Sabtu, 26 Januari 2013

Cerpen: Ganja Mengejarku (Hasan Asyhari)


Betul sudah kata pepatah penyesalan emang di akhir. Sudah hampir tiga minggu Rudi berada di sel tahanan Polres kota Bukittinggi. Baru sekali ini dia merasakan getirnya kehidupan di sel tahanan. Tepatnya pada pukul 21.30 WIB bermula dari kedatangan beberapa polisi di sebuah rumah tempat biasanya Rudi dan teman-temannya nongkrong. Saat polisi datang menyeroboti rumah tersebut, dia kedapatan sedang menghisap ganja kering yang diselip ke dalam satu batang bungkusan rokok dengan beberapa barang bukti (BB) berupa 2 kotak kecil ganja kering di depannya. Hal ini tidak baru sekali dia lakukan bahkan sudah berkali-kali. Dan ternyata dia dan teman-temannya merupakan target operasional (TO) kepolisian kota Bukittinggi. Saat Rudi melihat segombolan orang berpakaian preman datang perasaannya terasa aneh. Ketokan pintu pertama pun mulai dating. “Tok, tok, tok,” bunyi suara ketokan pintu yang berbunyi kencang. Rudi tidak menyahut bahkan ia langsung berlarian ke belakang rumah. Akhirnya mereka masuk secara paksa ke dalam rumah dengan mendobrak pintu yang sudah agak tua itu. Temannya yang sedang keasyikan pesta ganja tak menyadari bahwa ada orang yang datang. Nah, ternyata mereka beberapa orang polisi yang ditugaskan untuk menangkap Rudi dan teman-temannya. Rudi tidak sempat untuk memberitahu teman-temannya itu. Alhasil teman-temannya ditangkap dan Rudi berupaya melarikan diri ke belakang rumah. Namun, niatnya untuk melarikan diri tak berjalan dengan mulus. “Jika kamu lari kakimu akan saya tembak, ayok menyerahlah,” tangkas polisi pemegang pistol itu. Akhirnya dengan rasa pasrah Rudi pun menyerahkan diri, lalu kedua tangannya diborgol. Rudi dan tiga orang temannya dibawa ke Polres lalu diintrogasi kemudian dimasukkan ke dalam sel tahanan.
            Di  tengah malam yang sunyi, saat ibu Rudi ingin menghubunginya beberapa kali melalui telepon genggam miliknya, Rudi seperti tidak biasanya, jika dihubungi Ibunya dia langsung membalas kembali telepon atau sms dari ibunya. Di saat terakhir ibunya menghubungi Rudi, ternyata yang mengangkat telepon adalah suara seorang laki-laki yang agak tegas suaranya dan laki-laki itu menjawab telepon dari ibu Rudi, “Buk, anak ibu Rudi kami tangkap di Polres karena terlibat Narkoba,” kata laki-laki yang semula tidak diketahui ibu Rudi yang ternyata seorang polisi. Lalu dengan suara lemas dan terbata-bata ibu Rudi menjawab, “Ya, Pak. Kenapa dengan anak saya? Anak saya tidak pernah menggunakan Narkoba,” jawab Ibu Rudi. Ibu Rudi sangat terkejut mendengar berita tersebut, sampai dia menangis dan tak sadarkan diri.
Malam itu pun Ibu dan Ayah Rudi berangkat ke Polres dengan berjalan kaki yang dihantui rasa takut dan pikiran yang hampir tidak sadar diri lagi. Setiba di Polres, orangtua Rudi tidak bertemu langsung dengan Rudi karena sedang dalam proses. Orangtua Rudi malah dikejuti dengan sepucuk surat penangkapan yang diberikan oleh seorang penyidik kasus narkoba. “Bapak dan Ibu untuk dua hari ke depan Rudi belum bisa dijenguk karena dalam proses,” ungkap penyidik kasus Rudi tersebut. Bercucuran air mata kedua orangtua Rudi mendengar hal tersebut. Lalu satu jam setelah itu orangtua Rudi pun pulang ke rumah dengan dihantui perasaan tidak senang selalu bahkan menagis terus hingga besok harinya. Pantas saja orangtua Rudi seperti itu karena Rudi adalah anak pertama dari orang tuanya.
