Senin, 28 Januari 2013

Cerpen: Selendang Putih untuk Ibu Amidah (Hasan Asyhari)


            Pasar yang ramai di pusat perbelanjaan tradisional kota Batusangkar. Ada seorang Ibu yang menjual sayur bayam segar. Hampir tiap hari ia menjual sayur ke Pasar tradisional yang terletak di kota Pagaruyung itu. Bayam itu ia tanam dengan luas tanah kurang dari empat meter di depan rumahnya. Sebut saja, Ibu Amidah namanya. Wanita tua berbadan kurus dengan lilitan selendang kumal di atas kepalanya. Perupaan itu selalu mewarnai penampilannya tiap hari dan di mana pun ia berada. Ia tinggal lumayan jauh dari pasar tempat ia berdagang sehingga harus ditempuh dengan menaiki angkutan kota. Wanita yang hidup hanya berdua dengan suami yang sudah tak dapat bekerja ini. Membuatnya harus memikul beban ekonomi sendiri. Dua orang anaknya yang pergi merantau tak pernah ada kabar semenjak mereka pergi merantau ke negeri orang.
            Usaha mendapatkan berbagai informasi telah ia lakukan. Namun, apa daya Tuhan belum mempertemukan ia dengan kedua orang anaknya. Apakah masih hidup atau sudah tiada. Tak mungkin berbadan sendiri ia melancong ke negeri orang. Apalagi kaki yang sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Tak itu saja yang jadi masalah, biaya untuk ke sana juga tak ada. Meskipun sudah pernah terlirik bantuan keluarga miskin, namun itu cuma tak rutin ia dapati. Tentu tak akan mampu menutupi segala keluarganya. Dengan usia yang sudah tua tak ada keinginan untuk meminta lebih selain bisa  makan untuk hidup sehari-hari.
            “Pak,Ibu jualan dulu ya Pak!” izinnya kepada sang suami yang sudah bertahun-tahun hidup dengan kaki lumpuh. Berbagai pengobatan telah dilakukan, namun tak juga kunjung sembuh. Apakah ini karma yang diterima suaminya sewaktu menjadi pedagang terompet. Dulu suaminya sering mencaci bahkan mengganggu orang-orang lumpuh di tempat ia berdagang. Alunan bunyi terompet yang amat bising dan sangat mengganggu. “Ia Bu, hati-hati saja,” balasnya. Kemudian ia pergi ke pasar tradisional tempat ia mencari nafkah. Sembari menunggu angkutan ke pasar berwarna merah muda itu, ia sempatkan untuk menjenguk tetangganya yang kemalangan yang berada tak jauh dari tempat biasanya ia menunggu angkutan itu. Setelah itu baru ia berangkat menuju Pasar.
            Setiba di Pasar ia kembangkan tikar kecil tempat untuk menaruh beberapa ikat sayur bayam yang ia bawa dari rumah. Sang mentari terang yang datang sejak pagi harus pergi. Hujan pun turun. Sayur-sayuran itu harus ditaruhnya di tepi kedai penampungan tempat ia biasa mengembangkan tikar plastik birunya. Lalu lalang umat manusia selalu ia perhatikan. Allahu Akbar, Allahu Akbar!!. Suara azan pun menggema merdu dari sudut kanan pasar. Ia pun pergi melaksanakan shalat zuhur ke Mushalla yang cukup nyaman itu. Tiap terdengar azan masuk ia segera untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah di Mushalla yang tak jauh dari tempat ia jualan itu. Dengan memakai mukena mushalla, selendang berbau dan berwarna nano-nano itu selalu ia lilit sebagai penutup rambut kepalanya yang sudah beruban itu. Hal demikian selalu menjadi bahan gosip jemaah wanita di mushalla. Tak terlalu di ambil pusing oleh wanita berwajah keriput bak kertas yang diremas-remas itu. Faktor ketuaan bisa jadi membuatnya tak terlalu acuh dengan tiap perkataan jemaah wanita yang menggosipnya.
***
             Pernah suatu hari, wanita yang hamil muda duduk di sebelahnya marah kepada Ibu Amidah. Lalu menghardiknya. Tak sengaja wanita tua itu mengembangkan sehelai selendang putih kumal bercak hitam, berbau, dan berwarna kuning tua di depan wanita hamil muda itu. Tiba-tiba ia mual-mual hingga mengeluarkan sempat mengeluarkan semangkuk kecil muntah. Maklum saja wanita itu baru hamil anak pertama dan belum makan garam akan gejala-gejala selama kehamilan. Setelah dihardiknya, ibalah hati wanita tua itu. Banyak mata yang melirik heran sikap wanita hamil muda itu terhadap Ibu Amidah. Atas  kejadian itu berpindah lah Ibu Amidah ke shaf bagian belakang dengan sedihnya. Namun juga ia masih bersikukuh untuk tetap shalat di sana.
            Setelah shalat, ia pun pergi ke tempat ia jualan dengan memegang sehelai plastik putih bekas yang ia bawa dari rumah untuk menempuh jalan yang masih dibanjiri oleh air mata awan saat itu. Tak ada payung yang ia miliki, terpaksa menggunakan apa yang ada sebagai pelindung dirinya yang sudah tua dan rentan sakit. Di pinggir  jalan kecil depan kedai bahan-bahan kue ia berjualan. Ditunggu lah para pembeli dengan sorak pelan dalam hilir mudik kedatangan orang-orang yang lewat. Azan shalat Ashar pun berkumandang. Ia pun menitip sayur bayam yang tinggal beberapa ikat lagi ke kedai bahan kue depan tempatnya berjualan. Wanita yang sangat disiplin dalam menjalankan ibadah shalat ini selalu menjadi perhatian oleh gharin mushalla tempat ia berbicara dengan sang khalik. Meski pun selalu dicaci maki ia tetap sabar. Setelah selesai shalat ashar. Seorang gharin bertubuh cukup tinggi itu menghampiri Ibu Amidah yang baru keluar dari pintu keluar.
             “Ibu, gimana kabarnya Buk?” kata gharin itu dengan suara iba.
            “Ibu, tak apa-apa nak. Ibu, mau jualan dulu,” balasnya.
            “Ya syukurlah Bu, Ibu hati-hati ya!” pesan lelaki itu.
            Sang surya pun mulai tenggelam, Ibu itu pun pulang ke rumah. Sejak pagi ia berjualan, masih banyak sayur bayam yang tersisa. Mungkin karena hujan yang terlalu lebat. Membuat pembeli tak terlalu melirik sayuran yang ia jual. Atau bisa saja melihat penampilannya yang kurang enak dilihat dengan bercak-bercak hitam di selendang putihnya. Namun, hal itu tak membuatnya pasrah. Masih ada hari esok. Ia awetkan sayur-sayur itu dengan air biar tak cepat layu untuk dijual esoknya. Kejadian seperti hari kemarin tak akan ia harapkan lagi. Ia pun, mencuci selendang kumal itu. Dicuci tak dicucipun rupanya tak berubah. Malah bau yang sedikit berkurang. Nama nya saja barang lama. Selendang putih pemberian seorang penjual mainan lima tahun yang lalu selalu ia pakai, ia rawat hingga bertahan adanya sampai sekarang.
            Sembari menyuapi sesuap-sesuap nasi kepada suaminya yang lumpuh itu. Ia mengadu kepada suaminya mengenai kejadian yang ia rasakan tadi siang saat akan shalat zuhur di mushalla dekat pasar itu.
             “Bapak, seandainya anak-anak kita yang merantau itu pulang dengan sendirinya. Tentu Ibu tak akan dihina dan dicaci seperti ini ya Pak.” ungkapnya dengan haru.
            ”Ya Buk, sabar aja ya Buk. Ini sudah takdir kita. Ibu harus sabar ya!“ kata Bapak yang lumpuh itu.
            Sang surya pun muncul mewarnai keindahan Gunung Marapi yang semula gelap. Hari baru pun tiba. Saatnya Ibu Amidah harus cepat-cepat ke Pasar dengan membawa puluhan ikat sayur bayam dari kebun kecilnya. Maklum, hari itu adalah hari pasarnya kota Batusangkar. Suasana pasar yang sangat ramai oleh para pembeli dan cuaca yang lumayan panas. Membuat tubuh Ibu Amidah dibasahi keringat. Barang dagangan Ibu Amidah pun laris terjual. Cuma seikat yang tersisa. Bersyukur Ibu Amidah saat itu. Kenapa tidak, hari itu ia memperoleh uang lebih dari 40 ribu rupiah yang akan ia simpan setengahnya untuk membeli selendang baru dan membeli pupuk tiap minggunya.
            Waktu shalat zuhur masuk dan ia siap-siap pulang sambil menanam biji bayam untuk ia tanam di lahan yang masih kosong di belakang rumah. Ia pun pulang ke rumah. Setiba di rumah ia sendirian. Kemudian mengambil perlengkapan dan alat-alat untuk menanam bayam. Ia siram dan beri pupuk demi mengharapkan daun yang banyak  dan besar-besar. Tak hanya dijual ke Pasar. Bayam-bayam Ibu Amidah juga dimanfaatkan untuk makan hewan ternak peliharaan suaminya.
***
            Hari ini berbeda dengan dua hari sebelumnya. Ia terbaring tidur di rumah. Tak ada  yang dapat ia lakukan selain pekerjaan di rumah. Demam yang ia derita membuat Ibu Amidah terpenjara dalam rumah. Apalagi cuaca hujan yang sangat lebat hari ini membuatnya terpaksa mengadu nasib di rumah yang sangat memprihatinkan itu. Rumah kecil yang dindingnya semua terbuat dari kayu dengan semen di lantainya. Selalu dibasahi dengan tetesan-tetesan air yang berjatuhan dari beberapa helai atap sudut kanan rumah. Selendang yang ia pakai juga kena tetesan air. Tak ada kemunculan panas matahari hari itu. Sehingga, ia terpaksa memakai selendang itu untuk pergi dagang sayur bayam esok hari nya.
            Kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali. Sudah cukup diserbu oleh berbagai celaan dan hinaan jemaah yang shalat di sampingnya. Hari ini ia diusir oleh wanita rentenir yang hendak shalat di mushalla itu. Ketika Ibu Hamidah hendak mengambil wudhu ia sengaja menyangkutkan selendang yang masih lembab dan berbau akibat tetesan air kemarin. Di atas sangkutan kepala wanita rentenir itu ia letakkan selendang itu. Setelah berwudhu ia mengambil selendang itu. Mua’azin pun mengumandangkan iqamat. Ia pun tergesa-gesa menuju tempat shalat. Saat ia ambil selendang itu tiba-tiba lepas dan menyangkut di atas kepala sang wanita bertubuh besar dan bersuara agak keras itu.
            Dengan suara keras wanita itu memarahi, menghardik malah sempat mengusir Ibu penjual bayam itu keluar dari tempat wudhu. Ibalah hati Ibu berbadan kurus itu. Ia harus menerima pil pahit itu untuk ke sekian kalinya. Kelihatan sedih dengan wajah simpul malu Ibu Amidah lekas masuk ke dalam Mushalla dan duduk di shaf pada bagian belakang yang jelas jauh dari wanita yang menghardiknya itu. Ia tak mau gara-gara kejadian yang sudah beberapa kali terulang di tempat yang sama mengganggu jemaah lain. Seusai shalat ia ditemui lagi oleh lelaki bersuara merdu penjaga mushalla itu. Ia mempersilahkan Ibu Amidah masuk ke dalam ruangannya yang berada di belakang Mushalla. Ia menghibur Ibu Amidah dan memberi semacam semangat kepada Ibu Amidah.
            Akhirnya, sampai termiang dibenak pikiran lelaki tampan itu untuk membelikan Ibu Amidah Selendang putih yang baru. Ia tak ingin lagi melihat hinaan orang-orang yang shalat di mushalla yang ia urus terhadap Ibu Amidah. Kemudian ia ambil uang dari dalam lemari kecil kamarnya. Tak hanya sebatas pemberian uang. Lelaki itu juga menemani Ibu Amidah untuk membeli Selendang putih yang baru ke kedai Jilbab. Sangat senanglah hati Ibu Amidah sampai bercucuran Air Mata Ibu Amidah.
            “Terima Kasih banyak ya nak. Ibu tak ada menginginkan kehebohan di Mushalla mu itu. Niat Ibu hanya satu untuk beribadah.” ungkapnya seperti menangis.
            “Iya Buk,saya paham kok Buk. Ibu banyak sabar ya,” balasnya.
            “Ibu sudah menabung untuk membeli selendang baru, namun uang masih belum cukup,” ucapnya.
            Setelah itu, Ibu Amidah pulang ke rumah. Penuh perasaan bercampur ia hendak menuju rumah nan sangat sederhana itu sambil memikul beberapa ikat sayur bayam di pundak tubuhnya.
***

BIODATA
Hasan Asyhari namanya. Cowok yang lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992 ini merupakan anak pasangan dari Sudirman, BA dan Dra.Yasmaida. Kedua orangtuanya adalah   guru di dua podok pesantren modern terkemuka di kota Padangpanjang. Ia merupakan mahasiswa jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial UNP tahun masuk 2010. Selain kuliah Ia juga aktif berorganisasi baik intra maupun ekstern kampus. Hasan sapaan akrabnya merupakan salah satu cerpenis Indonesia dalam buku Antologi Cerpen Cinta Bernilai Dakwah. Hasan yang bercita-cita menjadi Guru, Dosen dan Karyawan Bank ini memiliki motto,”Kesuksesan Besar berawal dari Kesuksesan Kecil”. Untuk mengenal lebih akrab dengannya bisa menghubungi nomor HP 085272985628 dan fb HASHAN ASYHARII

Sabtu, 26 Januari 2013

Cerpen: Di Panggil Pak Irsyad !! (Hasan Asyhari)


            Panas hari ini membuat tubuhku yang kurus kerontang kehilangan imajinasi. Setiap hari selalu dihantui oleh ketakutan dan kecemasan yang tak berarti. Kisah kemarin yang membuat hati sakit tak akan ku ingin datang kembali. “Sumpah..sakit sekali perasaan ini!” ucapku dengan kesalnya. Wajah pun mulai pucat menghadang ketertawaan teman-teman. Semangat untuk membalas cercaan teman-teman pun sudah mulai luntur. Sejak suara ini diserang emosi perasaan, pikiran pun sudah mulai pecah dibuatnya. Rosa, nama yang akrab dipanggil oleh dosen dan teman-temanku di kampus tempatku menempa pendidikan srata satu.
            “Ros..ros,” kata Reni teman selokalku.
            “Ada apa Ren?” balasku dengan penasaran.
Aku yang sedang berada di kantor jurusan Sosiologi hendak menemui salah satu dosen terpaksa ke luar dari kantor yang dipenuhi para mahasiswa yang akan ujian skripsi.
            “Kesini sebentar Ros!” perintahnya.
            “Ya, ada apa?” tanya Reni sambil memegang buku Sosiologi Pendidikan yang akan aku berikan kepada salah satu dosen.
            “Tadi Pak Irsyad, pembantu dekan 3 menyuruhmu ke ruangannya sekarang.”
            “Apa..Pak Irsyad??” kataku dengan suara terkejut.
            “Ia, beneran!!” ungkap Reni.
Dengan gegasnya aku menuju ruang pembantu dekan 3 yang cukup memakan tenagaku. Gedung tingkat tiga harus ku lewati dengan berjalan menaiki anak tangga yang puluhan jumlahnya.
            “Tok,tok,tok!” bunyi ketukan tanganku.
            “Assalamu’alaikum!” ucapku dengan suara agak cemas.
            “Wassalamu’alaikum. Ya, silahkan masuk!” izin Pak Irsyad.
Pak Irsyad yang sedang melototi monitor di depan matanya. Ia pun mulai melirik Rosa yang sudah duduk rapi di hadapannya.
            “Anda sengaja saya suruh ke sini, karena anda akan saya beri sebuah tantangan,” terangnya dengan wajah santai.
            “Tantangan apa Pak?” jawabku.
            “Anda mendapat tantangan mengikuti Lomba debat bahasa Inggris tingkat Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta,” terang Bapak berkaca mata itu.
            “Saya tidak bisa Pak!” balasnya dengan pelan.
            “Tidak bisa kenapa?” Tanya balik Pak Irsyad.
            “Saya belum pernah ikut lomba Debat Pak. Takutnya mengecewakan Bapak, fakultas dan Universitas kita Pak,” jawabku dengan nada segan.
            “Bapak tak butuh alasan itu. Yang penting kamu harus mempersiapkan diri. Untuk segala biaya fakultas yang akan nanggung,” sanggahnya dengan tegas.
            Bertambah cemas lah aku karena ini amanah besar untukku. Apalagi ini iven pertama yang aku ikuti di bangku kuliah. Memang waktu SMA aku pernah ikut lomba debat berbahasa inggris. Namun, sudah agak lupa-lupa dibandingkan dengan masa sekarang. Karena kurangnya practice. Jika tak menang aku pun yang segan. Sementara aku juga harus berupaya agar akreditasi terhadap universitasku bertambah baik.
***
            Dua hari setelah berbagai persiapan aku lakukan. Akupun bersiap untuk berangkat menuju Bandara Internasional Minangkabau. Kepergianku yang ditemani dua orang teman dan satu orang dosen pendamping memberikan warna baru bagiku di bangku perkuliahan ini. Iven tingkat nasional harus aku jelajahi demi menjalankan amanah lomba debat mahasiswa berbahasa negeri orang itu. 
            “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga,” ucapku dengan rasa syukur.
Pesawat Lion Air yang membawa diriku ke sana harus ku tunggu mendarat beberapa jam. Menaiki pesawat gratis, baru ini kurasakan. Terakhir sewaktu pergi ke tempat saudara laki-laki Ibu yang sudah dipanggil Tuhan.
            Tempat penginapan yang disediakan panitia lomba debat akan kumasuki. Tak terbayang sebelumnya olehku akan pelayanan yang diberikan oleh mahasiswa-mahasiswa yang sebagian besar panitia dalam iven tingkat nasional itu. Betapa tidak, saat kami datang sambutan yang luar biasa dari mereka. Hal itu terlihat ketika beberapa orang mahasiswa cewek memeluk saya hendak masuk ke dalam tempat penginapan. Sungguh sambutan yang luar biasa. Yang jarang sekali kutemui. Kami yang datang berempat semuanya cewek menginap di ruangan yang sama. Namun, dosen pendampingku menginap di ruang yang berbeda. Khusus dosen-dosen yang mendampingi mahasiswa lomba debat.
            Hari esoknya. Lomba debat pun dimulai. Lomba itu dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional RI.  Ketika cabut lot aku pun mendapat urutan kedua. Lomba debat berbahasa Inggris versi one by one ini menjadikan hati yang semula tenang kembali goyang. Rasa tak sanggup untuk menjadi orang kedua dalam debat membuatnya agak pasrah. Namun, berkat support dua orang teman dan satu orang dosen pendamping membuat perasaan tadi menjadi normal kembali. “Bismillahirramanirrahim,” ucapku dalam hati. Dengan menyerahkan diri kepada sang khalik. Alhasil aku bisa melumpuhkan lawanku dengan berbagai opini yang aku keluarkan. Hingga final pun aku mampu menyaingi puluhan mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia ini.
             Juara pertama akhirnya aku raih. Betapa senang sekali hati ini. Betapa tidak, secara keseluruhan mahasiswa-mahasiswa yang ikut lomba debat adalah mahasiswa-mahasiswa pilihan yang sudah beberapa kali ikut lomba debat berbahasa inggris. Sedangkan, aku baru satu kali itupun waktu masih sekolah. Ratusan ucapan selamat kuterima. Baik secara langsung maupun melalui pesan singkat di telepon selulerku.
            Setelah ku sandang predikat juara pertama. Akupun mendapat tabungan yang lumayan besar nominalnya. Buku-buku dari sponsor, plakat, piagam penghargaan, trophy hingga kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri pun aku sabet. Setelah penyerahan hadiah aku, dua orang teman dan satu orang dosen pendamping segera meninggalkan tempat itu menuju tempat penginapan untuk mengambil segala perlengkapan yang dibawa. Kami pun menuju bandara Soekarno Hatta. Kami harus cepat-cepat pulang karena esoknya adalah hari pertama ujian akhir semester. Ujian yang dekat dengan waktu lomba tak membuatku terlalu panic. Karena sebelumnya aku juga telah belajar. Palingan malamnya tinggal ngulang mana yang lupa-lupa saja.  Alhamdulillah dua jam lebih dalam pesawat kami pun sampai di Padang.
***
            Ujian hari pertama pun dimulai. Alhamdulillah dua ujian mata kuliah teori dapat kuselesaikan dengan tenang. Tak terlalu ambil panik apakah jawaban yang aku jawab benar atau tidak. Karena aku sudah mempersiapkan diri untuk ujian sebelum berangkat ke Jakarta. Setelah ujian usai aku pun mendapat ucapan selamat dari teman-teman dan dosen-dosen. Tak hanya itu. Pak Irsyad, pembantu dekan 3 yang merekomendasikan aku untuk ikut loma memanggilku ke ruangannya.
            “Assalamu’alaikum!” kataku ketika memasuki pintu Pak Irsyad.
            “Wa’alaikumusalam..” jawab Bapak itu.
            “Wah, selamat ya Rosa!” ucapnya dengan nada gembira.
            “Iya Pak, sama-sama Pak” balasku sambil tersenyum.
            Setengah jam lamanya aku bercakap dengan Bapak yang selalu memakai baju kemeja panjang lengan itu. Aku pun keluar dari ruangan berpendingin itu dengan hati riangnya. Sebab Pak Irsyad juga memberikan reward kepadaku. Sangat bahagia diri ini. Rasa cemas yang menghantui diri sudah terpecahkan setelah pengumuman pemenang lomba debat oleh dewan juri dalam lomba itu. Dari hal itu aku bisa mengambil pelajaran jangan menyerah sebelum perang. Dan aku harus selalu percaya akan kemampuan diri sendiri. Terima kasih Tuhan!
***
*Cerpen ini pernah dimuat di koran Singgalang Minggu


Cerpen: Cinta di Negeri Kangguru (Hasan Asyhari)


 
sumber: beasiswanet.com
            Pagi yang mendung di daerah agak terpelosok kota Painan bermukim satu keluarga yang hidup sederhana. Di sana ada Alan, Rosa adik cewek Alan. Piki adik cowoknya dan Pak Zuhfi ayahnya. ”Harus berubah!,” ucap Alan sambil memandang pohon rambutan yang amat lebat buahnya di belakang rumah. Gara-gara omongan seperti itu Alan dipanggil ayahnya.. Perasaan sedikit takut menemani Alan ketika ia mulai panggilan ayahnya yang sedang membuat alas kaki serabutan. “Emang mau pergi kemana nak?” tanya ayah Alan dengan tegapnya. Terdiam sejenak Alan mendengar respon lelaki bertubuh lumayan kurus itu.
            “Ayah, izinkan Alan pergi merantau ke Medan Yah!”
            “Alan ingin merubah nasib keluarga kita, membantu biaya pengobatan Ayah. Alan ingin membantu biaya sekolah Rosa dan Piki,” balasnya dengan suara agak haru. Sudah hampir tiga tahun ia tamat SMK. Keinginan mulia sang anak untuk merubah nasib keluarga mulai terpikirkan. Tak ingin lagi hidup dalam kondisi serba kekurangan dan diliputi utang demi keberlangsungan hidupnya dan keluarga.
            “Jika kamu pergi merantau siapa yang akan membantu ayah mencari serabutan di hutan nak?,” ungkap laki-laki yang hidup tanpa didampingi sesosok sang istri. Maklum, Ibu Alan sudah meninggal dunia sewaktu ditabrak truk di daerah sekitar pabrik tempat ibunya bekerja beberapa tahun yang lalu.
             “Kalau seperti itu alasanmu nak. Apa daya bagi ayah tapi kamu harus usaha dulu mencari lowongan kerja di kota Padang. Seandainya tak dapat juga baru cari informasi lowongan kerja di kota Medan. Tentu yang sesuai dengan keinginanmu nak,” tangkas ayah Alan dengan  yakinnya.
             Alan anak pertama dari Pak Zuhfi tentu tak mau tinggal diam saja melihat getir kehidupan keluarganya. Tahun demi tahun dilalui tak ada perubahan yang terjadi malah keparahan ekonomi yang bertambah. Utang ke sana utang ke sini. Rosa yang sebentar lagi tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) akan melanjutkan kuliah. Sebab tamatan SMA harus kuliah karena tidak memiliki skill (keahlian) seperti tamatan SMK, Piki sebentar lagi tamat SMP juga harus masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan ayahnya yang sering sakit-sakitan itu harus berobat sekali sebulan ke salah satu Rumah sakit berskala Internasional di kota Padangpanjang.
            Penyakit diabetes yang menyerang ayah Alan sejak umur 42 tahun itu menjadikan Alan sebagai tulang punggung keluarga yang kedua. Jika diharapkan pemasukan dari ayah belum tentu kebutuhan sehari-hari keluarganya terpenuhi meskipun makan dengan tempe, tahu dan ikan asin. Toh butuh beras, minyak goreng, cabe merah giling dan minyak tanah untuk masak. Yang harganya akhir-akhir ini lumayan melambung tinggi.
            Biasanya dalam sekali berobat bisa mengais kantong sekitar 200 ribuan. Tak sebanding dengan pendapatan ayahnya cuma 30 ribu rupiah sehari. Itu pun kalau alas kaki serabutan ayahnya terjual habis. Meskipun sudah terdata sebagai keluarga miskin dari kelurahan namun tak bakal mampu menanggulangi semua biaya pengobatan ayahnya tiap bulan. Untung saja Alan yang tamatan SMK memiliki keahlian di bidang Pariwisata di salah satu SMK Favorit di kota Painan. Dengan sertifikat keahlian yang ia miliki, Alan mulai memasukkan lamaran ke berbagai biro perjalanan yang ada di kota Padang. Kantor  yang ia tuju pertama kali ialah kantor biro perjalanan tempat ia pernah praktek kerja lapangan dulu.   Teringat Alan di akhir praktek kerja lapangannya dulu, ada seorang Bapak yang menyuruhnya kerja di sini setelah tamat SMK. Tapi setelah didatangi Bapak itu tak ada. Tak ada lagi tempat meminta bantuan. Sebab yang kerja di sana baru-baru semua. Tak ada satupun yang ia kenal. Lalu ia pergi dari tempat itu dan mencari kantor biro perjalanan lain. Ternyata juga tak ada yang bisa ditempati Alan, sebagai tempat pengubah nasibnya dan keluarga.
            Ia pun mulai pasrah. Suara azan yang menggema dari arah Masjid Asliyah menggerakkan hatinya untuk shalat ke Masjid nan penuh sejarah itu. Allahu Akbar!. Setelah usai shalat, ia pun memurungkan hati untuk kembali ke Painan. Setiba di terminal bis ke Painan ia berjumpa dengan seniornya dulu waktu SMK. Sebut saja Jaka namanya. Ia juga berniat pulang kampung ke Painan. Mereka pulang dengan bis yang sama. Lalu mereka pun bercakap-cakap. Selang seling dari percakapan itu Alan mengutarakan keinginannya bekerja di Medan. Lalu, Jaka menghubungi temannya di Medan untuk menanyakan lowongan kerja di biro perjalanan pariwisata di kota pulau Samosir itu. Akhirnya dapat lah informasi langsung dengan persyaratannya.
***
            Beberapa hari setelah itu Alan mengirimkan berkas lamarannya ke perusahaan biro perjalanan luar negeri yang terletak di kota tari Tor-tor itu. Setelah menunggu telepon dari Bapak kepala personalia, akhirnya Alan diterima di sana dan disuruh segera berangkat ke Medan sekaligus mulai bekerja empat hari setelah Bapak  itu. “Alhamdulillah Ya Rabb,” ungkap Alan dengan rasa haru. Hari esoknya, Alan berangkat dengan mobil antar propinsi menuju kota Medan. Setiba di sana ia mencari tempat tinggal sementara (kost) hingga tiba hari dimana ia mulai bekerja.          
            “Assalamua’laikum,Selamat pagi, perkenalkan saya Alan dari kota Painan Pak. Saya dipanggil kerja di sini setelah diterimanya berkas lamaran saya empat hari yang lalu,” ujarnya dengan sopan.
             “Oh iya,lupa..hehe..selamat ya dek!. Anda diberi kesempatan untuk bergabung pada perusahaan biro perjalanan kami. Semoga dapat bekerja dengan baik di sini,” balas Bapak itu.
            ” Ya Pak, amin..Terima Kasih banyak ya Pak,” ucap Alan dengan rasa senang. Dengan penuh kedisiplinan ia bekerja di sana. Tak pernah ada kata telat datang baginya. Melihat teman-teman sesama kerja banyak yang terlambat masuk kantor, ia bahkan lebih on time datang daripada satpam pengganti sekalipun. Ini berkat kedisiplinan yang diajarkan oleh ayahnya waktu ia di kampung.
            Tibalah saat pembagian gaji. Alan tak ingin berpikir lama. Ia langsung mengirim sejumlah uang kepada keluarganya di kampung. “Alhamdulillah, gaji pertamaku lumayan besar. Separoh dari gajiku bakal aku kirim untuk keluarga di Painan,” ucapnya. Sebab tujuan utamanya merantau biar dapat membantu keluarganya yang ada di sana. Setelah hampir satu tahun ia bekerja di Medan. Ia dipindahkan ke kantor pusat biro perjalanan yang berkantor pusat di  kota Sidney, Australia. Di sana letak perusahaan biro perjalanan Kizroh, pusat dari biro-biro perjalanan yang ada di beberapa negara ini. Pantas saja ia dipindahkan di sana karena perusahaan Kizroh pusat membutuhkan orang-orang seperti Alan. Dedikasi, keuletan, kedisiplinannya tak diragukan lagi.
***
            Setahun sudah Alan menetap dan bekerja di kota Sidney, Australia. Sejak ia kerja di sana Alan lebih sering mengirim uang yang angkanya lumayan besar. Kesibukannya bekerja tak membuat Alan lupa berkomunikasi dengan ayah, adik-adik, bahkan tetangga dekatnya.  Negara Kangguru itu akan menjadi saksi bisu keberhasilan Alan dirantau. Siang yang cerah ia dan tiga orang temannya ditugaskan mewakili perusahaan Kizroh dalam pertemuan perusahaan-perusahaan Islam se-Australia. Suara yang merdu, berwajah cantik, berjilbab. Itu yang membuat Alan melirik seorang wanita pembaca ayat suci Al-Qur’an di atas podium saat itu.         
            Usai wanita bersuara emas itu membaca Al-Qur’an. Alan langsung menemuinya yang ketika itu duduk tak terlalu jauh darinya mereka pun bercakap-cakap hingga sampai berbagi pin handphone BB (Blackberry). Tak terasa setengah jam ia pun memisahkan diri sebab acara inti akan dimulai. Hampir tiap hari mereka menjalin komunikasi melalui BBM-an nya. Akhirnya muncul camestrey antara mereka. Tak ingin berpacaran lama bak pasangan muda-mudi yang lagi kena virus merah jambu. Layaknya lelaki normal, Alan menginginkan sesosok wanita abadi yang akan selalu menghibur hatinya. Selang waktu setelah itu Alan berencana meminang wanita asal negeri Jiran itu menjadi istrinya. Tak menunggu lama.  Pertemuan antara pihak keluarga Alan dan keluarga Nurliza. Pertemuan itu berlangsung di Painan rumahnya Alan yang sudah direnovasi bak istana kecil. Dalam pertemuan dibahas waktu, tempat dan perlengkapan pernikahan Alan dan Nurliza. Sebulan setelah itu calon pasangan beda negara itu menikah ala kebudayaan Indonesia. Sehari sesudah itu diselenggarakan pesta pernikahan. Minggu pertama di Painan rumah Alan. Dan  minggu berikutnya di Serawak, Malaysia.
            Dengan memakai suntiang (sunting) khas Minang yang diletakkan di atas kepala Nurliza menjadikan ia bak nya seorang anak daro minang nan cantik jelita. Pasangan suami istri baru itu membeli sebuah rumah besar di kota Sidney. Mereka pun menetap di sana. Tepat sudah satu setengah bulan umur pernikahan mereka. Nurliza pun hamil setelah rasa mual-mual dan muntah-muntah yang ia perlihatkan. Tak ada rasa cemas Alan. Ia yakin bahwa istrinya hamil. Namun, agar lebih jelas mereka pun pergi ke dokter spesialis anak sambil memeriksa perut Nurliza. Alhamdulillah ternyata Nurliza positif hamil. Berbagai antusias pun mulai dilakukan Alan mulai dari melayani ngidam yang dialami si istri hingga mempersiapkan perlengkapan si calon bayi.
            Mendekati bulan yang kesembilan kehamilannya. Nurliza lebih sering mual-mua berbeda saat ia hamil bulan pertama dan kedua. Tepat malam sabtu ia merasakan calon bayi dalam perutnya sangat cepat sekali menendang perutnya beda dari biasanya. Rasa pedih dan sakit yang dialami Nurliza memaksa Alan bangun dari tidurnya yang nyenyak. Nurliza merasa ketuban pecah. Lalu Alan membawanya ke rumah sakit persalinan dengan mobil fontuner miliknya. Setiba di di rumah sakit Nurliza langsung di bawa ke dalam ruangan persalinan.
             “Eak,eak,eak,” bunyi tangisan yang terdengar oleh Alan dari balik pintu masuk ruangan persalinan itu. Setelah dibersihkan bayi perempuan yang baru lahir itu langsung dipertemukan dengan kedua orang tuanya. Salah seorang suster dalam ruangan itu menyuruh Alan masuk.
            “Hello Mr, Now you can enter in the room!” sapa suster di rumah sakit persalinan berskala internasional.
            Lalu Alan masuk dan langsung berucap syukur, “Alhamdulillah anakku lahir!,” sembari menatap indah bayinya,  Alan langsung meng-qamatkan si bayi mungil itu dengan suara pelan. Setelah itu ia menghubungi keluarga Nurliza dan keluarganya di Painan memberitahukan Nurliza telah melahirkan. Keluarga yang jauh dari daerah perantauan, mereka hanya bisa berucap syukur sembari mengucapkan kata selamat. Meskipun jarak jadi pembatas namun tak menghalang komunikasi antara Alan, Nurliza dan keluarganya.
            Lalu ia mengobrol dengan Nurliza, wanita yang berhasil melahirkan dengan selamat itu. Patut disyukuri karena ini kelahiran pertama anaknya, hilanglah semua ketakutan dan kecemasan selama ini sebab Alan sering melihat pemberitaan diberbagai media massa bahkan melihat nyata bayi-bayi yang lahir dengan keadaan cacat, buta, tuli bahkan ada yang meninggal. Bersyukur Alan dan istrinya atas kemudahan dan kelancaran yang diberikan sang Khalik atas kelahiran anaknya.
            Dua hari setelah menginap di rumah sakit persalinan mereka pun pulang ke rumah nan penuh cinta dan kasih sayang itu. Beberapa tahun kemudian besar lah  Maisyaroh Alnur singkatan nama Alan dan Nurliza. Nama perempuan cantik hasil pernikahan mereka. Lalu Mai panggilan akrabnya tumbuhlah menjadi anak yang pintar, cerdas dan berprestasi. Terbukti selalu juara kelas dan selalu juara dalam lomba-lomba kepenulisan yang diadakan oleh berbagai lembaga di Negeri Kangguru itu. Sungguh bahagia Alan dan Nurliza memiliki anak yang cantik, cerdas dan selalu menutup aurat tersebut. Maklum saja asuhan dari kedua orang tuanya yang taat akan agama itu menjadikan ia sosok anak yang shalehah. Mereka pun hidup dalam bahtera keluarga yang samara (sakinah, mawaddah dan warrahmah).
*** 

 *Cerpen ini sudah dibukukan dalam bentuk antologi cerpen yang berjudul "Pesona Odapus" terbitan FAM Publishing, Kediri, Jatim tahun 2012.