Senin, 27 Januari 2014

Cerpen: Si Jomblowan Muslim


           “Farid, dari mana kamu rid?” Tanya Daus dari depan toko karpet milik orangtuanya di pasar Padangpanjang.
“Dari Padang Us. Baru siap ujian tengah semester” jawabnya santai. Sembari menyandang tas laptop acer-nya.
“Sini dulu duduk, jangan buru pulang Rid!” Larang Daus bertubuh kurus itu.
“Hmm, gimana ya Us. Aku harus merapikan buku-buku yang ada di rumah.” Jawab Farid ragu.
“Hah, jangan sok rajin Rid,” bantah Daus tertawa.
“Ya, ya.. Tapi sebentar ya!” Balas Farid ragu-ragu.
Siang menjelang sore itu merekapun berbincang-bincang mengenai kuliah Farid. Maklum, Daus sangat penasaran dengan dunia kampus. Sejak lulus SMA ia tidak nyambung kuliah. Karena ingin meneruskan usaha orangtuanya berdagang karpet permadani.
Farid, seorang mahasiswa semester enam di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang. Ia sangat anti berpacaran. Terlebih sejak ia mulai aktif di Forum Studi Islam yang ada di kampusnya. Selama itu pula ia memahami kebaikan dan keburukan berpacaran. Memang, banyak yang naksir padanya. Tubuhnya tinggi, berbadan, wajah bersih putih dan rambut lurus sempat membuatnya menjadi gilaan para perempuan. Sempat suatu hari seorang mahasiswi yang berlain jurusan dengannya meminta Farid menjadi cowoknya. Farid sebagai lelaki normal tentu juga merasakan sentuhan dari kata-kata perempuan yang cukup merobohi imannya. Tapi bagaimanapun ia tetap menolaknya. Semampunya Farid memberikan pemahaman pada mahasiswi yang cantik dan berhijab itu.
“Rid, gimana kuliahnya?” Tanya Daus sambil menghisap sebatang rokok.
“Alhamdulillah aman-aman saja!” Jawabnya singkat.
“Oow… syukurlah kalau begitu,” Ucap Daus tawa kecil.
Semakin tertawa, semakin tampak oleh Farid kemunculan gigi coklatnya. Daus termasuk perokok aktif sejak SMA. Sebenarnya ia sudah sempat dirawat di rumah sakit khusus paru-paru. Ia sangat ngeyel sekali. Susah dibilang orangnya.
“Us, kamu gak ada niat ikut kuliah Us?” Tanya Farid sedikit menggeser tempat duduknya. Asap rokok terus mengempuli Farid. Terpaksa ia geser perlahan kursi merah plastik yang ia duduki.
“Sebenarnya ada, tapi kadang ingin dagang aja, hehe..” Balasnya.
“Ya, sudah kalau begitu. Yang penting kamu fokusin aja sama dagang ini. Banyak juga toh orang yang gak kuliah juga berhasil. Nabi Muhammad kita aja gak ada pake kuliah-kuliahan. Tapi berkat izin Allah swt, ia berhasil juga dalam berdagang.” Pesan Farid seperti seorang ustadz.
“Iya Rid, mohon do’anya saja,” ucap daus senyum.
“Aamiin…” Farid tersenyum.
***
Tiba-tiba di depan toko Daus, lalu lalang cewek-cewek cantik. Daus orangnya ganjen banget. Sampai-sampai ia bersiur keras.
“Swiit, swiit…”
“Switt, switt…” Siuran Daus dari dalam tokonya.
“Ceweknya mantap coy!!” Kata Daus pada Farid.
“Iya…” Jawab Farid.
“Ahai… kok singkat gitu jawabnya. Jangan… jangan kamu…!!” ucap Daus curiga.
“Jangan, jangan apa Us??“ Tanya Farid seperti takut diketawain.
“Jangan, jangan kamu gak normal Rid!” Balasnya tawa kecil.
“Ha, ha.. Gak normal kenapa Us? Aku normal kok, buktinya di kampus banyak cewek yang gila-gilaan sama aku.” Ucap Farid yakin.
“Oh iya? Terus kenapa kamu juga belum punya pacar Rid? Kamu gagah Rid, pasti banyak yang ingin sekali sama kamu. Berbeda denganku yang hitam langsat, kurus lagi!” Kata Daus puji Farid dan juga mencela dirinya sendiri.
“Pacaran itu gak ada gunanya Us, malah bikin kita rugi.” Terangnya.
“Rugi kenapa?” Tanyanya balik.
“Ya, coba bayangkan! Kalo malam minggu mau diajak ke mana? biasanya ke kafe, nonton ke bioskop. Itu butuh berapa duit coy?? Emang uang dari orangtua kita gunain untuk itu apa?? Itu rugi dari segi materi. Kalau dari segi waktu, tenaga banyak lagi Us ruginya. Yang jelas gak ada untungnya berpacaran Us” Jelas Farid meyakinkan Daus.
“Ha, ha… Namanya pacaran harus berkorban Rid. Gak pacaran aja kamu sama pohon?” Tawa Daus bikin kesal Farid.
“Ya, sudah Us. Semakin banyak kita berdebat. Semakin banyak yang salah. Aku pulang dulu, Ibu sudah sms (short message service).” Izin Farid keluar dari toko Daus.
“Oke, besok ke sini lagi ya!” Kata Daus.
“Insya Allah!” Jawab Farid senyum.
***
“Assalamu’alaikum,..” Ucap Farid sambil membuka pintu depan rumah.
“Oow.. Farid. Udah pulang nak!” Sambut Ibunya dari dapur.
“Udah bu.” Balasnya.
“Ayah dan adik-adik mana bu?” tanya Farid.
“Coba lihat di ruang tengah nak!” Suruh Ibunya.
“Tidak ada bu!” Katanya.
“Oow, iya. Ibu lupa. Ayah dan adik-adik pergi menjenguk Ibu Saudah yang sedang sakit.” Ucap Ibu.
Ibu Saudah merupakan adik dari ayah Farid. Ia memiliki dua orang anak. Kedua-duanya cewek. Mendengar ucapan Ibu tadi, Farid langsung melaju ke sana. Tak peduli, tidak ada motor. Ia bersikukuh tetap pergi. Ibu Saudah sering memberinya uang untuk ongkos ke Padang.
“Ibu, Farid ke rumah Ibu Saudah juga ya bu.” Pinta Farid.
“Iya nak, hati-hati ya. Tapi motor dibawa ayah.” Balas Ibunya.
“Tidak apa-apa bu!” Ucapnya senyum.
Beberapa menit kemudian, Farid sampai di rumah ibu Saudah. Rumahnya tidak terlalu jauh. Berjalan saja bisa menuju rumah Ibu Saudah. Ibu Farid sebenarnya tadi pagi juga sudah ke sana. Karena mau masak sambal, Ayah dan adik-adiknya saja yang pergia siang itu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…Ooh, Farid! Kapan pulang Rid?” Sambut Icha.
“Tadi jam 3 Cha.” Ucapnya.
“Iya, duduk dulu. Sebentar ini ayah dan adik-adik Farid ke sini. Sekarang ia pergi ke pasar katanya. Ada yang mau dibeli.” Kata Icha.
““Iya, tadi ibu juga bilang cha.” Jawab Farid.
“Oh ya, ngomong-ngomong gimana kuliahnya? Udah punya pacar belum? He… he…” Tanyanya canda.
“Alhamdulillah lancar Cha. Hmm, pacar?? Jangan ditanya Cha. He.. he..” Balasnya santai.
“Kenapa gitu Rid?” Tanya Icha.
“Gak apa-apa Cha, aku mau fokus kuliah dulu. Pacar ntar nyusul aja.” Katanya.
“Ya, rugi kalau orang segagah kamu gak punya pacar?”
“Rugi kenapa? Malah aku merasa senang sekali. Dalam agama-pun kita dilarang pacaran Cha. Sebab mengarah pada zina.” Ucapnya.
“Zina kenapa Rid? Kita kan gak ngelakuin hal-hal aneh!” Balasnya.
“Iya, Zina.. secara tidak langsung nafsu kita udah menjurus pada itu Cha. Banyak dari hal-hal yang biasa menjadi luar biasa. Awalnya temanan, lihat-lihatan wajah dan ujung-ujungnya hamil Cha. Na’uzubillah!” Tangkas Farid
“Haha, Iya. Iya Pak Ustadz” Balas Icha memuji.
“O, iya.. Ibu Saudah mana cha?” Tanyanya.
“Ibu ada di dalam kamar Rid. Masuk aja!” Suruhnya.
“Ibu, gimana kabar Bu?” Tanya Farid rusuh.
“Alhamdulillah udah mendingan Rid. Kemarin sempat dirwat karena sakit mag. Kapan pulang Rid? ”
“Alhamdulillah kalau begitu bu! Tadi siang bu, Farid pulangnya.” Balas Farid.  


Biodata:
Nama aslinya Hasan Asyhari, ia memiliki nama pena Hasan Al Faritsi. Tulisannya sudah banyak dibukukan dalam antologi bersama. Baik berupa kumpulan surat, cerpen dan puisi. Karya pertamanya berupa Antologi Cerpen “Pesona Odapus” (FAM Publishing, 2012).  Ia memiliki e-mail: asyhari_hasan@yahoo.com. Dengan facebook “Hashan Asyharii.” Untuk menghubunginya, silakan kontak nomor handphone 085272985628.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar