Betul sudah kata
pepatah penyesalan emang di akhir. Sudah hampir tiga minggu Rudi berada di sel
tahanan Polres kota Bukittinggi. Baru
sekali ini dia merasakan getirnya kehidupan di sel tahanan. Tepatnya pada pukul
21.30 WIB bermula dari kedatangan beberapa polisi di sebuah rumah tempat biasanya Rudi dan teman-temannya nongkrong. Saat polisi datang
menyeroboti rumah tersebut, dia kedapatan sedang menghisap ganja kering yang
diselip ke dalam satu batang bungkusan rokok dengan beberapa barang bukti (BB)
berupa 2 kotak kecil ganja kering di depannya. Hal ini tidak baru sekali dia
lakukan bahkan sudah berkali-kali. Dan ternyata dia dan teman-temannya
merupakan
target operasional (TO) kepolisian kota Bukittinggi. Saat Rudi melihat segombolan orang berpakaian preman datang perasaannya
terasa aneh. Ketokan pintu pertama pun mulai dating. “Tok, tok, tok,” bunyi suara
ketokan pintu yang berbunyi kencang. Rudi tidak menyahut bahkan ia langsung berlarian ke belakang rumah.
Akhirnya mereka masuk secara
paksa ke dalam rumah dengan mendobrak pintu yang sudah agak tua
itu. Temannya yang sedang
keasyikan pesta ganja tak menyadari bahwa ada orang yang datang. Nah, ternyata
mereka beberapa orang polisi yang ditugaskan untuk menangkap Rudi dan
teman-temannya. Rudi tidak sempat untuk memberitahu teman-temannya itu. Alhasil
teman-temannya ditangkap dan Rudi berupaya melarikan diri ke belakang rumah.
Namun, niatnya untuk melarikan diri tak berjalan dengan mulus. “Jika
kamu lari kakimu akan saya tembak, ayok menyerahlah,” tangkas polisi pemegang
pistol itu. Akhirnya
dengan rasa pasrah Rudi pun menyerahkan diri, lalu kedua tangannya diborgol. Rudi dan tiga orang temannya
dibawa ke Polres lalu diintrogasi kemudian dimasukkan ke dalam sel tahanan.
Di
tengah malam yang sunyi, saat ibu Rudi
ingin menghubunginya
beberapa kali melalui telepon genggam miliknya, Rudi seperti tidak biasanya, jika
dihubungi Ibunya dia langsung membalas kembali telepon atau sms dari ibunya. Di
saat terakhir ibunya menghubungi Rudi, ternyata yang mengangkat telepon adalah
suara seorang laki-laki yang agak tegas suaranya dan laki-laki itu menjawab
telepon dari ibu Rudi, “Buk, anak ibu Rudi kami tangkap di Polres karena
terlibat Narkoba,” kata laki-laki yang semula tidak diketahui ibu Rudi yang
ternyata seorang polisi. Lalu
dengan suara lemas dan terbata-bata ibu Rudi menjawab, “Ya, Pak. Kenapa dengan
anak saya? Anak saya tidak pernah menggunakan Narkoba,” jawab Ibu Rudi. Ibu
Rudi sangat terkejut mendengar berita tersebut, sampai dia menangis dan tak
sadarkan diri.
Malam itu pun Ibu dan
Ayah Rudi berangkat ke Polres dengan berjalan kaki yang dihantui rasa takut dan
pikiran yang hampir tidak sadar diri lagi. Setiba di Polres, orangtua Rudi
tidak bertemu langsung dengan Rudi karena sedang dalam proses. Orangtua Rudi
malah dikejuti dengan sepucuk surat penangkapan yang diberikan oleh seorang
penyidik kasus narkoba. “Bapak dan Ibu untuk dua hari ke depan Rudi belum bisa
dijenguk karena dalam proses,” ungkap penyidik kasus Rudi tersebut. Bercucuran
air mata kedua orangtua Rudi mendengar hal tersebut. Lalu satu jam setelah itu
orangtua Rudi pun pulang ke rumah dengan dihantui perasaan tidak senang selalu
bahkan menagis terus hingga besok harinya. Pantas saja orangtua Rudi seperti
itu karena Rudi adalah anak pertama dari orang tuanya.
***
Dua hari pun berlalu,
tepatnya pada pukul 14.30 WIB orangtua Rudi ke Polres untuk menjenguk Rudi
dengan membawa makanan dan beberapa pakaian Rudi. Tiba disana orang tuanya
langsung melapor ke salah satu ruangan di Polres tersebut guna mengecek barang
bawaan orangtuanya. Hal itu dilakukan polisi untuk mencegah barang bawaannya
yang dilarang seperti kain sarung panjang, celana panjang dan juga celana yang
pakai tali di sekitar pinggang celana karena pernah terjadi kasus gantung diri
di dalam tahanan oleh salah seorang tahanan yang tidak sanggup di tahan dalam
sel tahanan. Setelah pemeriksaan barang bawaan orangtua Rudi, mereka pun di
silakan untuk menuju ruangan dimana anak mereka di tahan.
Selama masa penjengukan di Polres para tahanan
hanya diperbolehkan untuk bertemu langsung dengan keluarganya hanya melalui
batasan dinding treli besi yang di buat khusus sebagai pembatas. Hal ini
bertujuan agar tahanan tidak melarikan diri dari sel tahanan. Kurang dari satu
jam orang tuanya berbicara dengan Rudi, dalam pembicaraan tersebut orang tuanya
malah bercucuran air mata karena tidak tahan melihat anak mereka di balik
jeruji besi tersebut. Maklum saja bahwa baru sekali ini mereka ke dalam sel
tahanan karena dalam keluarga orangtua Rudi belum pernah menemui kasus seperti
itu. Saat waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB polisi penjaga sel tahanan
mengingatkan kepada orangtua Rudi bahwa waktu jenguk sudah habis. Lalu dengan
rasa berat hati dan penuh rasa sedih orangtuanya pun meninggalkan Rudi sambil
memegang erat tangannya.
Sampai
di rumah pukul 16.00 WIB, orangtua Rudi langsung menghubungi kerabat dari ayah dan ibu
Rudi. Mereka baru memberitahukannya sekarang karena kalau diberitahu cepat
takutnya akan terkejut. Keluarga ibu Rudi yang berada di Pariaman yang memiliki
anak juga seorang polisi di Polres kota Pariaman. Turut merasa sedih sekali
mendengar hal itu bahkan merasa terpukul. Kerena biasanya orang lain yang dia
hadapi tetapi sekarang bahkan adik dia
sendiri yang jadi tahanan. Dalam
komunikasi di telepon genggam, dia mengatakan bahwa besok sore dia akan ke
Bukittinggi menjenguk Rudi. Karena kalau pagi ada upacara HUT Bhayangkara,
ujarnya kepada Ibu Rudi. Bersama keluarga Ibu Rudi, abang Rudi yang tanpa
seragam polisi itu langsung menuju Polres Bukittinggi tanpa lebih dahulu
bersinggah di rumah orangtuanya. Setiba disana dia bertemu dengan seorang teman
yang kebetulan dua tahun yang lalu pernah bertugas di Pariaman yang sekarang
bertugas di bagian Narkoba itu juga.
Dengan panjang cerita
mereka pun mengobrol dan meminta solusi yang seminimalnya untuk penahanan Rudi
ini. Karena Rudi yang sebenarnya adalah pemakai sekaligus pengedar diminta
keringanan untuk status sebagai pemakai saja. “Jika status Rudi sebagai pengedar
maka hukumannya cukup lama,”
ujar
teman abang Rudi itu.
Setelah
itu, abang Rudi yang polisi itu menjumpainya secara langsung tanpa sekatan
karena kebetulan sesama polisi diberi kekhususan untuk bertemu langsung tanpa
batasan dinding treli besi yang biasanya sebagai pembatas penjenguk tahanan di
Polres tersebut. Lalu abang Rudi itu pun mengatakan kalau diminta keterangan
tolong dijawab dengan tepat dan benar karena dengan kejujuran dapat meringankan
hukuman, ungkap abang Rudi dengan suara agak sedikit lunak. “Nasi
sudah menjadi bubur, kalau saya tahu sebelumnya pasti saya akan cepat
mencegahnya,” kata abangnya itu di depan orang tua Rudi. Kemudian mereka pun
pulang dari Polres serta melakukan perbincangan masalah Rudi di rumah orangtuanya.
Sekarang
nasib Rudi masih tergantung karena masa penahanannya di sel tahanan Polres
terus diperpanjang hingga satu bulan ke depan sampai kasusnya tersebut
benar-benar terungkap. Itulah sesuatu yang tidak di duga-duga terjadi Rudi harus
selalu di beri motivasi-motivasi agar tidak depresi nantinya. Hanya do’a dari
orang-orang terdekatnya yang akan bisa meringankan hukuman Rudi sebab kasusnya ini
tidak bisa dibantu walau anak seorang pejabat sekalipun.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar