“Sedih hati ini tiap ada orang mengatakan diriku tentang sebuah kata nan meruntuhkan jiwaku,” ucap Rangga termenung di depan pintu rumahnya.
Rangga
yang masih kelas XI di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Lobang
Jepang, Bukittinggi selalu mendapat perlakuan kasar dari teman-teman bahkan
saudaranya. Perlakuan kasar di sini bukan berarti fisiknya selalu tersiksa
melainkan perlakuan akan kata-kata terhadap dirinya sampai-sampai kata-kata itu
membuatnya down. Sempat ia mengucapkan kata bunuh diri ketika kata-kata itu
selalu dilontarkan teman-temannya. Kata itu adalah “Kuper” alias kurang
pergaulan. Rangga orangnya yang agak pemalu, pendiam sebenarnya bukanlah anak
yang kuper seperti yang dibilang oleh teman-temannya. Kuper sebuah istilah yang
sering diutarakan teman-temannya karena selalu melihat Rangga tak pernah main
keluar rumah seperti anak-anak seumurannya. Apalagi pacaran ini paling tidak
amat sekali oleh dirinya.
Rangga merupakan anak yang sangat patuh kepada
orangtua dan ia termasuk anak yang rajin. Setiap penerimaan rapor namanya
selalu dipanggil ke depan. Berkat kerajinannya, hampir setiap orang senang
dengannya termasuk saudara-saudara ayah dan ibunya. Ia juga terkenal anak yang
rajin mencatat dan boleh dikatakan selalu lengkap dalam mencatat. Melirik
teman-teman di kelas meminjam catatannya baik teman cowok maupun cewek. Tak ada
bedanya. Kedua-duanya sama-sama sering meminjam catatan Rangga. Terlebih ketika
akan ujian semester. Berbondong-bondong teman-temannya meminjam catatan Rangga.
Sebentar
lagi ujian semester satu akan dimulai. Saatnya teman-teman menyerbu rumah
Rangga bak orang mau pergi takziah ke rumahnya. Pergi satu datang satu lagi.
“Assalamu’alaikum,
Rangga, Rangga,” imbau teman-temannya.
“Wa’alaikumsalam,
ia.. silakan masuk!” Sambut tantenya.
Sembari
menunggu Rangga yang sedang berada di kamarnya, sempat teman-temannya
melihat-lihat segala tropi dan piagam yang dimiliki Rangga. Ada juga mereka melihat
alat-alat band. Merekapun tercengang. “Ini alat band punya siapa?” Ceplosnya
dalam hati. Kemudian Rangga menjumpai teman-temannya itu. Sebagai anak yang cukup
pendiam ia hanya berbicara apa adanya. Apa yang ditanya itu yang ia jawab.
“Hai
Rangga, ma’af ganggu,” ucap teman-temannya serentak.
“Gak
apa-apa kok,” jawabnya cepat.
“Besok,
kita ujian Sosiologi dan Ekonomi kan? Boleh kami minjam catatannya bentar buat
di foto kopi,” pintanya dengan suara mohon.
“He
he, ia tak apa-apa. Pinjamlah bentar. Aku bentar lagi belajar. Tadi pas siap
ujian bahasa Inggris aku sempat baca bentar,” jawabnya santai.
Merekapun
pergi ke tempat foto kopi. Sembari menunggu mereka. Rangga pun membaca
buku-buku penunjang Sosiologi di ruang tamu.
“Rangga...Rangga...ini
bukunya. Makasih banyak ya.” Ucap teman-temannya.
“Ia,
sama-sama,” balas Rangga.
Setelah
beberapa hari perjuangannya menghadang berbagai soal-soal yang diujikan. Ia pun
menerima rapor. Alhamdulillah, dirinya masih dinyatakan sebagai juara satu di
kelas XI IPS 2. Betapa senangnya hati rangga. Orangtuapun bangga kepadanya.
Liburan semesterpun tiba. Liburan yang
mesti dinikmatinya guna merefresh otaknya selama satu semester. Ia tidak
terlalu memiliki rencana dalam mengisi hari liburnya. Selain membaca, menulis
dan membantu orangtuanya di rumah.
***
Suatu
hari Om nya datang dari kota manggis, Solok hendak ke rumah Rangga bersama
seorang anak perempuannya. Om Rangga yang bekerja di Dinas Perhubungan kota
Solok. Ia merupakan abang dari ibu Rangga. Pak Akmal namanya. Ia memiliki empat
orang anak. Yang pertama sedang kuliah di Institut Teknologi Bandung. Yang
kedua bernama Zulia kuliah di Universitas Bung Hatta, Padang sedangkan anaknya
yang ketiga dan keempat masih SD dan SMP di Solok. Zulia selalu diajak Om Akmal
kemana pergi. Ke Malaysia pun ia ajak meskipun dalam tugas kerja di luar
negeri. Tentunya dengan menyesuaikan jadwal kuliah Zulia dengan agenda Om Akmal
ke luar negeri. Saat itu Om Akmal ke rumah Rangga. Zulia sang anak turut setia menemani
sang ayah. Apalagi ke rumah tek Mar, panggilan akrab Ibu Rangga. Tek Mar yang
sangat baik selalu dipuji oleh anak-anak Om Akmal termasuk Zulia.
“Gimana
kabar tek mar dan adik-adik Zulia yang lain?” Tanya Zulia santai.
“Alhamdulillah
sehat-sehat saja. Si Rangga sekarang udah rajin menulis di koran. Si Rima sudah
pintar mengendarai sepeda motor.” Terang tek Mar dengan bangganya.
“Wah bagus tuh tek
Mar,” puji Zulia sambil membuka tutup toples keripik ubi di ruang tamu.
“Oh ya, si Rangga mana tek Mar?” Tanya Zulia
penasaran.
“Si Rangga lagi di
kamar,” jawabnya.
“Bisa panggilkan Rangga
tek Mar!” Suruh Zulia dengan sopan.
“Ia, biar tek Mar
panggilin,” balasnya. Zulia dan Rangga berbincang-bincang di ruang tamu. Om
Akmal pergi keluar mengirim berita di warnet Satria belakang rumah Rangga. Om Akmal juga berprofesi sebagai
wartawan di salah satu koran lokal Sumatera Barat.
“Gimana kabar Ga,
ngomong-ngomong Ga sudah banyak ngirim tulisan ya ke singgalang?” Tanya Zulia
sambil memegang handphone Blackberry barunya.
“Alhamdulillah,” jawab
Rangga dengan nada cepat. Ia tak menginginkan omongan yang menyentuh
perasaannya itu terulang kembali. Pernah anak dari saudara ayahnya mengatakan
Rangga akan sulit bekerja nanti karena ia kurang pergaulan. Kata-kata itulah
yang membuatnya sempat terkungkung dengan emosi hati.
“Rangga, kok gak main
keluar?” Tanya Zulia heran.
“Malas saja kak, kadang-kadang
saja kalau dijemput main sama teman-teman,” terangnya agak cemas.
“Oh begitu... He he,”
tawanya gurau.
Akhirnya kata-kata yang
ditakuti Rangga tadi tak sempat berkutik. Mujur saja ia bisa mencari celah lain
meskipun dengan rasa cemas ia menjawab sebungkah pernyataan yang amat
mengerikan dirinya lebih ngeri daripada menonton film hantu sekalipun. “Terima
ksih Tuhan,” syukurnya dalam hati.
***
Padangpanjang,
Januari 2013
Biodata:

Penulis
bernama Hasan Asyhari. Nama penanya Hasan Al-Faritsi. Ia adalah mahasiswa
jurusan sosiologi FIS UNP. Ia lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Ia
juga aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tulisannya
sering muncul di media cetak dan media online. Selain itu ia juga pernah
menerbitkan buku dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona
Odapus” (2012), Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (2013) keduanya
terbitan FAM Publishing. Ia memiliki
akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com.
Serta akun twitter dengan nama @HasanAsyhari27. Ia beralamat di Desa Baru No.23
RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar