Jumat, 29 Maret 2013

Cerpen: Takut Dibilang Kuper Lagi (Hasan Asyhari)


            “Sedih hati ini tiap ada orang mengatakan diriku tentang sebuah kata nan meruntuhkan jiwaku,” ucap Rangga termenung di depan pintu rumahnya.
            Rangga yang masih kelas XI di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Lobang Jepang, Bukittinggi selalu mendapat perlakuan kasar dari teman-teman bahkan saudaranya. Perlakuan kasar di sini  bukan berarti fisiknya selalu tersiksa melainkan perlakuan akan kata-kata terhadap dirinya sampai-sampai kata-kata itu membuatnya down. Sempat ia mengucapkan kata bunuh diri ketika kata-kata itu selalu dilontarkan teman-temannya. Kata itu adalah “Kuper” alias kurang pergaulan. Rangga orangnya yang agak pemalu, pendiam sebenarnya bukanlah anak yang kuper seperti yang dibilang oleh teman-temannya. Kuper sebuah istilah yang sering diutarakan teman-temannya karena selalu melihat Rangga tak pernah main keluar rumah seperti anak-anak seumurannya. Apalagi pacaran ini paling tidak amat sekali oleh dirinya.
             Rangga merupakan anak yang sangat patuh kepada orangtua dan ia termasuk anak yang rajin. Setiap penerimaan rapor namanya selalu dipanggil ke depan. Berkat kerajinannya, hampir setiap orang senang dengannya termasuk saudara-saudara ayah dan ibunya. Ia juga terkenal anak yang rajin mencatat dan boleh dikatakan selalu lengkap dalam mencatat. Melirik teman-teman di kelas meminjam catatannya baik teman cowok maupun cewek. Tak ada bedanya. Kedua-duanya sama-sama sering meminjam catatan Rangga. Terlebih ketika akan ujian semester. Berbondong-bondong teman-temannya meminjam catatan Rangga.
            Sebentar lagi ujian semester satu akan dimulai. Saatnya teman-teman menyerbu rumah Rangga bak orang mau pergi takziah ke rumahnya. Pergi satu datang satu lagi.
            “Assalamu’alaikum, Rangga, Rangga,” imbau teman-temannya.
            “Wa’alaikumsalam, ia.. silakan masuk!” Sambut tantenya.
            Sembari menunggu Rangga yang sedang berada di kamarnya, sempat teman-temannya melihat-lihat segala tropi dan piagam yang dimiliki Rangga. Ada juga mereka melihat alat-alat band. Merekapun tercengang. “Ini alat band punya siapa?” Ceplosnya dalam hati. Kemudian Rangga menjumpai teman-temannya itu. Sebagai anak yang cukup pendiam ia hanya berbicara apa adanya. Apa yang ditanya itu yang ia jawab.
            “Hai Rangga, ma’af ganggu,” ucap teman-temannya serentak.
            “Gak apa-apa kok,” jawabnya cepat.
            “Besok, kita ujian Sosiologi dan Ekonomi kan? Boleh kami minjam catatannya bentar buat di foto kopi,” pintanya dengan suara mohon.
            “He he, ia tak apa-apa. Pinjamlah bentar. Aku bentar lagi belajar. Tadi pas siap ujian bahasa Inggris aku sempat baca bentar,” jawabnya santai.
            Merekapun pergi ke tempat foto kopi. Sembari menunggu mereka. Rangga pun membaca buku-buku penunjang Sosiologi di ruang tamu.
            “Rangga...Rangga...ini bukunya. Makasih banyak ya.” Ucap teman-temannya.
            “Ia, sama-sama,” balas Rangga.
            Setelah beberapa hari perjuangannya menghadang berbagai soal-soal yang diujikan. Ia pun menerima rapor. Alhamdulillah, dirinya masih dinyatakan sebagai juara satu di kelas XI IPS 2. Betapa senangnya hati rangga. Orangtuapun bangga kepadanya.
Liburan semesterpun tiba. Liburan yang mesti dinikmatinya guna merefresh otaknya selama satu semester. Ia tidak terlalu memiliki rencana dalam mengisi hari liburnya. Selain membaca, menulis dan membantu orangtuanya di rumah.
***
            Suatu hari Om nya datang dari kota manggis, Solok hendak ke rumah Rangga bersama seorang anak perempuannya. Om Rangga yang bekerja di Dinas Perhubungan kota Solok. Ia merupakan abang dari ibu Rangga. Pak Akmal namanya. Ia memiliki empat orang anak. Yang pertama sedang kuliah di Institut Teknologi Bandung. Yang kedua bernama Zulia kuliah di Universitas Bung Hatta, Padang sedangkan anaknya yang ketiga dan keempat masih SD dan SMP di Solok. Zulia selalu diajak Om Akmal kemana pergi. Ke Malaysia pun ia ajak meskipun dalam tugas kerja di luar negeri. Tentunya dengan menyesuaikan jadwal kuliah Zulia dengan agenda Om Akmal ke luar negeri. Saat itu Om Akmal ke rumah Rangga. Zulia sang anak turut setia menemani sang ayah. Apalagi ke rumah tek Mar, panggilan akrab Ibu Rangga. Tek Mar yang sangat baik selalu dipuji oleh anak-anak Om Akmal termasuk Zulia.
            “Gimana kabar tek mar dan adik-adik Zulia yang lain?” Tanya Zulia santai.
            “Alhamdulillah sehat-sehat saja. Si Rangga sekarang udah rajin menulis di koran. Si Rima sudah pintar mengendarai sepeda motor.” Terang tek Mar dengan bangganya.
“Wah bagus tuh tek Mar,” puji Zulia sambil membuka tutup toples keripik ubi di ruang tamu.
 “Oh ya, si Rangga mana tek Mar?” Tanya Zulia penasaran.
“Si Rangga lagi di kamar,” jawabnya.
“Bisa panggilkan Rangga tek Mar!” Suruh Zulia dengan sopan.
“Ia, biar tek Mar panggilin,” balasnya. Zulia dan Rangga berbincang-bincang di ruang tamu. Om Akmal pergi keluar mengirim berita di warnet Satria belakang rumah Rangga. Om Akmal juga berprofesi sebagai wartawan di salah satu koran lokal Sumatera Barat.
“Gimana kabar Ga, ngomong-ngomong Ga sudah banyak ngirim tulisan ya ke singgalang?” Tanya Zulia sambil memegang handphone Blackberry barunya.
“Alhamdulillah,” jawab Rangga dengan nada cepat. Ia tak menginginkan omongan yang menyentuh perasaannya itu terulang kembali. Pernah anak dari saudara ayahnya mengatakan Rangga akan sulit bekerja nanti karena ia kurang pergaulan. Kata-kata itulah yang membuatnya sempat terkungkung dengan emosi hati.
“Rangga, kok gak main keluar?” Tanya Zulia heran.
“Malas saja kak, kadang-kadang saja kalau dijemput main sama teman-teman,” terangnya agak cemas.
“Oh begitu... He he,” tawanya gurau.
Akhirnya kata-kata yang ditakuti Rangga tadi tak sempat berkutik. Mujur saja ia bisa mencari celah lain meskipun dengan rasa cemas ia menjawab sebungkah pernyataan yang amat mengerikan dirinya lebih ngeri daripada menonton film hantu sekalipun. “Terima ksih Tuhan,” syukurnya dalam hati.
***
                                                                        Padangpanjang, Januari 2013

Biodata:         
IMG_0023
Penulis bernama Hasan Asyhari. Nama penanya Hasan Al-Faritsi. Ia adalah mahasiswa jurusan sosiologi FIS UNP. Ia lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Ia juga aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tulisannya sering muncul di media cetak dan media online. Selain itu ia juga pernah menerbitkan buku dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus” (2012), Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (2013) keduanya terbitan FAM Publishing.  Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Serta akun twitter dengan nama @HasanAsyhari27. Ia beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar