Jumat, 29 Maret 2013

Cerpen: Desiran Saluang di Ibukota (Hasan Asyhari)


            Sang surya pagi itu agak malu menampakkan rupanya. Bunyi saluang terus mendesir kencang mengiringi kicau burung gereja di sudut nagari Batipuah Baruah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sebuah rumah kecil menjadi pojok perhatian warga. Daun singkong menghiasi rumah itu. Di depannya berdiri sebuah kedai gorengan yang selalu ramai tiap paginya. Keramaian pagi itu dipenuhi dengan lalu lalang ibu-ibu yang hendak bertanam benih padi menuju hamparan sawah. Bunyi desiran saluang tadi terus menuju hamparan sawah hendak melirik petani yang akan memulai pekerjaan pagi itu.
            “Nek, Alung ingin ke Jakarta nek!” Ucap Alung sembari memberikan secerek air putih dari rumah. Sang nenek pun penasaran. 
            “Ngapain ke sana Lung?” Tanya nenek yang sering sakit-sakitan itu.
            “Ke Jakarta nek. Alung di ajak sama om Robi berjualan pakaian anak-anak di sana.” Balasnya yakin.
            “Ya, nanti kita diskusikan di rumah ya nak!” Tangkas nenek Rainah.
            Alung adalah satu-satunya cucu nenek Rainah. Ia tak tamat sekolah menengah atas. Kedua orangtuanya sudah meninggal dunia sejak ditimpa longsor satu tahun yang lalu. Almarhum ayahnya jago main saluang. Bakat inilah yang membuat Alung menyenangi saluang. Ke mana pergi selalu di bawanya. Apalagi mendiang ayahnya pernah berpesan agar saluang ini senantiasa ia perkenalkan dengan para perantau minang yang sudah mulai lupa dengan warisan budayanya sendiri.
***
            Malam pun tiba, nenek Rainah sudah berada di rumah. Pembicaraan tadi pagi hendak mereka lanjutkan.  
            “Nek, melanjuti pembicaraan saat di sawah tadi nek. Apakah Alung boleh ke Jakarta nek? Alung ingin membantu nenek. Tak ingin melihat tubuh nenek yang sudah mulai kurus ini bertambah kurus lagi. Izinkan Alung ya nek!” Pinta Ali.
            “Ya, nenek tergantung dengan Alung saja. Mana yang terbaik untuk Alung silahkan dilakukan. Namun, jangan sampai terpengaruh dengan pergaulan bebas di sana ya nak.” Izin nenek Rainah sambil melipat helai demi helai selendang yang baru siap dijemurnya pagi tadi.
            “Insya Allah nek,” balas Alung senang. Alung adalah anak yang patuh. Tak pernah terlontar kata kasar dimulutnya. Ia seorang anak yang tahu diri. Nenek Rainah sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Namun, dibalik itu nenek Rainah tak mengetahui bahwa Alung memiliki niat tersembunyi. Ia ingin memperkenalkan saluang ini di ibu kota terutama ke perantau minang. Sungguh niat mulia. Tak semua pemuda yang seperti dirinya. Ia ingin memperkenalkan kebudayaan minang yang sudah mulai dilupakan para perantau minang di ibu kota.
***
            Keesokan harinya, Alung, om-nya Robi dan Robi bersiap-siap menuju terminal bus. Sebelum pergi tak lupa do’a restu dari sang nenek ia minta.
            “Nek, do’ain Alung di Jakarta ya nek.” Pintanya haru.
            “Iya, tentu Alung. Do’a nenek menyertaimu nak.” Balas nenek Rainah sambil memeluk cucunya.
            Setelah itu, merekapun pergi ke terminal. Terkais-kais kaki mereka menuju tempat yang penuh gemercak sepoian tingkah manusia itu. Saatnya mereka berangkat ke ibu kota. Jakarta menjadi tempat peraduan Alung. Serta menjadi tempat ia memperjuangkan saluang dengan cara memperkenalkan kembali alat musik tradisional minang yang sudah mulai dilupakan anak muda perantau minang.   
            Di atas bus itu penuh akan penumpang yang bakal mengadu nasib ke ibu kota. Suasana demikian mengingatkannya pada masa ketika ia diajak mendiang ayahnya ke Medan waktu masih bersekolah dulu. Tapi, apa daya semua tinggal kenangan.
             Alhamdulillah beberapa hari di atas mobil, akhirnya sampai juga ia di Jakarta. Bau keringat selama berkendaraan sempat memperkeruh suasana hati. Sempat ia marah, gara-gara saluang yang di sandangnya dibilang kuno oleh seorang preman saat ia berjalan menuju rumah paman Robi.
***
            Bunyi desiran saluang terdengar indah. Kali ini Alung memainkan saluang di teras depan rumah om-nya Robi. Bak suasana desa yang damai. Menyejukkan suasana hati. Bunyi desiran saluang itu berasal dari tiap lobang saluang yang sempat memukau perhatian ibu-ibu yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba seorang ibu hendak mendekati rumah paman Robi.
            “Wah, indah sekali bunyi suara itu.”  Pujinya dalam hati.
            “Terima kasih buk,“ balasnya senang,
            “Kalau boleh tahu, apa namanya alat musik itu dik?” Tanyanya cepat.
            “Ini namanya saluang buk, ini adalah alat musik tiup tradisional minang buk,” ujarnya memberi tahu.
            “Oh, adik dari Padang ya?” Tanya sang ibu yang bertubuh gemuk itu.
            “Iya buk. Saya baru dua hari di sini. Mau bekerja dengan om Mursal.” Jawabnya santai.
            “Wah, baguslah dik. Banyak orang Padang merantau di sini. Namun, ibu tak pernah  jumpa pemuda yang seperti kamu. Tak sungkan memainkan alat musik tradisional budayanya sendiri. Ibu salut sama kamu dik!” Puji buk Gina nama akrabnya dipanggil tetangga.
            “Terima kasih buk.” Balas Alung memperlihatkan lesung pipinya yang begitu menawan di mata.
            Tak lama setelah itu, sang ibu pergi. Alung pun lanjut mendesirkan saluang tadi.
***
            “Baju kaos, baju kemeja, celana pendek...” Soraknya di depan pengunjung pasar yang selalu ramai di sudut kota Jakarta. Pagi menjelang siang ini adalah hari pertama ia kerja bersama Robi dan om-nya Robi. Logat bahasa Padang-nya masih menyita perhatian para pengunjung pasar yang lalu lalang setiap saat.
            “Buk, ayuk ke sini?” Bisik seorang ibu berkerudung pendek dengan teman sebayanya.
            “Ada apa Rat? “ Tanya temannya itu.
            “Adik itu lucu ya?” Tangkasnya tanya balik.
            “He he ia, masih kental bahasa Padang nya.” Jawab Leli cepat. Seperti sudah paham dengan vokal yang diucapkan Alung.
            Tak menyangka ternyata Robi sempat melirik ibu-ibu itu seperti membisikan Alung.
            “Eh Lung, sepertinya ibu-ibu itu memperhatikan kamu deh dari tadi.”
            “Ya, biar aja lah Bi...” Balas Alung. Ia tak suka mempermasalahkan sesuatu.           Azan zuhur pun berkumandang merdu di sudut pasar. Alung dan Robi pun pergi shalat ke sebuah mushalla kecil. Kedai kaki lima itu mereka tinggal sejenak demi memenuhi seruan yang Maha Kuasa.
            Setelah shalat zuhur. Alung dan Robi istirahat siang. Kemudian Alung membunyikan saluang yang selalu ia bawa. Siang nan panas melerai emosi yang semula rusuh menjadi damai. Tiap orang yang medengarkan itu terpukau. Mereka  hendak mendekati bunyi desiran saluang tadi.
            “Wah, indah sekali bunyinya dik.” Ujar seorang bapak berkaca mata hitam. Kemudian datang seorang pemuda dengan pakaian serba sempit, bertato, telinga dan hidung bertindik serta rambut berdiri bak habis di sambar petir. Alex namanya. Ia boleh dikatakan sebagai preman pasar. Hampir tiap hari ia merampas para pembeli di pasar. Tak bisa dihitung lagi jumlah penangkapannya oleh polisi pamong praja.
            “Woi, cemen... musik apaan itu lu bro??” Cercanya kasar.
            “Ini alat musik tradisional dari Padang kawan.” Balas Alung santai.
            “Haaaa......haaaa......masih kuno lu bro....cemen buat lho!” Cercanya lagi.
            “Biar saja kuno. Saya akan buktikan alat musik ini tak akan pernah tinggal akan zaman.” Ungkapnya yakin.
            “Ha, Ha.. cemen banget lu bro. Masak alat segede ituan masih dipelihara.” Sindirnya membuat batin Alung terusik.
            “Diam kau!!” Tangkas Alung marah. Jarang-jarang ia marah pada orang lain. Apalagi orang itu tidak pernah ia kenal sama sekali.
            Sempat terjadi perang mulut antara mereka. Namun, Alung masih tetap yakin. Saluang itu akan ia pertahankan. Sesuai dengan niatnya ke ibu kota itu. Ia akan memperkenalkan dan mengajarkan saluang terkhusus pada remaja-remaji perantau asal minang.
***
            Beberapa hari kemudian. Alung berjumpa dengan seorang bapak bertubuh pendek sembari membawa macam bentuk sandal dan sepatu. Benda-benda itu berada di sebuah kotak lumayan besar. Sepeda motor yang sudah agak ketinggalan zaman mewarnai penglihatan Alung.
            Kemudian mereka pun berbincang sejenak melepas kepenatan berjalan seusai kerja. Bapak yang sudah hampir tiga puluh tahun lalang buana di kota Jakarta. Ia mengetahui seluruh tempat-tempat bermukim kebanyakan tiap suku bangsa. Terutama suku bangsa minang. Penduduknya ulet berdagang. Itu yang membuatnya tertarik dengan penduduk negeri rendang ini. Kemudian, bapak itu menemani Alung ke tempat yang ingin ia tuju itu.
            Keesokan harinya, bertemankan sebatang saluang bambu ia melangkahkan kaki ke kawasan itu. Lalu ia tiup saluang itu. Desiran saluang itu melirik para masyarakat ke luar dari rumah. Bak orang menjual obat. Badannya yang kurus dan bertubuh tinggi menjadi objek penglihatan orang-orang di sana.
            “Wah, ado saluang di siko. Wah, Ada seruling di sini.” Ucap seorang bapak tua. Kemudian berbondongan orang keluar rumah saat itu. Tiap orang ada yang tahu dengan saluang yang dibunyikan Alung. Namun, ada pula yang tercengang. Tak tahu sama sekali.
            “Wah, ayah itu alat musik apa yah?” Tanya sang anak.
            “Ayah gak tahu nak.” Jawab sang ayah senyum malu.
            Kemudian Alung memperkenalkan saluang itu. Lalu ia ajarkan pada mereka cara meniup saluang itu. Kebanyakan di sana perantau yang berpuluh-puluh tahun di Jakarta dan adapula yang cuma keturunan minang saja. Begitulah cara Alung memperjuangkan saluang pada perantau minang di ibu kota. Meskipun ada yang menerima dan ada yang menolak.
***
                                                                                    Padangpanjang-Padang, Februari 2013
Istilah  :
Saluang: seruling. Alat musik tradisional tiup minangkabau.

BIODATA
Hasan Asyhari namanya. Cowok yang lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992 ini merupakan anak pasangan dari Sudirman, BA dan Dra.Yasmaida. Kedua orangtuanya adalah   guru di dua podok pesantren modern terkemuka di kota Padangpanjang. Ia merupakan mahasiswa jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial UNP tahun masuk 2010. Selain kuliah ia aktif di Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) UNP  dan IMAPABASKO (Ikatan Mahasiswa Padangpanjang, Batipuah, X Koto) sebagai Wakil Ketua Umum. Hasan sapaan akrabnya merupakan salah satu Cerpenis Muda Indonesia dalam buku Antologi Cerpen Cinta Bernilai Dakwah terbitan FAM Publishing, Kediri, Jatim. Berbagai iven kepenulisan sering ia ikuti.  Hasan yang memiliki motto,”Kesuksesan Besar berawal dari Kesuksesan Kecil”. Untuk mengenal lebih akrab dengannya bisa menghubungi nomor HP 085272985628 dan fb HASHAN ASYHARI. Dan alamat rumahnya di Desa Baru No.23 RT.14 Kel. Tanah Hitam, Kec.Padangpanjang Barat, Kota Padangpanjang, Sumbar 27112. (HASAN ASYHARI, FAM944M, Padangpanjang)

Cerpen: Belaian Kasih Sayang Amak (Hasan Asyhari)


            Rintihan sakit pada pipi kiriku menentang tangan yang masih kaku berupaya memencet satu per-satu tombol key pad yang melekat erat di handphone-ku. Berusaha meminta sang amak (ibu) meneleponi-ku yang cukup jauh dari kota Malin Kundang itu. Bersandar di sudut ruang kamar wisma at-takhwin (penginapan mahasiswa) sembari meredam sakitnya bengkak yang muncul di pipi kiri-ku. Tak sadar sang surya sebentar lagi akan bangun dari gelapnya hari.
            “Mak, pipiku bengkak, bibir-ku pencong,” ucapku sedih kala itu.
            “Kenapa sampai seperti itu nak? Tanya sang amak haru.
            “Gak, tau mak! Tadi malam Ayi tidur gelisah. Miring ke kiri pipi ini amat terasa sakit.” Ucapku cemas.
            “Kalau tak sanggup rasanya, pulanglah ke kampung nak! Naik travel saja, jam delapan nanti.” Suruh amak.
            “Ya mak, nanti Ayi pulang kampung sekitar jam delapan-an.” Balasku  terus merintih kesakitan.   
            Belok kanan belok kiri. Seringkali aku melototi cermin yang terpajang di pintu ruang tengah wisma. Dari bilik ke bilik kusoroti wajah ini. Menghadap cemas pada warga wisma yang sudah kembali berbaring di atas kasur. Mengharap sedikit solusi malah celotehan yang ada. Namun, ada pula yang memberi solusi yang masuk akan logika-ku.
            “Kenapa bibirmu pencong San? Panggilan akrabku di wisma.
            “Gak tau, tiba-tiba bibir ini pencong? Kemarin sudah ada gejalanya, tapi gak ada pencong.” Tangkasku cemas.
            “Ada di tampar orang gak?” Sampar Helmi memegang netbook barunya.
            “Gak ada bg..” Balasku melototi netbook yang hendak ia hidupkan.
            Aku kembali ke kamar. Tiba-tiba Aziz datang dari kamar sebelah.
            “Kalau gitu, biar aku temanin sampai tempat penungguan travel ke Padangpanjang san.” Ajak Aziz.
            “Iya, aku beres-beres dulu ziz...” Balasku.
            Saat itu, hampir semua warga wisma yang cukup cemas dengan keadaan wajahku bagian kiri. Membengkak seperti ditampar orang. Bibir-pun pencong bak orang diserang penyakit stroke. Arfan, sang adik wisma juga cemas akan hal itu. Saking cemasnya. Ia dan Aziz menemaniku nyeberang dua sisi jalan raya yang ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermesin. Pas betul saat satu jalan hendak dilalui kami langsung jumpa mobil travel yang masih kosong akan penumpang.
***
            “Tit, tit, tit..” Bunyi klakson dengan gas pelan menyapaku.
            “Ke Padangpanjang Da??” Tanyaku sambil menutup bibirku yang pencong.
            “Ya dek!” Balasnya.
            Aku salami Aziz dan menghadap ke arah Arfan. Aku khawatir Pak Sopir melototi wajahku yang mencemaskan itu. Kunaiki mobil duduk di depan berdampingi dengan sang sopir. Tak ada percakapan lirik mata dengannya. Ia yang sibuk mencari penumpang tak terlalu memperhatikan sikap anehku menutup bibir. Sekali-kali aku jawab pertanyaannya tanpa menoreh padanya. Hingga akhirnya tibalah aku di Padangpanjang.
            Akupun turun di depan BRI sembari memandangi sang adik yang hendak menyeberang menjemputku.
            “Sana aja Ihsan. Jangan kemari!” Bahasa tubuhku melarangnya biar gak nyeberang ke tempat pemberhentianku. Saat itu juga kusempati mampir ke ATM. Batas transfer biaya penerbitan buku kumpulan Surat pilihan dari sayembara salah satu penerbit harus kutransfer hari ini juga.
            “Kenapa bibir abang Ayi?” Tanya Ihsan memperlihatkan wajah cemas.
            “Gak, tahu. Tiba-tiba tadi pagi udah pencong aja.” Kataku.
***
            Setiba di rumah. Icha, adik perempuanku juga terkejut dengan wajah pucat bercampur bengkak dan pencong di bibirku. Di ambilnya botol obat yang berisi air liur lebah yang sering digunakan anggota keluargaku di kala sakit. Adik-adikku yang lain pada khawatir akan keadaanku saat itu. Kemudian, amak yang sedang mengajar di salah satu pondok pesantren meneleponiku. “Jam 2-an amak pulang ya Ayi!” katanya. Tak lama kemudian, amakpun pulang ke rumah.
            “Assalamu’alaikum...” Bunyi suara amak dari pintu belakang rumah. 
            “Wa’alaikumussalam...” Ucap Aku, Icha, Ihsan dan Fhira yang lagi libur akhir pekan.
            Amak menatapi wajahku yang sebelumnya kurus kerontang berubah sekejap menjadi bengkak. Menangis amak melihatku. Aku ceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Akhirnya, esok hari aku disuruh periksa ke puskesmas. Ku ambil karcis dan duduk rapi dengan menghela dikit demi dikit jaket almamater organisasi yang terpasang di badanku. Ku segan membiarkan wajah ini dilihat banyak orang. Nomor antrianpun terpanggil. Lalu aku disuruh ke ruang poli umum. Beberapa helai kertas tebal mesti ku tenteng dan kasihkan ke perawat di ruangan poli umum itu. Sembari menunggu panggilan namaku. Ku tutup mulut yang berbungkah bibir pencong menghiasi tingkahku saat itu.
            “Bapak Hasan Asyhari,” namaku dipanggil. Sapaan Bapak amat mengena di jiwaku. Tekanan darah pun langsung diukur sang perawat. Kemudian aku disuruh menunggu di luar.  Setelah namaku dipanggil, aku langsung ditanya oleh ibu dokter. Ia pun mendiagnosaku kena gangguan syaraf. Ia berikan surat rujukan ke dokter spesialis syaraf RSUD Padangpanjang. Haripun berputar gelap hingga berubah menjadi terang kembali. Aku dan amak hendak pergi ke RSUD.
***
            Menaiki dua ojek yang berbeda sopir. Penuh rasa cemas dan dinginnya hari melirik akan rasa kala itu. Setiba di sana. Kamipun menuju tempat Askes sebelum menuju rekam medis. Setelah itu aku disuruh masuk ke ruang spesialis syaraf. Ku serahkan berkas yang dikasih petugas rekam medis untuk dikasihkan ke ruangan spesialis syaraf. Perawat yang sudah cukup dimakan umur memeriksa tekanan darahku.
            “Dek, dokter masuk jam satu nanti. Jadi datang saja jam satu nanti ya!” Ucap sang perawat. Tak ingin tubuh ini menggigil kedinginan melihat awan hitam yang mulai menangis. Amak mengajakku makan lontong di sebelah rumah sakit. Setelah itu, aku dan amak langsung pulang menaiki ojek yang berada di simpang rumah sakit bertaraf internasional itu. Waktu menunjukkan pukul dua kurang seperempat. Ihsan yang baru pulang dari sekolah dan paman yang masih istirahat kerja mengantarkanku ke RSUD kembali. Takut terlambat, ternyata dokternya sudah datang.
            Menunggu panggilan. Aku, amak dan pasien lainnya duduk rapi di kursi besi depan ruangan yang bertuliskan syaraf dan neurologi itu. Saat diperiksa sang dokter, aku ternyata tidak ada masalah pada syaraf. Dokter di puskesmas salah mendiagnosa penyakitku. Lalu sang dokter syaraf menyuruhku konsultasi ke spesialis gigi esok harinya. Tak mau berbelit-belit. Aku datangi puskesmas kembali dan hendak konsultasi pada poli gigi di puskesmas. Di sana, ia nyatakan ada akar yang belum mati di gigi dekat gusiku. Itulah yang menyebabkan pipi bengkak dan bibir pencong. Ia sarankan meminum obat yang dikasihnya selama tiga hari dulu. Jika juga tidak ada kesembuhan maka baru akan diberi surat rujukan ke RSUD.
            Rinai siang-pun mewarnai kota hujan itu. Tiba-tiba Aziz meng-sms ku. Teman-teman di kampus akan datang ke rumah menjengukku sekitar jam dua-an. Karena masih mencari motor maka keberangkatan mereka di-pending jadi jam empat-an. Hujan yang cukup lebat membuat khawatir akan keadaan teman-teman. Alhamdulillah setelah ditunggu juga jam delapan-an mereka sampai di rumah dengan selamat. Amak sengaja masak nasi lebih banyak daripada biasa. Ia begitu mengenal keadaan anak-anak. Apalagi teman-temanku yang umumnya kost. Tentu belum makan. Kita-pun makan bersama. Setelah makan, amak dan abak (ayah) bercengkrama dengannya. Sesekali kuucapkan kata yang terbesik dibenakku mesti sempat tergaduh akan bibir pencongku. Malam yang penuh kasih sayang. Kala itu, Chandra memimpin do’a untuk kesembuhanku. Terima kasih Tuhan, amak, abak dan teman-teman semua!.
***
                                                                        Februari 2013, di Rumah Kasih Sayang

Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari. Mahasiswa UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (FAM Publishing, 2012). Dan terakhir buku Antologi FF dan Puisi “My Love Dreams” (Soegha Publishing, 2013). Ia memiliki akun Fb dengan nama Hashan Asyharii dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

FF: Suara Aneh di Wisma 13 (Hasan Asyhari)


            Malam yang sunyi di salah satu pondok tempat tinggal pelajar khusus putera yang berada di tepi pantai kota Padang. Wisma 13 namanya. Wisma yang selalu ramai dengan hiruk pikuk suara para pelajar di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Padang. Malam itu seperti tak berpenghuni padahal masih ada tiga orang siswa yang masih belum pulang kampung sebab mengikuti pergi study tour ke Medan. Wisma itu adalah rumah kontrakan yang dikontrak oleh ketiga belas orang remaja asal Nias. Ketika warga wisma berkurang 10 orang, hampir setiap malam suasana wisma terasa asing daripada biasanya.
             Romi, Beni dan Rizal. Ketiga remaja itu biasanya selalu rajin, namun pada malam hari itu ketiganya seolah-olah berbeda 190 derajat dari biasanya. Tiba-tiba ada yang aneh dari ketiga sikap remaja itu. Romi yang biasa rajin membersihkan kamar atas wisma, malahan tidak mau membersihkannya. Beni juga biasa mencuci piring di sumur belakang wisma, terusik rasa ngeri tidak mau menyuci piring kotor dan perlengkapan makan lainnya. Dan Rizal, sang juru keamanan wisma juga tak mau mondar-mandir lagi ke lantai atas dan belakang wisma. Entah apa gerangan yang menyebabkan kemalasan dan ketakutan mereka masing-masing di malam jum’at kliwon nan sunyi di wisma 13.
            Malam ini menunjukkan pukul 00.13 WIB, ketiganya hendak tidur di sebuah kamar depan lantai bawah. Ditutupinya semua pintu dan beberapa gorden pintu sebelum mereka menutupi tubuh dengan helaian selimut tipis. Pintu kamar saat itu masih belum terkunci, ia kunci pintu kamar dengan tangan agak menggigil. Beberapa menit setelah itu, listrik di wisma padam. Tak ada satupun senter dan HP (Handphone) yang bisa dimanfaatkan penghalau gelapnya malam. Namun, tak terlalu diabaikan. Dibiarkannya listrik mati tanpa mencari sebabnya.
***
            Setengah jam kemudian mereka sudah tidur pulas kecuali Rizal, Rizal yang masih separuh tidur tiba-tiba mendengar suara dari balik pintu kamarnya.
            “Aaaaahhhhhh,,,” bunyi suara dari arah balik pintu kamar.
            “Aaaaaaaaaahhhhhhh,,,” suara itu makin bertambah panjang bunyinya.
            Suara itupun bertambah lama bertambah panjang bunyinya. Melirik Rizal yang masih belum tidur pulas hendak mencoba pintu kamar. Lalu dibukanya pintu kamar, ternyata bunyi suara itu tak terdengar lagi. Rizal yang juga pernah mendengar suara serupa ternyata memiliki kemampuan melihat makhluk ghoib. Tak puas sampai di luar kamar saja, ia pun memberanikan diri ke tangga lantai atas wisma. Suara aneh itu muncul kembali, akhirnya saat membuk pintu ketiga dekat kamar mandi. Ia melihat tiga orang anak kecil bermuka hancur. Ternyata itu adalah tiga orang anak Jin yang menyerupai anak kecil yang hendak mengganggu warga wisma. Betapa terkejutnya Rizal saat itu.
            Akhirnya, Rizal juga diberi kesempatan untuk berbicara dengan ketiga jin yang menyerupai anak kecil bermuka hancur itu.
            “Hei, siapa kamu?” tanya Rizal dengan nada agak tinggi.
             “Aku punya rumah ini,” balas salah satu jin dengan suara sangat halus.
            “Kenapa kalian mengganggu kami?” tanya Rizal.
            “Kita cuma bermain-main saja,” jawabnya.
            “Kalau begitu jangan janggu kami,” terang Rizal.
            “Iya,” jawab jin itu seperti bersiap-siap hendak  pergi.
            Akhirnya, Rizal pergi ke lantai bawah.
***
            Di malam berikutnya, tepat pukul 22.30 WIB. Tak ada bunyi suara apapun yang diperdengarkan. Romi yang sedang mengetik sebuah tulisan sederhana sedang berada di kamar dengan kondisi pintu terbuka lebar. Tiba-tiba pintu kamar yang dibuka lebar-lebar tertutup dengan sendirinya. Tak ada langkah yang dilihat, tak ada bayangan bahkan tak ada suara terdengar yang melewati depan kamarnya. Tak terlalu berpikir panjang Romi saat itu. “Ya, biar saja. Gak usah dihiraukan,” ucap Romi dalam hati.
            Ketiga pelajar SMA asal Nias itu sudah merasakan hal-hal aneh di wisma 13. Sungguh mencekam malam demi malam datang ketika wisma lagi sepi. Segelumit kisah malam demi malam di wisma 13 menjadi sebuah cakrawala keyakinan ketiga pelajar itu. Barangkali jimat yang selalu dipakai Rizal membuat para jin senang mengganggunya dengan kedua orang teman.
            Lalu Rizal menghubungi keluarga yang ada di Nias dan menceritakan kejadian yang ia dan teman-temannya alami. Ia juga menyangkut pautkan kejadian-kejadian tersebut dengan jimat berkalung angka 13 yang selalu terpasang rapi di lehernya. Jimat yang ia maksud agar terhindar dari penjahat tidak selamanya berbuah manis. Akhirnya, orangtuanya yang masih minim akan pengetahuan agama segera menyuruh Rizal membuka kalung itu dari lehernya lalu dibuang ke laut belakang wisma 13 itu.
***
Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Tulisannya sudah ada yang dibukukan dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar”  kedua-duanya terbitan FAM Publishing, 2012. Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.