Jumat, 29 Maret 2013

Cerpen: Belaian Kasih Sayang Amak (Hasan Asyhari)


            Rintihan sakit pada pipi kiriku menentang tangan yang masih kaku berupaya memencet satu per-satu tombol key pad yang melekat erat di handphone-ku. Berusaha meminta sang amak (ibu) meneleponi-ku yang cukup jauh dari kota Malin Kundang itu. Bersandar di sudut ruang kamar wisma at-takhwin (penginapan mahasiswa) sembari meredam sakitnya bengkak yang muncul di pipi kiri-ku. Tak sadar sang surya sebentar lagi akan bangun dari gelapnya hari.
            “Mak, pipiku bengkak, bibir-ku pencong,” ucapku sedih kala itu.
            “Kenapa sampai seperti itu nak? Tanya sang amak haru.
            “Gak, tau mak! Tadi malam Ayi tidur gelisah. Miring ke kiri pipi ini amat terasa sakit.” Ucapku cemas.
            “Kalau tak sanggup rasanya, pulanglah ke kampung nak! Naik travel saja, jam delapan nanti.” Suruh amak.
            “Ya mak, nanti Ayi pulang kampung sekitar jam delapan-an.” Balasku  terus merintih kesakitan.   
            Belok kanan belok kiri. Seringkali aku melototi cermin yang terpajang di pintu ruang tengah wisma. Dari bilik ke bilik kusoroti wajah ini. Menghadap cemas pada warga wisma yang sudah kembali berbaring di atas kasur. Mengharap sedikit solusi malah celotehan yang ada. Namun, ada pula yang memberi solusi yang masuk akan logika-ku.
            “Kenapa bibirmu pencong San? Panggilan akrabku di wisma.
            “Gak tau, tiba-tiba bibir ini pencong? Kemarin sudah ada gejalanya, tapi gak ada pencong.” Tangkasku cemas.
            “Ada di tampar orang gak?” Sampar Helmi memegang netbook barunya.
            “Gak ada bg..” Balasku melototi netbook yang hendak ia hidupkan.
            Aku kembali ke kamar. Tiba-tiba Aziz datang dari kamar sebelah.
            “Kalau gitu, biar aku temanin sampai tempat penungguan travel ke Padangpanjang san.” Ajak Aziz.
            “Iya, aku beres-beres dulu ziz...” Balasku.
            Saat itu, hampir semua warga wisma yang cukup cemas dengan keadaan wajahku bagian kiri. Membengkak seperti ditampar orang. Bibir-pun pencong bak orang diserang penyakit stroke. Arfan, sang adik wisma juga cemas akan hal itu. Saking cemasnya. Ia dan Aziz menemaniku nyeberang dua sisi jalan raya yang ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermesin. Pas betul saat satu jalan hendak dilalui kami langsung jumpa mobil travel yang masih kosong akan penumpang.
***
            “Tit, tit, tit..” Bunyi klakson dengan gas pelan menyapaku.
            “Ke Padangpanjang Da??” Tanyaku sambil menutup bibirku yang pencong.
            “Ya dek!” Balasnya.
            Aku salami Aziz dan menghadap ke arah Arfan. Aku khawatir Pak Sopir melototi wajahku yang mencemaskan itu. Kunaiki mobil duduk di depan berdampingi dengan sang sopir. Tak ada percakapan lirik mata dengannya. Ia yang sibuk mencari penumpang tak terlalu memperhatikan sikap anehku menutup bibir. Sekali-kali aku jawab pertanyaannya tanpa menoreh padanya. Hingga akhirnya tibalah aku di Padangpanjang.
            Akupun turun di depan BRI sembari memandangi sang adik yang hendak menyeberang menjemputku.
            “Sana aja Ihsan. Jangan kemari!” Bahasa tubuhku melarangnya biar gak nyeberang ke tempat pemberhentianku. Saat itu juga kusempati mampir ke ATM. Batas transfer biaya penerbitan buku kumpulan Surat pilihan dari sayembara salah satu penerbit harus kutransfer hari ini juga.
            “Kenapa bibir abang Ayi?” Tanya Ihsan memperlihatkan wajah cemas.
            “Gak, tahu. Tiba-tiba tadi pagi udah pencong aja.” Kataku.
***
            Setiba di rumah. Icha, adik perempuanku juga terkejut dengan wajah pucat bercampur bengkak dan pencong di bibirku. Di ambilnya botol obat yang berisi air liur lebah yang sering digunakan anggota keluargaku di kala sakit. Adik-adikku yang lain pada khawatir akan keadaanku saat itu. Kemudian, amak yang sedang mengajar di salah satu pondok pesantren meneleponiku. “Jam 2-an amak pulang ya Ayi!” katanya. Tak lama kemudian, amakpun pulang ke rumah.
            “Assalamu’alaikum...” Bunyi suara amak dari pintu belakang rumah. 
            “Wa’alaikumussalam...” Ucap Aku, Icha, Ihsan dan Fhira yang lagi libur akhir pekan.
            Amak menatapi wajahku yang sebelumnya kurus kerontang berubah sekejap menjadi bengkak. Menangis amak melihatku. Aku ceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Akhirnya, esok hari aku disuruh periksa ke puskesmas. Ku ambil karcis dan duduk rapi dengan menghela dikit demi dikit jaket almamater organisasi yang terpasang di badanku. Ku segan membiarkan wajah ini dilihat banyak orang. Nomor antrianpun terpanggil. Lalu aku disuruh ke ruang poli umum. Beberapa helai kertas tebal mesti ku tenteng dan kasihkan ke perawat di ruangan poli umum itu. Sembari menunggu panggilan namaku. Ku tutup mulut yang berbungkah bibir pencong menghiasi tingkahku saat itu.
            “Bapak Hasan Asyhari,” namaku dipanggil. Sapaan Bapak amat mengena di jiwaku. Tekanan darah pun langsung diukur sang perawat. Kemudian aku disuruh menunggu di luar.  Setelah namaku dipanggil, aku langsung ditanya oleh ibu dokter. Ia pun mendiagnosaku kena gangguan syaraf. Ia berikan surat rujukan ke dokter spesialis syaraf RSUD Padangpanjang. Haripun berputar gelap hingga berubah menjadi terang kembali. Aku dan amak hendak pergi ke RSUD.
***
            Menaiki dua ojek yang berbeda sopir. Penuh rasa cemas dan dinginnya hari melirik akan rasa kala itu. Setiba di sana. Kamipun menuju tempat Askes sebelum menuju rekam medis. Setelah itu aku disuruh masuk ke ruang spesialis syaraf. Ku serahkan berkas yang dikasih petugas rekam medis untuk dikasihkan ke ruangan spesialis syaraf. Perawat yang sudah cukup dimakan umur memeriksa tekanan darahku.
            “Dek, dokter masuk jam satu nanti. Jadi datang saja jam satu nanti ya!” Ucap sang perawat. Tak ingin tubuh ini menggigil kedinginan melihat awan hitam yang mulai menangis. Amak mengajakku makan lontong di sebelah rumah sakit. Setelah itu, aku dan amak langsung pulang menaiki ojek yang berada di simpang rumah sakit bertaraf internasional itu. Waktu menunjukkan pukul dua kurang seperempat. Ihsan yang baru pulang dari sekolah dan paman yang masih istirahat kerja mengantarkanku ke RSUD kembali. Takut terlambat, ternyata dokternya sudah datang.
            Menunggu panggilan. Aku, amak dan pasien lainnya duduk rapi di kursi besi depan ruangan yang bertuliskan syaraf dan neurologi itu. Saat diperiksa sang dokter, aku ternyata tidak ada masalah pada syaraf. Dokter di puskesmas salah mendiagnosa penyakitku. Lalu sang dokter syaraf menyuruhku konsultasi ke spesialis gigi esok harinya. Tak mau berbelit-belit. Aku datangi puskesmas kembali dan hendak konsultasi pada poli gigi di puskesmas. Di sana, ia nyatakan ada akar yang belum mati di gigi dekat gusiku. Itulah yang menyebabkan pipi bengkak dan bibir pencong. Ia sarankan meminum obat yang dikasihnya selama tiga hari dulu. Jika juga tidak ada kesembuhan maka baru akan diberi surat rujukan ke RSUD.