***
Dua hari pun berlalu, tepatnya pada pukul 14.30 WIB orangtua Rudi ke Polres untuk menjenguk Rudi dengan membawa makanan dan beberapa pakaian Rudi. Tiba disana orang tuanya langsung melapor ke salah satu ruangan di Polres tersebut guna mengecek barang bawaan orangtuanya. Hal itu dilakukan polisi untuk mencegah barang bawaannya yang dilarang seperti kain sarung panjang, celana panjang dan juga celana yang pakai tali di sekitar pinggang celana karena pernah terjadi kasus gantung diri di dalam tahanan oleh salah seorang tahanan yang tidak sanggup di tahan dalam sel tahanan. Setelah pemeriksaan barang bawaan orangtua Rudi, mereka pun di silakan untuk menuju ruangan dimana anak mereka di tahan.
 Selama masa penjengukan di Polres para tahanan hanya diperbolehkan untuk bertemu langsung dengan keluarganya hanya melalui batasan dinding treli besi yang di buat khusus sebagai pembatas. Hal ini bertujuan agar tahanan tidak melarikan diri dari sel tahanan. Kurang dari satu jam orang tuanya berbicara dengan Rudi, dalam pembicaraan tersebut orang tuanya malah bercucuran air mata karena tidak tahan melihat anak mereka di balik jeruji besi tersebut. Maklum saja bahwa baru sekali ini mereka ke dalam sel tahanan karena dalam keluarga orangtua Rudi belum pernah menemui kasus seperti itu. Saat waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB polisi penjaga sel tahanan mengingatkan kepada orangtua Rudi bahwa waktu jenguk sudah habis. Lalu dengan rasa berat hati dan penuh rasa sedih orangtuanya pun meninggalkan Rudi sambil memegang erat tangannya.
            Sampai di rumah pukul 16.00 WIB, orangtua Rudi langsung menghubungi kerabat dari ayah dan ibu Rudi. Mereka baru memberitahukannya sekarang karena kalau diberitahu cepat takutnya akan terkejut. Keluarga ibu Rudi yang berada di Pariaman yang memiliki anak juga seorang polisi di Polres kota Pariaman. Turut merasa sedih sekali mendengar hal itu bahkan merasa terpukul. Kerena biasanya orang lain yang dia hadapi tetapi sekarang bahkan  adik dia sendiri yang  jadi tahanan. Dalam komunikasi di telepon genggam, dia mengatakan bahwa besok sore dia akan ke Bukittinggi menjenguk Rudi. Karena kalau pagi ada upacara HUT Bhayangkara, ujarnya kepada Ibu Rudi. Bersama keluarga Ibu Rudi, abang Rudi yang tanpa seragam polisi itu langsung menuju Polres Bukittinggi tanpa lebih dahulu bersinggah di rumah orangtuanya. Setiba disana dia bertemu dengan seorang teman yang kebetulan dua tahun yang lalu pernah bertugas di Pariaman yang sekarang bertugas di bagian Narkoba itu juga.
Dengan panjang cerita mereka pun mengobrol dan meminta solusi yang seminimalnya untuk penahanan Rudi ini. Karena Rudi yang sebenarnya adalah pemakai sekaligus pengedar diminta keringanan untuk status sebagai pemakai saja. “Jika status Rudi sebagai pengedar maka hukumannya cukup lama, ujar teman abang Rudi itu.
            Setelah itu, abang Rudi yang polisi itu menjumpainya secara langsung tanpa sekatan karena kebetulan sesama polisi diberi kekhususan untuk bertemu langsung tanpa batasan dinding treli besi yang biasanya sebagai pembatas penjenguk tahanan di Polres tersebut. Lalu abang Rudi itu pun mengatakan kalau diminta keterangan tolong dijawab dengan tepat dan benar karena dengan kejujuran dapat meringankan hukuman, ungkap abang Rudi dengan suara agak sedikit lunak.  “Nasi sudah menjadi bubur, kalau saya tahu sebelumnya pasti saya akan cepat mencegahnya,” kata abangnya itu di depan orang tua Rudi. Kemudian mereka pun pulang dari Polres serta melakukan perbincangan masalah Rudi di rumah orangtuanya.
            Sekarang nasib Rudi masih tergantung karena masa penahanannya di sel tahanan Polres terus diperpanjang hingga satu bulan ke depan sampai kasusnya tersebut benar-benar terungkap. Itulah sesuatu yang tidak di duga-duga terjadi Rudi harus selalu di beri motivasi-motivasi agar tidak depresi nantinya. Hanya do’a dari orang-orang terdekatnya yang akan bisa meringankan hukuman Rudi sebab kasusnya ini tidak bisa dibantu walau anak seorang pejabat sekalipun.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar