Panas hari ini membuat tubuhku yang kurus kerontang kehilangan imajinasi. Setiap hari selalu dihantui oleh ketakutan dan kecemasan yang tak berarti. Kisah kemarin yang membuat hati sakit tak akan ku ingin datang kembali. “Sumpah..sakit sekali perasaan ini!” ucapku dengan kesalnya. Wajah pun mulai pucat menghadang ketertawaan teman-teman. Semangat untuk membalas cercaan teman-teman pun sudah mulai luntur. Sejak suara ini diserang emosi perasaan, pikiran pun sudah mulai pecah dibuatnya. Rosa, nama yang akrab dipanggil oleh dosen dan teman-temanku di kampus tempatku menempa pendidikan srata satu.
“Ros..ros,”
kata Reni teman selokalku.
“Ada
apa Ren?” balasku dengan penasaran.
Aku yang sedang berada di kantor
jurusan Sosiologi hendak menemui salah satu dosen terpaksa ke luar dari kantor
yang dipenuhi para mahasiswa yang akan ujian skripsi.
“Kesini
sebentar Ros!” perintahnya.
“Ya,
ada apa?” tanya Reni sambil memegang buku Sosiologi Pendidikan yang akan aku
berikan kepada salah satu dosen.
“Tadi
Pak Irsyad, pembantu dekan 3 menyuruhmu ke ruangannya sekarang.”
“Apa..Pak
Irsyad??” kataku dengan suara terkejut.
“Ia,
beneran!!” ungkap Reni.
Dengan gegasnya aku menuju ruang
pembantu dekan 3 yang cukup memakan tenagaku. Gedung tingkat tiga harus ku
lewati dengan berjalan menaiki anak tangga yang puluhan jumlahnya.
“Tok,tok,tok!”
bunyi ketukan tanganku.
“Assalamu’alaikum!”
ucapku dengan suara agak cemas.
“Wassalamu’alaikum.
Ya, silahkan masuk!” izin Pak Irsyad.
Pak Irsyad yang sedang melototi
monitor di depan matanya. Ia pun mulai melirik Rosa yang sudah duduk rapi di
hadapannya.
“Anda
sengaja saya suruh ke sini, karena anda akan saya beri sebuah tantangan,”
terangnya dengan wajah santai.
“Tantangan
apa Pak?” jawabku.
“Anda
mendapat tantangan mengikuti Lomba debat bahasa Inggris tingkat Mahasiswa di Universitas
Negeri Jakarta,” terang Bapak berkaca mata itu.
“Tidak
bisa kenapa?” Tanya balik Pak Irsyad.
“Saya
belum pernah ikut lomba Debat Pak. Takutnya mengecewakan Bapak, fakultas dan
Universitas kita Pak,” jawabku dengan nada segan.
“Bapak
tak butuh alasan itu. Yang penting kamu harus mempersiapkan diri. Untuk segala
biaya fakultas yang akan nanggung,” sanggahnya dengan tegas.
Bertambah
cemas lah aku karena ini amanah besar untukku. Apalagi ini iven pertama yang aku
ikuti di bangku kuliah. Memang waktu SMA aku pernah ikut lomba debat berbahasa
inggris. Namun, sudah agak lupa-lupa dibandingkan dengan masa sekarang. Karena
kurangnya practice. Jika tak menang
aku pun yang segan. Sementara aku juga harus berupaya agar akreditasi terhadap
universitasku bertambah baik.
***
Dua
hari setelah berbagai persiapan aku lakukan. Akupun bersiap untuk berangkat
menuju Bandara Internasional Minangkabau. Kepergianku yang ditemani dua orang
teman dan satu orang dosen pendamping memberikan warna baru bagiku di bangku
perkuliahan ini. Iven tingkat nasional harus aku jelajahi demi menjalankan
amanah lomba debat mahasiswa berbahasa negeri orang itu.
“Alhamdulillah,
akhirnya sampai juga,” ucapku dengan rasa syukur.
Pesawat Lion Air yang membawa diriku ke sana harus ku tunggu mendarat
beberapa jam. Menaiki pesawat gratis, baru ini kurasakan. Terakhir sewaktu
pergi ke tempat saudara laki-laki Ibu yang sudah dipanggil Tuhan.
Tempat
penginapan yang disediakan panitia lomba debat akan kumasuki. Tak terbayang
sebelumnya olehku akan pelayanan yang diberikan oleh mahasiswa-mahasiswa yang sebagian
besar panitia dalam iven tingkat nasional itu. Betapa tidak, saat kami datang
sambutan yang luar biasa dari mereka. Hal itu terlihat ketika beberapa orang
mahasiswa cewek memeluk saya hendak masuk ke dalam tempat penginapan. Sungguh
sambutan yang luar biasa. Yang jarang sekali kutemui. Kami yang datang berempat
semuanya cewek menginap di ruangan yang sama. Namun, dosen pendampingku
menginap di ruang yang berbeda. Khusus dosen-dosen yang mendampingi mahasiswa
lomba debat.
Hari
esoknya. Lomba debat pun dimulai. Lomba itu dibuka langsung oleh Menteri
Pendidikan Nasional RI. Ketika cabut lot
aku pun mendapat urutan kedua. Lomba debat berbahasa Inggris versi one by one ini menjadikan hati yang
semula tenang kembali goyang. Rasa tak sanggup untuk menjadi orang kedua dalam
debat membuatnya agak pasrah. Namun, berkat support
dua orang teman dan satu orang dosen pendamping membuat perasaan tadi menjadi
normal kembali. “Bismillahirramanirrahim,” ucapku dalam hati.
Dengan menyerahkan diri kepada sang khalik. Alhasil aku bisa melumpuhkan
lawanku dengan berbagai opini yang aku keluarkan. Hingga final pun aku mampu
menyaingi puluhan mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di
seluruh Indonesia ini.
Juara pertama akhirnya aku raih. Betapa senang
sekali hati ini. Betapa tidak, secara keseluruhan mahasiswa-mahasiswa yang ikut
lomba debat adalah mahasiswa-mahasiswa pilihan yang sudah beberapa kali ikut
lomba debat berbahasa inggris. Sedangkan, aku baru satu kali itupun waktu masih
sekolah. Ratusan ucapan selamat kuterima. Baik secara langsung maupun melalui pesan
singkat di telepon selulerku.
Setelah
ku sandang predikat juara pertama. Akupun mendapat tabungan yang lumayan besar
nominalnya. Buku-buku dari sponsor, plakat, piagam penghargaan, trophy hingga
kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri pun aku sabet. Setelah
penyerahan hadiah aku, dua orang teman dan satu orang dosen pendamping segera
meninggalkan tempat itu menuju tempat penginapan untuk mengambil segala
perlengkapan yang dibawa. Kami pun menuju bandara Soekarno Hatta. Kami harus
cepat-cepat pulang karena esoknya adalah hari pertama ujian akhir semester.
Ujian yang dekat dengan waktu lomba tak membuatku terlalu panic. Karena
sebelumnya aku juga telah belajar. Palingan malamnya tinggal ngulang mana yang
lupa-lupa saja. Alhamdulillah dua jam
lebih dalam pesawat kami pun sampai di Padang.
***
Ujian
hari pertama pun dimulai. Alhamdulillah dua ujian mata kuliah teori dapat
kuselesaikan dengan tenang. Tak terlalu ambil panik apakah jawaban yang aku
jawab benar atau tidak. Karena aku sudah mempersiapkan diri untuk ujian sebelum
berangkat ke Jakarta. Setelah ujian usai aku pun mendapat ucapan selamat dari
teman-teman dan dosen-dosen. Tak hanya itu. Pak Irsyad, pembantu dekan 3 yang
merekomendasikan aku untuk ikut loma memanggilku ke ruangannya.
“Assalamu’alaikum!”
kataku ketika memasuki pintu Pak Irsyad.
“Wa’alaikumusalam..”
jawab Bapak itu.
“Wah,
selamat ya Rosa!” ucapnya dengan nada gembira.
“Iya
Pak, sama-sama Pak” balasku sambil tersenyum.
Setengah
jam lamanya aku bercakap dengan Bapak yang selalu memakai baju kemeja panjang
lengan itu. Aku pun keluar dari ruangan berpendingin itu dengan hati riangnya.
Sebab Pak Irsyad juga memberikan reward
kepadaku. Sangat bahagia diri ini. Rasa cemas yang menghantui diri sudah
terpecahkan setelah pengumuman pemenang lomba debat oleh dewan juri dalam lomba
itu. Dari hal itu aku bisa mengambil pelajaran jangan menyerah sebelum perang. Dan aku harus selalu percaya akan
kemampuan diri sendiri. Terima kasih Tuhan!
***
*Cerpen ini pernah dimuat di koran Singgalang Minggu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar