perokok
aktif sejak SMA. Sebenarnya ia sudah sempat dirawat di rumah sakit khusus paru-paru.
Ia sangat ngeyel sekali. Susah dibilang orangnya.
“Us, kamu gak ada niat
ikut kuliah Us?” Tanya Farid sedikit menggeser tempat duduknya. Asap rokok terus
mengempuli Farid. Terpaksa ia geser perlahan kursi merah plastik yang ia duduki.
“Sebenarnya ada, tapi
kadang ingin dagang aja, hehe..” Balasnya.
“Ya, sudah kalau
begitu. Yang penting kamu fokusin aja sama dagang ini. Banyak juga toh orang
yang gak kuliah juga berhasil. Nabi Muhammad kita aja gak ada pake
kuliah-kuliahan. Tapi berkat izin Allah swt, ia berhasil juga dalam berdagang.”
Pesan Farid seperti seorang ustadz.
“Iya Rid, mohon do’anya
saja,” ucap daus senyum.
“Aamiin…” Farid
tersenyum.
***
Tiba-tiba di depan toko
Daus, lalu lalang cewek-cewek cantik. Daus orangnya ganjen banget.
Sampai-sampai ia bersiur keras.
“Swiit, swiit…”
“Switt, switt…” Siuran
Daus dari dalam tokonya.
“Ceweknya mantap coy!!”
Kata Daus pada Farid.
“Iya…” Jawab Farid.
“Ahai… kok singkat gitu
jawabnya. Jangan… jangan kamu…!!” ucap Daus curiga.
“Jangan, jangan apa
Us??“ Tanya Farid seperti takut diketawain.
“Jangan, jangan kamu
gak normal Rid!” Balasnya tawa kecil.
“Ha, ha.. Gak normal
kenapa Us? Aku normal kok, buktinya di kampus banyak cewek yang gila-gilaan
sama aku.” Ucap Farid yakin.
“Oh iya? Terus kenapa
kamu juga belum punya pacar Rid? Kamu gagah Rid, pasti banyak yang ingin sekali
sama kamu. Berbeda denganku yang hitam langsat, kurus lagi!” Kata Daus puji
Farid dan juga mencela dirinya sendiri.
“Pacaran itu gak ada
gunanya Us, malah bikin kita rugi.” Terangnya.
“Rugi kenapa?” Tanyanya
balik.
“Ya, coba bayangkan!
Kalo malam minggu mau diajak ke mana? biasanya ke kafe, nonton ke bioskop. Itu
butuh berapa duit coy?? Emang uang dari orangtua kita gunain untuk itu apa??
Itu rugi dari segi materi. Kalau dari segi waktu, tenaga banyak lagi Us
ruginya. Yang jelas gak ada untungnya berpacaran Us” Jelas Farid meyakinkan
Daus.
“Ha, ha… Namanya
pacaran harus berkorban Rid. Gak pacaran aja kamu sama pohon?” Tawa Daus bikin
kesal Farid.
“Ya, sudah Us. Semakin
banyak kita berdebat. Semakin banyak yang salah. Aku pulang dulu, Ibu sudah sms (short
message service).” Izin Farid keluar dari toko Daus.
“Oke, besok ke sini
lagi ya!” Kata Daus.
“Insya Allah!” Jawab
Farid senyum.
***
“Assalamu’alaikum,..”
Ucap Farid sambil membuka pintu depan rumah.
“Oow.. Farid. Udah
pulang nak!” Sambut Ibunya dari dapur.
“Udah bu.” Balasnya.
“Ayah dan adik-adik
mana bu?” tanya Farid.
“Coba lihat di ruang
tengah nak!” Suruh Ibunya.
“Tidak ada bu!”
Katanya.
“Oow, iya. Ibu lupa.
Ayah dan adik-adik pergi menjenguk Ibu Saudah yang sedang sakit.” Ucap Ibu.
Ibu Saudah merupakan
adik dari ayah Farid. Ia memiliki dua orang anak. Kedua-duanya cewek. Mendengar
ucapan Ibu tadi, Farid langsung melaju ke sana. Tak peduli, tidak ada motor. Ia
bersikukuh tetap pergi. Ibu Saudah sering memberinya uang untuk ongkos ke
Padang.
“Ibu, Farid ke rumah
Ibu Saudah juga ya bu.” Pinta Farid.
“Iya nak, hati-hati ya.
Tapi motor dibawa ayah.” Balas Ibunya.
“Tidak apa-apa bu!”
Ucapnya senyum.
Beberapa menit
kemudian, Farid sampai di rumah ibu Saudah. Rumahnya tidak terlalu jauh.
Berjalan saja bisa menuju rumah Ibu Saudah. Ibu Farid sebenarnya tadi pagi juga
sudah ke sana. Karena mau masak sambal, Ayah dan adik-adiknya saja yang pergia
siang itu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…Ooh,
Farid! Kapan pulang Rid?” Sambut Icha.
“Tadi jam 3 Cha.”
Ucapnya.
“Iya, duduk dulu.
Sebentar ini ayah dan adik-adik Farid ke sini. Sekarang ia pergi ke pasar
katanya. Ada yang mau dibeli.” Kata Icha.
““Iya, tadi ibu juga bilang
cha.” Jawab Farid.
“Oh ya, ngomong-ngomong
gimana kuliahnya? Udah punya pacar belum? He… he…” Tanyanya canda.
“Alhamdulillah lancar
Cha. Hmm, pacar?? Jangan ditanya Cha. He.. he..” Balasnya santai.
“Kenapa gitu Rid?”
Tanya Icha.
“Gak apa-apa Cha, aku
mau fokus kuliah dulu. Pacar ntar nyusul aja.” Katanya.
“Ya, rugi kalau orang
segagah kamu gak punya pacar?”
“Rugi kenapa? Malah aku
merasa senang sekali. Dalam agama-pun kita dilarang pacaran Cha. Sebab mengarah
pada zina.” Ucapnya.
“Zina kenapa Rid? Kita
kan gak ngelakuin hal-hal aneh!” Balasnya.
“Iya, Zina.. secara
tidak langsung nafsu kita udah menjurus pada itu Cha. Banyak dari hal-hal yang
biasa menjadi luar biasa. Awalnya temanan, lihat-lihatan wajah dan
ujung-ujungnya hamil Cha. Na’uzubillah!”
Tangkas Farid
“Haha, Iya. Iya Pak
Ustadz” Balas Icha memuji.
“O, iya.. Ibu Saudah
mana cha?” Tanyanya.
“Ibu ada di dalam kamar
Rid. Masuk aja!” Suruhnya.
“Ibu, gimana kabar Bu?”
Tanya Farid rusuh.
“Alhamdulillah udah
mendingan Rid. Kemarin sempat dirwat karena sakit mag. Kapan pulang Rid? ”
“Alhamdulillah kalau
begitu bu! Tadi siang bu, Farid pulangnya.” Balas Farid.
Biodata:
Nama aslinya Hasan
Asyhari, ia memiliki nama pena Hasan Al Faritsi. Tulisannya sudah banyak
dibukukan dalam antologi bersama. Baik berupa kumpulan surat, cerpen dan puisi.
Karya pertamanya berupa Antologi Cerpen “Pesona Odapus” (FAM Publishing,
2012). Ia memiliki e-mail: asyhari_hasan@yahoo.com.
Dengan facebook “Hashan Asyharii.”
Untuk menghubunginya, silakan kontak nomor handphone
085272985628.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar