Jumat, 29 Maret 2013

Cerpen: Takut Dibilang Kuper Lagi (Hasan Asyhari)


            “Sedih hati ini tiap ada orang mengatakan diriku tentang sebuah kata nan meruntuhkan jiwaku,” ucap Rangga termenung di depan pintu rumahnya.
            Rangga yang masih kelas XI di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Lobang Jepang, Bukittinggi selalu mendapat perlakuan kasar dari teman-teman bahkan saudaranya. Perlakuan kasar di sini  bukan berarti fisiknya selalu tersiksa melainkan perlakuan akan kata-kata terhadap dirinya sampai-sampai kata-kata itu membuatnya down. Sempat ia mengucapkan kata bunuh diri ketika kata-kata itu selalu dilontarkan teman-temannya. Kata itu adalah “Kuper” alias kurang pergaulan. Rangga orangnya yang agak pemalu, pendiam sebenarnya bukanlah anak yang kuper seperti yang dibilang oleh teman-temannya. Kuper sebuah istilah yang sering diutarakan teman-temannya karena selalu melihat Rangga tak pernah main keluar rumah seperti anak-anak seumurannya. Apalagi pacaran ini paling tidak amat sekali oleh dirinya.
             Rangga merupakan anak yang sangat patuh kepada orangtua dan ia termasuk anak yang rajin. Setiap penerimaan rapor namanya selalu dipanggil ke depan. Berkat kerajinannya, hampir setiap orang senang dengannya termasuk saudara-saudara ayah dan ibunya. Ia juga terkenal anak yang rajin mencatat dan boleh dikatakan selalu lengkap dalam mencatat. Melirik teman-teman di kelas meminjam catatannya baik teman cowok maupun cewek. Tak ada bedanya. Kedua-duanya sama-sama sering meminjam catatan Rangga. Terlebih ketika akan ujian semester. Berbondong-bondong teman-temannya meminjam catatan Rangga.
            Sebentar lagi ujian semester satu akan dimulai. Saatnya teman-teman menyerbu rumah Rangga bak orang mau pergi takziah ke rumahnya. Pergi satu datang satu lagi.
            “Assalamu’alaikum, Rangga, Rangga,” imbau teman-temannya.
            “Wa’alaikumsalam, ia.. silakan masuk!” Sambut tantenya.
            Sembari menunggu Rangga yang sedang berada di kamarnya, sempat teman-temannya melihat-lihat segala tropi dan piagam yang dimiliki Rangga. Ada juga mereka melihat alat-alat band. Merekapun tercengang. “Ini alat band punya siapa?” Ceplosnya dalam hati. Kemudian Rangga menjumpai teman-temannya itu. Sebagai anak yang cukup pendiam ia hanya berbicara apa adanya. Apa yang ditanya itu yang ia jawab.
            “Hai Rangga, ma’af ganggu,” ucap teman-temannya serentak.
            “Gak apa-apa kok,” jawabnya cepat.
            “Besok, kita ujian Sosiologi dan Ekonomi kan? Boleh kami minjam catatannya bentar buat di foto kopi,” pintanya dengan suara mohon.
            “He he, ia tak apa-apa. Pinjamlah bentar. Aku bentar lagi belajar. Tadi pas siap ujian bahasa Inggris aku sempat baca bentar,” jawabnya santai.
            Merekapun pergi ke tempat foto kopi. Sembari menunggu mereka. Rangga pun membaca buku-buku penunjang Sosiologi di ruang tamu.
            “Rangga...Rangga...ini bukunya. Makasih banyak ya.” Ucap teman-temannya.
            “Ia, sama-sama,” balas Rangga.
            Setelah beberapa hari perjuangannya menghadang berbagai soal-soal yang diujikan. Ia pun menerima rapor. Alhamdulillah, dirinya masih dinyatakan sebagai juara satu di kelas XI IPS 2. Betapa senangnya hati rangga. Orangtuapun bangga kepadanya.
Liburan semesterpun tiba. Liburan yang mesti dinikmatinya guna merefresh otaknya selama satu semester. Ia tidak terlalu memiliki rencana dalam mengisi hari liburnya. Selain membaca, menulis dan membantu orangtuanya di rumah.
***
            Suatu hari Om nya datang dari kota manggis, Solok hendak ke rumah Rangga bersama seorang anak perempuannya. Om Rangga yang bekerja di Dinas Perhubungan kota Solok. Ia merupakan abang dari ibu Rangga. Pak Akmal namanya. Ia memiliki empat orang anak. Yang pertama sedang kuliah di Institut Teknologi Bandung. Yang kedua bernama Zulia kuliah di Universitas Bung Hatta, Padang sedangkan anaknya yang ketiga dan keempat masih SD dan SMP di Solok. Zulia selalu diajak Om Akmal kemana pergi. Ke Malaysia pun ia ajak meskipun dalam tugas kerja di luar negeri. Tentunya dengan menyesuaikan jadwal kuliah Zulia dengan agenda Om Akmal ke luar negeri. Saat itu Om Akmal ke rumah Rangga. Zulia sang anak turut setia menemani sang ayah. Apalagi ke rumah tek Mar, panggilan akrab Ibu Rangga. Tek Mar yang sangat baik selalu dipuji oleh anak-anak Om Akmal termasuk Zulia.
            “Gimana kabar tek mar dan adik-adik Zulia yang lain?” Tanya Zulia santai.
            “Alhamdulillah sehat-sehat saja. Si Rangga sekarang udah rajin menulis di koran. Si Rima sudah pintar mengendarai sepeda motor.” Terang tek Mar dengan bangganya.
“Wah bagus tuh tek Mar,” puji Zulia sambil membuka tutup toples keripik ubi di ruang tamu.
 “Oh ya, si Rangga mana tek Mar?” Tanya Zulia penasaran.
“Si Rangga lagi di kamar,” jawabnya.
“Bisa panggilkan Rangga tek Mar!” Suruh Zulia dengan sopan.
“Ia, biar tek Mar panggilin,” balasnya. Zulia dan Rangga berbincang-bincang di ruang tamu. Om Akmal pergi keluar mengirim berita di warnet Satria belakang rumah Rangga. Om Akmal juga berprofesi sebagai wartawan di salah satu koran lokal Sumatera Barat.
“Gimana kabar Ga, ngomong-ngomong Ga sudah banyak ngirim tulisan ya ke singgalang?” Tanya Zulia sambil memegang handphone Blackberry barunya.
“Alhamdulillah,” jawab Rangga dengan nada cepat. Ia tak menginginkan omongan yang menyentuh perasaannya itu terulang kembali. Pernah anak dari saudara ayahnya mengatakan Rangga akan sulit bekerja nanti karena ia kurang pergaulan. Kata-kata itulah yang membuatnya sempat terkungkung dengan emosi hati.
“Rangga, kok gak main keluar?” Tanya Zulia heran.
“Malas saja kak, kadang-kadang saja kalau dijemput main sama teman-teman,” terangnya agak cemas.
“Oh begitu... He he,” tawanya gurau.
Akhirnya kata-kata yang ditakuti Rangga tadi tak sempat berkutik. Mujur saja ia bisa mencari celah lain meskipun dengan rasa cemas ia menjawab sebungkah pernyataan yang amat mengerikan dirinya lebih ngeri daripada menonton film hantu sekalipun. “Terima ksih Tuhan,” syukurnya dalam hati.
***
                                                                        Padangpanjang, Januari 2013

Biodata:         
IMG_0023
Penulis bernama Hasan Asyhari. Nama penanya Hasan Al-Faritsi. Ia adalah mahasiswa jurusan sosiologi FIS UNP. Ia lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Ia juga aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tulisannya sering muncul di media cetak dan media online. Selain itu ia juga pernah menerbitkan buku dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus” (2012), Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (2013) keduanya terbitan FAM Publishing.  Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Serta akun twitter dengan nama @HasanAsyhari27. Ia beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

FF: Cinta Yang Bernoda (Hasan Asyhari)


            “Tania, mari kita jalan!” Ajak Haikal sambil memegang kunci mobilnya.
            Tania sosok gadis yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Medan. Dan Haikal juga seorang mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang berbeda dengan Tania. Malam ini adalah malam minggu. Mereka hendak pergi ke mall terbesar di Medan. Bak sejoli yang masih selalu menginginkan kesetiaan. Berdua-dua adalah paling asyik bagi dunia mereka. Di sana ia bermain game-game menarik pelepas lelah hampir setiap harinya diisi dengan kesibukan kuliah dan organisasi kampus. Tania dan Haikal sudah berpacaran sejak kuliah sama-sama semester 2.
            “Kal, aku besok sudah pergi ke Pekanbaru untuk magang selama satu bulan. Bolehkan?” Izin Tania pada Haikal bak pasangan suami istri.
            “Tentu boleh Nia,” balasnya senang.
            Suasana siang itu agak asing. Ada hawa keanehan saat percakapan mereka.  Seharusnya sebagai sesosok cowok sejati. Ia merasa sedikit khawatir Tania akan diganggu cowok-cowok lain di sana. Malah, ia sangat senang. Matapun berbinar keriangan bak menari-nari di atas permadani.
            Akhirnya, dua hari setelah itu. Tania berangkat bersama rombongan teman-teman kuliahnya dan beberapa orang dosen. Keberangkatannya tak dilepas sang kekasih hati yang waktu itu sedang kuliah.
            Ayah Tania sebelumnya sudah merestui hubungan Tania dengan Haikal. Beberapa hari pasca kepergian Tania. Penglihatannya diwarnai dengan tingkah aneh dari Haikal. Meskipun Tania tidak ada di rumah ia sering berkunjung ke rumah orangtua Tania.
            Suatu hari Haikal datang bersama seorang laki-laki. Lumayan tampan dan badannya pun berotot. Laki-laki itu sebelumnya tak pernah ia ajak ke rumah Tania.
***
            “Assalamu’alaikum...” Ucapnya santai.
            “Wa’alaikum salam,” jawab Ibu Tania yang keluar dari kebun belakang rumah. Ibu Tania seorang ibu rumah tangga yang senang berkebun tanaman hias. Banyak tanaman hias yang berjejer di depan rumahnya. Ayah Tania seorang manager di salah satu perusahaan asing.
            “Apa kabar nak Ikal,” sapa Ibu Tania. Ikal sapaan akrab Haikal oleh keluarga Tania.
            “Alhamdulillah, sehat bu. Ibu bagaimana?” balasnya tanya balik.
            “Alhamdulillah sepert inilah nak Ikal, he he,” jawabnya sambil tawa.
            “Oh ya, bapak ke mana buk?” Tanyanya penasaran.
            “Bapak lagi di atas,” terang Ibu Tania.
            “Oo, iya gak apa-apa buk,” jawabnya ragu. Rudi teman Haikal yang ia bawa tadi belum sempat ia perkenalkan sama Ibu Tania sampai-sampai Ibu Tania menanyakan tentang Rudi.
            “Oh iya, siapa nama teman Ikal?” Tanya Ibu Tania pada Rudi.
            “Rudi bu, saya teman kuliah Ikal,” terang Rudi langsung. Rudi orangnya cukup pendiam apa yang ditanya itu saja yang ia jawab. Lebih banyak senyum daripada bicara. Kesopanan dan lesung pipi yang merona di wajahnya membuat Ibu Tania senang padanya.
            “Sebentar ya Ikal dan Rudi, Ibu ke belakang sebentar,” ucapnya senyum. Ibu Tania ke belakang mengambil sepiring risoles yang masih tertutup renggang di dapur.
            Tiba-tiba, ayah Tania turun dari kamar atas. Ia melihat Haikal dan Rudi sedang berpelukan. Bak menghampiri istri yang lagi kesedihan. Bunyi rentakan kakipun mengaduh suasana saat itu. Terpucat wajah Haikal dan Rudi kala itu. Suasanapun berubah sesaat. Namun ayah Tania tidak menanya langsung. Karena ia melihat dari tangga pertama turun dari lantai atas barangkali matanya yang sudah mulai buram di ambang usia. Seorang Bapak yang tidak menginginkan suatu yang janggal nantinya. Ia pun berusaha mencari data yang pasti siapa sebenarnya Haikal ini. Yang ia tahu, bahwa Haikal seorang anak pengusaha di negeri jiran Malaysia.
            “Apa kabar Haikal?” Sambut bapak berkaca mata itu. Sengaja tidak diutarakannya apa yang baru dilihatnya barusan. Merekapun bincang-bincang seperti tak ada masalah satupun. Padahal di pikiran ayah Tania sudah terlinang sedikit luka.  Akhirnya tak beberapa lama setelah itu Haikal dan Rudipun hendak ingin keluar dari rumah nan cukup besar itu karena mereka ada kegiatan lain juga.
***
           
            Malam ini pukul 20.30 WIB Haikal dan Rudi berencana pergi ke tempat fitness. Rudi baru dikenal Haikal sewaktu Rudi membantu Haikal menambal ban mobilnya di sebuah bengkel tempat Rudi bekerja. Kebetulan Rudi bekerja di bengkel mobil dan juga hampir setiap kamis malam ia bertemu dengan Rudi di tempat fitness yang sama. Kemudian Haikal menjemput Rudi di sebelah bengkel mobil yang merupakan tempat kost Rudi.
            “Halo Rudi. Yuk, kita pergi lagi!” Ajaknya cepat.
            “Ayuk Kal,” ucap Rudi balik.
            Malam itu juga ayah Tania kebetulan di telepon oleh temannya yang berada di tempat fitness Haikal. Pak Roni namanya, ia menelepon ayah Tania karena urusan kantor yang harus ia bicarakan juga di sana. Pak Roni sering fitness di sana. Namun, karena ada yang mau dibicarakannya dengan ayah Tania. Terpaksa ayah Tania datang ke tempat itu. Tempat yang direncanakan sebagai tempat pertemuan ayah Tania dengan Pak Roni rekan kerjanya. Akhirnya memancing sebuah masalah yang tak diduga. Ia melihat Haikal seperti berciuman dengan seorang lelaki di sudut kafe tempat fitness yang cukup lengang waktu itu. Ayah Tania kebetulan membawa camera dygital yang ia simpan di dalam tas kecil yang ia selalu ia sandang kemana pergi. Ia agak mendekat menuju meja nomor 6. Dipakainya topi coklat bak anak muda. Kemudian diambil kamera digital itu lalu ia foto ekspresi yang mereka lakukan berdua. Bertambah yakin ayah tania bahwa pacar anaknya itu pecinta sejenis.
            Tania yang sangat setia dengan Haikal. Komunikasinya tetap terjalin meskipun lewat telepon dan akun jejaring sosial yang mereka miliki. Tania sering menghubungi Haikal lewat telepon genggamnya begitu juga Haikal. Percintaan mahasiswa beda perguruan tinggi itu tanpa disadari percintaannya sudah ternodai akan tingkah Haikal yang tak sewajarnya sebagai seorang lelaki. Tak diduga sebelumnya ia sudah menyalurkan nafsu kepada sesosok lelaki yang barumur tiga puluhan. Belum jadi pacar sebenarnya ia sudah melakukan perilaku menyimpang itu. Haikal ternyata korban pelecehan seksual oleh teman ayahnya waktu ia masih SMP di Jakarta. Sehingga Haikal menjadi candu berbuat seperti itu. Tak hanya dengan Rudi beberapa teman cowok juga pernah ia jadikan pacar. Namun, karena sudah kuliah ini ia sudah melupakan hal itu. Saat kepergian Tania ke Pekanbaru cinta sesama jenis itu kembali membara. Tak tahu apa penyebabnya. Apakah tak tahan ditinggal Tania atau bagaimana.
***
            Hampir sebulan Tania magang di Pekanbaru dan hendak pulang ke Medan. Dengan wajah rindu ia menginjaki kaki di kota samosir itu. Di teleponnya Haikal untuk menjemputnya di kampus.
            “Halo, sayang jemput aku ya di kampus!” Suruh Tania.
            “Ya sayangku!” Jawabnya romantis.
            Tak berapa lama datanglah Tania dan Haikal ke rumah. Orangtua Tania juga menunggu kedatangan anak satu-satunya keluarga itu.
            “Assalamu’alaikum ayah, ibu.” Dipeluk Tania kedua orangtuanya yang sedang berada di ruang tamu. Haikal sedang membawa barang Tania dari garasi mobil. Ia pun terkejut saat ayah Tania tiba-tiba melarang mendekati anak perempuannya itu.
            “Jangat dekat kau!” Larang ayah Tania dengan nada kasar.
            “Kenapa ayah seperti itu?” Tanya Tania cemas.
            Ayah Tania pun memperlihatkan foto-foto Haikal sedang menciumi seorang cowok.
            “Apa-apan ini Kal?” Tanya Tania marah.
            “Ini..ini..bukan aku,” jawab terbata-bata.
            “Ini, ini apaan. Sudah...Kau benar-benar berengsek. Pergi kau dari sini!” Usir ayah Tania. Tania pun sangat sedih melihat foto-foto itu. Tak terbayang sebelumnya bahwa cowok yang sangat ia cintai berperilaku seperti itu.
            “Haikal, kau sudah menodai kesucian cinta kita. Aku benci kamu Ikal.” Kesal Tania pada Haikal.
            “Ya, ma’afkan aku Tania!” Ucap Haikal langsung keluar dari rumah Tania.
            Betapa pedihnya perasaan Tania saat itu. Telepon dan sms yang berderingpun tak ia angkat. Ayah Tania pun melarang keras hubungan Tania dan Haikal malah minta diputusin dan dilarang berhubung lagi. Si ibu yang pengertian tak menyalahkan Tania. Ia Cuma memberi nasihat kepada anak semata wayangnya itu. Agar berhat-hati dalam memilih pengisi hati. Akhirnya Tania pun menyadari bahwa ia salah memilih kekasih hati yang selama ini ia sayangi.
***

Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa jurusan Sosiologi FIS UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Bakat menulisnya muncul sejak ia berumur 19 tahun. Tulisan pertamanya pernah dimuat di koran Singgalang Minggu (koran lokal SUMBAR). Selain itu ia juga sudah menghasilkan tulisan yang dibukukan seperti buku Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar”  keduanya terbitan FAM Publishing, 2012. Sebentar lagi buku Antologi Puisi “Bukittinggi, Ambo Ado Disiko” akan segera terbit. Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

Jumat, 22 Februari 2013

Cerpen: Syukur Pada-Mu (Hasan Asyhari)


              Malam ini penuh kerisauan. Raihan mulai mabuk-mabukkan lagi di tempat kostnya. Entah apa gerangan yang membuatnya mengulangi perangai lama itu.
            “Han, han...Sudah!! Jangan kau mabuk lagi. Ingat ibumu di kampung!” Larang Bagus.
            “Diam Gus!” Marah Raihan padanya.
            Botol vodca yang masih tinggal setengah botol langsung disimpan Bagus tanpa minta izin dulu pada Raihan. Bagus sangat baik pada Raihan. Ia takut jika tiba-tiba polisi datang ke kostnya. Ia tak menginginkan Raihan terjebak lagi akan sikap bodoh sahabatnya itu. Mereka sama-sama satu fakultas di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Lampung. Sejak awal kuliah hingga sekarang mereka akrab berteman bahkan sekarang masih tetap satu kost. Namun, Raihan sangat mudah terpengaruh dengan teman-teman kuliahnya yang hobi minum minuman keras itu. Ia tak menyadari bahwa ia berasal dari keluarga menengah ke bawah. Teman-temannya kebanyakan anak orang berada. Tentu mereka bisa berperilaku seenaknya saja. Menghambur-hamburkan uang dan malas kuliah itulah kerjaan mereka. Mereka tak terlalu memikirkan bagaimana orangtua mereka mencari uang di kampung. Berbeda dengan Raihan berasal dari keluarga yang sangat sederhana.
***
            Hampir tiap malam Raihan ugal-ugalan dengan teman-temannya. Kadang ke kafe, main kartu dan batu domino di kedai sebelah kost bersama teman-temannya. Mereka adalah mahasiswa yang hampir serupa perilakunya dengan Raihan. Kuliahpun mulai berantakan. Ia terbawa kesenangan dunia. Pernah suatu hari ia tak mengerjakan tugas kuliah diusir keluar oleh dosennya.
            “Raihan, mana tugasmu?” Tanya Pak Anto tegas. Pak Anto yang dikenal kiler di mata mahasiswa sering membuat mahasiswa menggigil. Sekali tidak membuat tugas ia langsung mengasih nilai E alias gagal di lembar hasil studi tiap semester.
            “Tinggggaaallll...Pak.” Ucapnya cemas. Terlihat aura pucat di wajah Raihan saat itu.
            Pak Anto pun naik pitan kala itu sehingga sampai mengusir Raihan. Minggu sebelumnya ia juga tidak mengerjakan tugas. Padahal mata kuliah itu adalah mata kuliah yang akan menunjang keterampilan pada jurusan yang ia pilih.
            “Keluar saudara! Saya tidak suka dengan mahasiswa yang pemalas.” Usir Bapak berkaca mata itu. Bersimpuh malu Raihan di hadapan teman-temannya. Ia pun keluar tanpa pamitan. Menghibur hati yang sedang galau ia pergi ke kantin belakang kampus.
            Di kantin itu ia bertemu dengan teman-teman yang juga sering mengajaknya main judi, minum bir dan sebagainya.
            “Woi bro!! Kenapa lu?” Tanya Moldy teman bermain Raihan yang juga satu fakultas dengannya.
            “Ahhh, gak apa-apa bro.” Jawabnya pura-pura.
            “Hahai....” Sanggahnya. Meminum teh susu panas mencekik suasana yang semula galau menjadi agak riang. Moldy dan Toni yang berada di depannya hendak mengajak Raihan nanti malam ke sebuah diskotik. Namun, mereka tidak mau menyebutkan ke mana ia akan diajak nanti malam.
            “Bro, ntar malam jalan yuk!” Ajaknya.
            “Kemana?” Balasnya heran.
             “Tunggu aja nanti malam bro..” Yakinnya.
             “Ok dah bro.” Katanya setuju.
***
            Malam pun tiba, kemudian mereka menjemput Raihan ke kost. Waktu itu Bagus sedang mencuci pakaian. Raihan yang kelihatan mau pergi keluar. Sempat mengundang pertanyaan Bagus.
            “Kemana Han?” Tanyanya sambil mencuci pakaian di kamar mandi.
            “Aku keluar bentar Gus. Mungkin pulangnya agak kemalaman.” Balasnya santai.
            “Iya Han, hati-hati aja.” Pesannya.
            “Ya Gus, thank you.”
            Raihan dan Bagus dua orang teman yang sangat akrab. Namun, sejak semester dua ia mudah diajak oleh teman-temannya. Ditambah lagi kebiasaan buruknya yang pernah minum minuman keras sejak Sekolah Teknik Mesin (STM) beberapa tahun yang lalu yang akan memperparah dirinya. Ia memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanya itu. Terkadang Bagus juga sering mengajaknya ke luar. Namun, ia lebih memilih teman-temannya itu. Uraian sedih yang Bagus rasakan di saat ia tak mau menerima ajakannya.
            “Tit, tit, titt...” Bunyi klakson dua sepeda motor yang menghampiri kost Raihan. Merekapun pergi ke sebuah tempat. “Kemana kita sekarang bro?” Tanyanya. “Lihat aja nanti.” Jawab Moldy. Mereka pergi bertiga. Raihan kebetulan bergoncengan dengan Moldy. Sedangkan Toni sendirian. Mereka sering keliuran keluar malam. Tak hanya mabuk-mabukan. Judi sering melakukan. Batu domino menjadi saksi bisu tingkah mereka.
            Tibalah mereka di sebuah tempat penuh kegerlapan. Diskotik Guide 56 namanya. Banyak pemuda dan pemudi yang berpakaian tak senonoh berada di sana. Terlihat susunan botol-botol miras dengan macam-macam merek terpajang rapi di bar itu.
            “Kamu minum apa?” Tanya Toni.
             “Aku minum jus lemon aja.” Pintanya.
            Sebenarnya untuk ke diskotik baru sekarang ia datangi. Biasanya ia tak pernah ke tempat itu. Minuman keraspun kadang ia beli dengan patungan bersama temannya.
            Mereka duduk sambil bercerita-cerita di sana. Di tengah pembicaraan berdering handphone nya. “Siapa ini? ganggu orang aja.” Ucapnya dalam hati. Dilihatnya, ternyata sang ibu hendak meneleponnya. Merasa terganggu ia matikan segera deringan telepon itu. Itulah Raihan seperti tak memiliki hati lagi. Candu senang sudah menghantarinya pada gerbang kedurhakaan.
            Secara diam-diam Moldy memegang kotak rokok. “Yuk, hisap bro.” Ajak Moldy sambil meletakkan kotak rokok itu di atas meja. Mereka hisap bersama. Raihan sempat menolak. Namun, mereka tetap juga maksa. Akhirnya ia menghisap rokok itu. Raihan merasakan suatu agak berbeda daripada rokok yang biasa ia hisap. Baru satu hisap aja ia gak betah. Sedikit mual. Itulah alasannya ia membuang rokok itu di bawah sudut meja. Nah, tak disangka itu adalah ganja kering yang dikemas dalam bentuk rokok. Sengaja mereka mengajak Raihan ke diskotik. Mereka menganggap Raihan mudah untuk diajak melakukan berbagai hal terlarang itu.
***
            Tak disangka tiba-tiba, datang polisi bergerombolan membawa beberapa senapan api. Diskotik Guide 56 sudah lama diincar-incar polisi. Karena pernah dapat sogokan dari pengusaha diskotik itu akhirnya kedatangan mereka sempat tertunda. Diskotik itu penuh dengan minuman keras dan pasangan muda-mudi yang mencari hiburan di kegemerlapan malam. Mereka yang datang ke sana kebanyakan orang yang sudah bekerja dan ada juga mahasiswa.
            “Angkat tangan! Jangan ada yang keluar.” Ucap salah seorang polisi bertubuh tinggi itu.
            Suasana yang tadi brisik berubah sunyi. Diperiksanya satu persatu pengunjung diskotik itu. Ternyata ada beberapa orang yang kedapatan menyimpan sabu dalam tasnya. Selanjutnya giliran Raihan, Moldy dan Toni. Diantara mereka Toni yang duluan diperiksa. Polisi menemui beberapa batang rokok ganja kering di saku celana jeans nya. Selanjutnya, giliran Moldy yang kedapatan satu batang ganja kering di selip sandalnya. Raihan yang paling terakhir polisi tidak menemui barang haram itu di seluruh pakaian yang terpasang di tubuhnya. Semua tersangka dan barang bukti dibawa ke kantor polisi. Meskipun polisi tak  menemui barang haram itu. Raihan masih belum bisa tenang. Polisi akan menguji urin semua tersangka termasuk Raihan. Sembari menunggu hasil tes urin. Semua tersangka diinapkan di sel tahanan sementara.
            Besok paginya sekitar jam 9 tiap tersangka dipanggil satu persatu. Polisi hendak memberitahu pada setiap tersangka. Alhasil Raihan negatif. Ini pertanda polisi tak menemui Raihan mengkonsumsi barang haram itu. Mungkin kesaksian saja yang diminta polisi padanya. Ini sebuah keajaiban pada Raihan. Biasanya orang yang menghisap ganja sedikit saja sudah positif kena. Namun hal ini berbeda yang dialami Raihan. hasil tes tak membuktikan itu. Ini benar-benar aneh. Sungguh Tuhan sangat mencintainya. Tak ada yang tak bisa oleh-Nya. Jika Tuhan sudah berkehendak tak ada yang dapat melarang-Nya.
Subhanallah Alhamdulillah
Syukur pada Allah yang menciptakan kita

Seluas lautan
Yang tidak pernah ada tepinya
Itulah nikmat kurnia-Nya selama ini

Sesekali diri diuji
Hingga tak berdaya langkahku
Itu sebenarnya
Nikmat kasih sayang dari-Mu padaku

Di dalam hati yang keresahan
Kau datang menemani
Memberi sinar penuh harapan

Di dalam hati yang kekosongan
Kau isikan kasih-Mu
Agar jadi panduan menerus kehidupan

Doa ikhlas silih berganti
Di hati

Subhanallah Alhamdulilah
Syukur pada Allah yang menciptakan

Terima dengan syukur
Segala pemberian-Nya
Pasti ada kemanisan yang tersembunyi
(Syukur Pada-Mu by. Hijjaz)

            Raihan pun cukup bahagia itu. Ia sengaja tak menelepon Bagus karena takut Bagus  akan shock  jika mendengar kabar buruk itu. Raihan yang dijebak dalam perkara itu baru bisa pulang ke kost sore harinya. Kesaksian masih diminta polisi sewaktu-waktu menjelang pengadilan memutuskan sanksi atas perkara itu. “Terima kasih Tuhan atas pertolonganmu, maafkan daku yang banyak dosa-dosa ini,” do’anya dalam hati waktu selesai melaksanakan shalat maghrib.
***

Judul Lagu    : Syukur Pada-Mu
Penyanyi        : Hijjaz           

Biodata:         
Penulis bernama Hasan Asyhari. Nama penanya Hasan Al-Faritsi. Ia adalah mahasiswa jurusan sosiologi FIS UNP. Ia lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Ia juga aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tulisannya sering muncul di media cetak dan media online. Selain itu ia juga pernah menerbitkan buku dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus” (2012), Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (2013) keduanya terbitan FAM Publishing.  Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Serta akun twitter dengan nama @HasanAsyhari27. Ia beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.