            Rinai siang-pun mewarnai kota hujan itu. Tiba-tiba Aziz meng-sms ku. Teman-teman di kampus akan datang ke rumah menjengukku sekitar jam dua-an. Karena masih mencari motor maka keberangkatan mereka di-pending jadi jam empat-an. Hujan yang cukup lebat membuat khawatir akan keadaan teman-teman. Alhamdulillah setelah ditunggu juga jam delapan-an mereka sampai di rumah dengan selamat. Amak sengaja masak nasi lebih banyak daripada biasa. Ia begitu mengenal keadaan anak-anak. Apalagi teman-temanku yang umumnya kost. Tentu belum makan. Kita-pun makan bersama. Setelah makan, amak dan abak (ayah) bercengkrama dengannya. Sesekali kuucapkan kata yang terbesik dibenakku mesti sempat tergaduh akan bibir pencongku. Malam yang penuh kasih sayang. Kala itu, Chandra memimpin do’a untuk kesembuhanku. Terima kasih Tuhan, amak, abak dan teman-teman semua!.
***
                                                                        Februari 2013, di Rumah Kasih Sayang

Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari. Mahasiswa UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar” (FAM Publishing, 2012). Dan terakhir buku Antologi FF dan Puisi “My Love Dreams” (Soegha Publishing, 2013). Ia memiliki akun Fb dengan nama Hashan Asyharii dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

FF: Suara Aneh di Wisma 13 (Hasan Asyhari)


            Malam yang sunyi di salah satu pondok tempat tinggal pelajar khusus putera yang berada di tepi pantai kota Padang. Wisma 13 namanya. Wisma yang selalu ramai dengan hiruk pikuk suara para pelajar di salah satu SMA (Sekolah Menengah Atas) swasta di kota Padang. Malam itu seperti tak berpenghuni padahal masih ada tiga orang siswa yang masih belum pulang kampung sebab mengikuti pergi study tour ke Medan. Wisma itu adalah rumah kontrakan yang dikontrak oleh ketiga belas orang remaja asal Nias. Ketika warga wisma berkurang 10 orang, hampir setiap malam suasana wisma terasa asing daripada biasanya.
             Romi, Beni dan Rizal. Ketiga remaja itu biasanya selalu rajin, namun pada malam hari itu ketiganya seolah-olah berbeda 190 derajat dari biasanya. Tiba-tiba ada yang aneh dari ketiga sikap remaja itu. Romi yang biasa rajin membersihkan kamar atas wisma, malahan tidak mau membersihkannya. Beni juga biasa mencuci piring di sumur belakang wisma, terusik rasa ngeri tidak mau menyuci piring kotor dan perlengkapan makan lainnya. Dan Rizal, sang juru keamanan wisma juga tak mau mondar-mandir lagi ke lantai atas dan belakang wisma. Entah apa gerangan yang menyebabkan kemalasan dan ketakutan mereka masing-masing di malam jum’at kliwon nan sunyi di wisma 13.
            Malam ini menunjukkan pukul 00.13 WIB, ketiganya hendak tidur di sebuah kamar depan lantai bawah. Ditutupinya semua pintu dan beberapa gorden pintu sebelum mereka menutupi tubuh dengan helaian selimut tipis. Pintu kamar saat itu masih belum terkunci, ia kunci pintu kamar dengan tangan agak menggigil. Beberapa menit setelah itu, listrik di wisma padam. Tak ada satupun senter dan HP (Handphone) yang bisa dimanfaatkan penghalau gelapnya malam. Namun, tak terlalu diabaikan. Dibiarkannya listrik mati tanpa mencari sebabnya.
***
            Setengah jam kemudian mereka sudah tidur pulas kecuali Rizal, Rizal yang masih separuh tidur tiba-tiba mendengar suara dari balik pintu kamarnya.
            “Aaaaahhhhhh,,,” bunyi suara dari arah balik pintu kamar.
            “Aaaaaaaaaahhhhhhh,,,” suara itu makin bertambah panjang bunyinya.
            Suara itupun bertambah lama bertambah panjang bunyinya. Melirik Rizal yang masih belum tidur pulas hendak mencoba pintu kamar. Lalu dibukanya pintu kamar, ternyata bunyi suara itu tak terdengar lagi. Rizal yang juga pernah mendengar suara serupa ternyata memiliki kemampuan melihat makhluk ghoib. Tak puas sampai di luar kamar saja, ia pun memberanikan diri ke tangga lantai atas wisma. Suara aneh itu muncul kembali, akhirnya saat membuk pintu ketiga dekat kamar mandi. Ia melihat tiga orang anak kecil bermuka hancur. Ternyata itu adalah tiga orang anak Jin yang menyerupai anak kecil yang hendak mengganggu warga wisma. Betapa terkejutnya Rizal saat itu.
            Akhirnya, Rizal juga diberi kesempatan untuk berbicara dengan ketiga jin yang menyerupai anak kecil bermuka hancur itu.
            “Hei, siapa kamu?” tanya Rizal dengan nada agak tinggi.
             “Aku punya rumah ini,” balas salah satu jin dengan suara sangat halus.
            “Kenapa kalian mengganggu kami?” tanya Rizal.
            “Kita cuma bermain-main saja,” jawabnya.
            “Kalau begitu jangan janggu kami,” terang Rizal.
            “Iya,” jawab jin itu seperti bersiap-siap hendak  pergi.
            Akhirnya, Rizal pergi ke lantai bawah.
***
            Di malam berikutnya, tepat pukul 22.30 WIB. Tak ada bunyi suara apapun yang diperdengarkan. Romi yang sedang mengetik sebuah tulisan sederhana sedang berada di kamar dengan kondisi pintu terbuka lebar. Tiba-tiba pintu kamar yang dibuka lebar-lebar tertutup dengan sendirinya. Tak ada langkah yang dilihat, tak ada bayangan bahkan tak ada suara terdengar yang melewati depan kamarnya. Tak terlalu berpikir panjang Romi saat itu. “Ya, biar saja. Gak usah dihiraukan,” ucap Romi dalam hati.
            Ketiga pelajar SMA asal Nias itu sudah merasakan hal-hal aneh di wisma 13. Sungguh mencekam malam demi malam datang ketika wisma lagi sepi. Segelumit kisah malam demi malam di wisma 13 menjadi sebuah cakrawala keyakinan ketiga pelajar itu. Barangkali jimat yang selalu dipakai Rizal membuat para jin senang mengganggunya dengan kedua orang teman.
            Lalu Rizal menghubungi keluarga yang ada di Nias dan menceritakan kejadian yang ia dan teman-temannya alami. Ia juga menyangkut pautkan kejadian-kejadian tersebut dengan jimat berkalung angka 13 yang selalu terpasang rapi di lehernya. Jimat yang ia maksud agar terhindar dari penjahat tidak selamanya berbuah manis. Akhirnya, orangtuanya yang masih minim akan pengetahuan agama segera menyuruh Rizal membuka kalung itu dari lehernya lalu dibuang ke laut belakang wisma 13 itu.
***
Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari, panggilan Hasan. Mahasiswa UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Tulisannya sudah ada yang dibukukan dalam berbagai Antologi seperti Antologi Cerpen “Pesona Odapus”, Antologi Puisi “Kejora Yang Setia Berpijar”  kedua-duanya terbitan FAM Publishing, 2012. Ia memiliki akun Fb dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.

FF: Noda Coklat Miss Icha (Hasan Asyhari)


            “Icha, kamu gak ngajar nak?” Tanya sang Ibu menghampiri kamar Miss Icha.
            “Hari ini masuk siang bu,“ balasnya sambil menyetrika setumpuk pakaiannya.
            Ia merupakan seorang guru bahasa inggris di salah satu SMP swasta di kota Padang. Miss Icha adalah anak kedua dari Ibu Yanti dan Pak Shidik yang juga berprofesi sebagai guru di SMA Negeri kota Padang. Ia baru tamat satu tahun yang lalu dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota batu malin kundang itu. Para siswa sering memanggilnya dengan sebutan Miss Icha. Padahal nama aslinya Melisa Puteri. Ia sangat akrab dengan siswanya di sekolah.
            Miss Icha siang ini berangkat ke sekolah dengan motor matic hasil kerjanya setahun yang lalu. Benda beroda dua itu selalu menjadi temannya ke manapun ia pergi. Tak ada motor tanpa gigi itu seakan-akan geraknya sedikit terhalang. Segalanya tergantung dengan motor matic itu. Maklum saja, lokasi sekolah cukup jauh jaraknya dari rumah yang ia tempati hampir dua puluh empat tahun itu. Kebetulan siang ini ia mengajar dua lokal di kelas yang berbeda. Jam menunjukkan pukul 12.50 WIB. Bergegaslah ia menuju sekolah berseragam putih biru itu.
***
            Beberapa jam kemudian, ia pun keluar dari kelas terakhir tempatnya mengajar. Ia hendak pergi ke sebuah toko kosmetik membeli bedaknya yang sudah mau habis.
            “Uni, beli bedak Marona satu uni,” pintanya dengan logat bahasa Padang kepada penjaga toko kosmetik.
            ‘’Sebentar ya dek,” jawab wanita penjaga toko kosmetik itu sambil mengambil bedak Marona di dalam etalase kaca. Dengan helaian kata mulus ia melayaninya.
            Sehabis berbelanja di toko kosmetik yang cukup terkenal itu. Ia pun pulang ke rumah. Sampai di rumah. Ia dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki tampan. Ia adalah anak teman ibunya. Rahman nama lelaki itu. Rahman sebenarnya sudah dua kali ke rumahnya. Namun, selalu bertepatan dengan waktu mengajar miss Icha. Sehingga mereka pun tak pernah mengenal.
***
            “Assalamu’alaikum...” Ucap Miss Icha sambil memegang helem motor matic yang ia pakai tadi.
            “Wa’alaikumussalam...” Bunyi suara serempak.
            “Eh, udah pulang Cha?” Sambut ayahnya yang sedang duduk dengan Ibu dan Rahman di ruang tamu.
            “Sudah Yah!” Jawabnya sambil tersenyum. Heran Icha saat itu, siapa yang duduk di samping ibunya. Kemudian Ibunya memperkenalkan miss Icha dengan Rahman. Sebentar berada di ruang tamu, ia pun menuju kamar. Tak tampak lagi dirinya lalu lalang ke luar kamar. Ia sempat berpikir, jangan-jangan orangtuanya mau menjodohkannya dengan Rahman.
            “Arrrrghhhh...tidak-tidak...Aku sudah punya kekasih hati.” Tolaknya dalam hati. Miss Icha tidak terlalu terbuka dengan orangtuanya. Ia sebenarnya sudah berpacaran dengan seorang lelaki mantan narapidana. Nicko namanya. Ia dipenjara karena menghisap ganja kering. Tentu tak akan gampang miss Icha memperkenalkan Nicko pada orangtua miss Icha.
***
            Malampun tiba. Miss Icha saat itu sedang mengetik tugas ngajarnya. Dilototinya monitor laptop di depan matanya. Tiba-tiba datang ibunya.     
            “Lagi ngapain nak?” Tanya sang Ibu.
            “Buat RPP buk. Ini mau dikumpulin terakhir besok siang.” Jawabnya dengan raut wajah panik.
            “Ya, nak. Tapi ada yang mau ibu omongin sebentar.” Ucap Ibunya.
            “Emang ada apa bu?” Tanyanya penasaran.
            “Ibu menginginkanmu cepat menikah nak!” Mohon si ibu dengan sedikit haru. Entah apa yang membuat si ibu seperti hendak menyesak miss Icha memiliki pasangan hidupnya.
            “Tapi aku masih belum punya bu.” Jawabnya dusta.
            “Ibu sudah mencarikan jodoh untukmu,” terang ibunya.
            “Siapa bu?” Tanyanya cemas.
            “Rahman, yang tadi sore ke rumah,” balas Ibunya.
            “Apa bu???” kejut Icha dan langsung keluar dari kamar. Termenung ia di teras rumah sambil menatap indahnya bulan purnama malam itu.
             “Aku bingung Tuhan! Bagaimana aku mencintai seorang yang tak pernah sama sekali menyentuh hatiku.” Ucapnya dalam hati. Ia seorang anak yang sangat patuh pada ibunya. Bagaimana juga ia akan melawan kata hatinya sendiri. Berderai sudah hati miss Icha atas sepucuk permintaan sang ibu.
***
Biodata:
Penulis bernama Hasan Asyhari. Hasan Al-Faritsi adalah nama penanya. Mahasiswa Sosiologi UNP ini lahir di kota Padangpanjang, 27 Februari 1992. Akun Fb-nya dengan nama HASHAN ASYHARII dan Email: asyhari_hasan@yahoo.com. Dan twitternya @HasanAsyhari27. Penulis beralamat di Desa Baru No.23 RT.14 Kel.Tanah Hitam, Padangpanjang, SUMBAR 27112.